Tampilkan postingan dengan label FANFICT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FANFICT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Aang Untuk Katara

Malam merambati waktuku, menyisir segenap ruang yang kumiliki. Rasanya ingin kulepas segala beban yang datang menderaku, bahuku yang biasa tengadah, kini menelungkup, terperangkap dalam jenuh. Telah lama kutelusuri padang-padang, sangat panjang kususuri lembah-lembah, gunung-gunung kutapaki, dan entah sudah berapa luas daratan kujejaki. Aku tak tahu apakah itu kulakukan dalam menegakkan egoku atau sekedar menguraikan rumus-rumus yang kupelajari di pedepokan. Bukan rumus seperti yang ada di sekolah-sekolah, tapi rumus menjatuhkan lawan dalam beladiri, jurus-jurus sakti.

Telah kukelilingi bumi, segala persada, entah sudah berapa ngarai dan negeri telah kulewati. Tak jua kutemui yang namanya pesona. Raut-raut muka yang kuhadapi dipenuhi garis-garis lengkung, tak ada garis lurus. Tongkat saktiku terlalu angkuh menurutku, kadang nuraniku tidak sejalan dengan sepakan dan tebasanku mengalahkan lawan. Tinju dan ilmu pengendali anginku lebih sering meraja dibanding akalku, apalagi jiwa dan rasa kemanusiaanku. Yang aku tahu, aku hanya ingin menjadi yang terkuat, ingin menguasi semua unsur kanuragan.

Minggu, 14 April 2013

Offside

Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur sekarang memperkuat  PERSSIN Sinjai, klub devisi utama PSSI, klub kota kelahiran saya, Kabupaten Sinjai. Saya beberapa kali bertemu dengan pemain TIMNAS ini, karena seringnya, kami bersahabat baik. Kami sering berbagi cerita, bahkan karena seringnya kami saling share, ternyata aku baru tahu bahwa Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur alumni La Mesia, sekolah sepak bola milik Barcelona FC, dan mereka pernah main bola sama skuad Barcelona sekarang. Messi, Pedro, Pique, Fabregas, dan Iniesta pernah menjadi teman bermainnya. Saya ingin berbagi rahasia kehidupan mereka yang tak pernah terungkap oleh media bahkan hanya saya yang tahu cerita mereka.

Mereke berdua bertemu ketika sama-sama memperkuat PSSI Timnas U-13, tahun 1999 lalu. Penampilan apiknya saat mengalahkan TIMNAS Spanyol U-13 di final piala dunia U-13 dengan skor 3-1, membuat pelatih junior Spanyol kepincut untuk mengembangkan bakatnya. Setelah pertandingan yang sangat bersejarah itu, mereka tidak kembali ke tanah air, malah keduanya ikut rombongan tim Spanyol. Di skuad muda Spanyol saat itu sudah ada pedro, fabregas dan peque. Karena Fabregas punya garis keturunan Bugis-Makassar, neneknya berasal dari salah satu kota di Sulawesi Selatan, Fabregas sedikit tahu bahasa nenek moyang, bahasa bugis, sehingga bisa klop bahasa dengan Zulkifli Syukur yang juga orang bugis, mereka akrab dalam perjalanan ke Spanyol.

Saat tiba di Spanyol, mereka diberikan pilihan untuk memilih klub apa yang ingin mereka masuki. Keduanya memilih La Masia di kota Katalunya. Di La Masia-lah mereka memperkuat kualitas permainannya, mereka dilatih oleh Pep Guardiola. Berlatih bersama dengan  Messi, Fabregas, Pedro, Iniesta dan Pique yang kini telah punya nama besar. Selama 6 tahun menimba ilmu, 2005 mereka baru meninggalkan La Masia.
Saat saya tanya kenapa tidak bertahan di La Masia, padahal ketika sukses di La Masia, peluang untuk masuk tim senior Barcelona FC sangat besar? Mereka cuma menjawab sambil sumringah, “Saya tidak bisa masuk skuad utama junior gara-gara saya pernah melakukan tekel keras kepada Messi bahkan Pedro pernah cidera parah gara-gara saya,he…”  jawab Zulkifli Syukur sambil tertawa.

