“Assalamualaikum, selamat pagi!” Kumemulai menyapanya, berharap
dari dia kudapat akurasi informasi. “Ya, ada apa kanda, bisa saya
bantu” jawabnya dari seberang. “Sekedar saya mau menanyakan posisi Prof.
Ahmad, kira-kira ada di kampus hari ini?” aku to the point menjabarkan
tujuanku menelponnya, dari seberang terdengar jawabannya “Iya kanda,
bapak lagi menguji di seminar proposal mahasiswa Prodi B”. “Ok, terima
kasih atas infonya” ku tutup telpon. Beliau adalah asisten Prof. Ahmad,
saya selalu menghubunginya ketika ingin berkonsultasi dengan Prof. Ahmad
baik konsultasi tentang perkuliahan dan proposal thesisku.
Pukul 09.10, ku rapikan susunan proposal, baik yang sudah direvisi
maupun yang sudah dicoret-coreti dosen pembimbing. Berharap hari ini
lembar pengesahan bisa ditandatangani. Sebuah pengharapan terbesarku
saat ini sejak memulai menulis draft proposal bulan Desember lalu. Imaji
ku mengembara, memasuki belantara waktu, dan kutemukan aku sedang di
sidang, ya, ku ingin segera disidang, sidang seminar proposal.
Bismillahirahmanirrahim, ku ayunkan langkah menuju kampus, segala pikir
tercurah mengabdi pada harapan- harapan dan mimpi, dan lantunan zikirpun
menuju-Nya, sekiranya ada mu’jizat datang, tak perlu lagi ada tanya dan
kritikan dari pembimbing dan segera melabuhkan tandatangannya di
lembaran pengesahan itu. Pengharapan elok nan indah, serupa petani
mengharapkan kemuning padi, serupa mawar yang dinanti mekarnya, serupa
pungguk merindukan bulan.
Ikhtiar dan do’a mesti beriring, pesan itu meraja dibenakku, bermahkota
disinggasana nalarku. Tak sampai 10 menit, akhirnya aku berlabuh di
kampus dan segera menjejakkan kaki ke ruang prodi di lantai 2. Ku lirik,
ah…., professor tidak ada di ruangannya, biasanya beliau duduk sambil
membaca sesuatu. Naluri membisiki jiwaku “Tunggu saja beliau”, dan
dipersimpangan pilihan antara pulang kembali ke kos dengan tetap
menunggu, ku tetapkan hati untuk menanti.