“Saya beda kawan, saya tidak pernah melakukan kekasaran di lapangan, bahkan saya selalu menjadi midfielder utama. Yang membuatku harus angkat kaki dari La Masia karena anak Pep Guardiola saya kencani, bukan hanya itu, adik Carlos Puyol ingin segera saya nikahi, daripada berbuat masalah, mending saya kembali ke tanah air” tegas Ahmad Bustomi, saya melirik Zulkifli Syukur, ada anggukan mengiyakan, memastikan bahwa perkataan Bustomi bukan rekaan.

Dalam hatiku berkata “Payah memang kalian, peluang menjadi pemain besar kalian sia-siakan karena tidak mampu mengontrol emosi dan syahwat”. Sekarang kalian semua tahu rahasia terbesar Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur, kalau nanti ada berita besar menyangkut keduanya, berarti itu saya yang membocorkannya. Tak perlu kuatir, karena saya seorang pengacara sekaligus Kepala Daerah, saya adalah Bupati Kabupaten Sinjai.
**************
Note: Cerita di atas sekedar hayalan dan hasil imaji penulis saja, kuletakkan maaf yang sebenar-benarnya jikalau ada yang tidak berkenan fiksi di atas, salam damai selalu!

Dari Binjai ke Sinjai Ada Cinta

Alhamdulillah, hari ini sukses menuntaskan proposal, pak Dr. Andre Taulani, M.Pd sudah melabuhkan tandatangan di lembar pengesahan proposalku, berarti saya hanya butuh tandatangan pak Prof. Dr. Tantowi Yahya, M.Pd, untuk bisa seminar proposal. Mesti bersabar, karena saya dapat info kalau pak Tantowi sedang sibuk di luar kota bahkan ada kabar bahwa hari kamis nanti, beliau di kota Binjai. Hari yang damai.  Sedamai adzan dhuhur yang mengalun syahdu.

Baru saja aku menikmati makan siang di warung prasmanan dekat kampus, tiba-tiba HP-ku berdering. Kulihat nama pemanggilnya, KETUM PB XXX, segera kuangkat. “Waalaikumussalam, ada apa mas?” seketika kujawab salamnya, “Mas Firman, pengurus PB memberikan mandat ke mas Firman sebagai pemateri Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan di Binjai, Kamis nanti. Jangan ada kata tidak bisa, sami’na wa ata’na!” Tegas Ketua. Kalau sudah begini, tidak ada laku dan pikir lagi selain berkata “Insya Allah siap mas”. Aku mengiyakan berarti saya harus segera ke Jakarta. Kuputuskan berangkat setelah shalat sore. Sesama pengurus PB, hanya saya yang berlatarbelakang evaluasi pendidikan, mungkin faktor ini teman-teman di PB memberikan mandat sebagai wakil PB di seminar itu. Terlintas dibenakku “Pak Tantowi hari kamis nanti juga di Binjai, momen yang tepat untuk minta tandatangannya sekaligus konsultasi lebih dalam lagi sekiranya bertemu”, sebuah sugesti positif.

Saat tiba di sekret PB, aku langsung melakukan verifikasi informasi. Ternyata betul, Seminar Nasional nanti saya satu forum dengan pak Tantowi. Subhanallah, saya tidak mengira ini akan terjadi. Aku mencubit paha kananku, ternyata tidak sakit, berarti ini bukan mimpi. Kupandangi kembali undangan itu, disana ada nama yang selalu menghiasi “Ruang Imaji”-ku, Oki Setiana Dewi (OSD) jadi pembicara tamu. Segera aku sujud syukur, tidak lama lagi aku bersua dengan bidadari mimpiku. Terima kasih Tuhan!

Black Story Ujian Nasional

Sesuai dengan kalender pendidikan di negeri ini, tanggal 15 April hingga 18 April 2013 akan dilaksanakan Ujian Nasional (UN) untuk SMA dan sederajat. Hiruk pikuk pra UN begitu terasa, ada siswa yang adakan do’a bersama, syukuran, ada yang ke panti anak yatim, bahkan yang parah pun ada, ke dukun minta wangsit. Siswa yang biasa-biasa saja, siswa yang berprestasi, hingga siswa yang berstatus selebriti pun berwara-wiri dalam dunia ketidakpastian. Begitupun yang dialami dua artis muda, Nikita Willy dan Tasya. Sore ini, mereka diliputi kegundahan tingkat dewa.

“Sya, gimana kabarmu?” Nikita menelpon via BB, sahabatnya sesama artis, Tasya. Persahabatan mereka begitu dekat, selain karena predikat artis yang disandangnya, sejak kecil mereka berkawan. Mereka saling support dalam segala hal, walau Tasya lebih dulu mengorbit di alam keartisan, tapi hubungan mereka hingga sekarang masih akrab. Mereka asyik curhat tentang UN, bahkan kadang sedih lahir dari percakapan via BB itu. “Sya, gimana kalau kita ke rumah Eyang Loe” Ide Niki diiyakan oleh Tasya, mereka bersepakat malam ini tidak pergi bermalam minggu dengan pacar masing-masing, keduanya memilih datang mengikuti pengajian Eyang Subur, Kakek Tasya. Sekitar jam 8 malam, keduanya sudah ada di pedepokan Eyang Subur.

Pedepokan Eyang Subur dari luar biasa-biasa saja, tapi dalamnya, sangat luar biasa. Bukan faktor ornamen atau dekorasi, bukan pula fasilitas dan desain interiornya, tapi yang membuat luar biasa karena orang-orang yang duduk bersila di ruangan itu,bukan orang biasa, tapi orang yang punya nama besar. Banyak artis dan bebeapa orang pejabat yang ikut dalam pengajian malam itu, pantas saja Nikita kewalahan waktu mau parkir mobil.

Sabtu, 13 April 2013

Detektif Luna

Kasus Raffi Ahmad  (RA) yang berlarut-larut, belum menemukan titik terang. Pertarungan sengit antara BNN dengan tim pengacara RA memasuki medan perang yang lebih kompleks. Ibarat pertandingan tinju, babakannya sudah melewati babak 10, menegangkan. Langit Queen (LQ), ibu RA semakin galau melihat perkembangan anaknya. Bersama Desy Riani (DR), mencoba menyelidiki kasus anaknya tanpa melibatkan pihak polisi dan BNN. Mereka ingin menyewa detektif swasta.

“DR, kasihan RA, sudah berbulan kasusnya belum tuntas. Gimana kalau kita usut sendiri?” Tanya LQ kepada adik sepupunya. “Bagus itu mbak, kita akan buktikan bahwa RA tidak ngeganja, tapi masa kita sendiri yang selidik mbak, kan kita tidak punya ilmu detektif mbak”  kalimat persetujuan meluncur indah dari bibir ranum DR. “Ha…, jelas bukan kita DR, kita cari detektif swasta, nanti kita bayar, seperti cerita-cerita di film lah.” Mereka pun bersepakat menyewa detektif swasta dan segera mereka mencari detektif yang bisa mereka pekerjakan, dan tentunya, mencari detektif yang punya prestasi.

Setelah masa transisi pencarian, atas saran dari Timur Pradopo(TP), teman sekaligus selingkuhan ibu RA yang seorang perwira polisi di Mabes POLRI, dipilihlah detektif yang punya nama besar di Jakarta, seorang wanita cantik yang juga mantan pejabat tinggi di POLRI, Luna Maya. Mereka pun berdua menemui Detektif Luna(DL), meminta kesediaannya menyelidiki keberadaan ganja di rumah RA. DL sangat ramah menyambutnya, diskusi pun berjalan lancar, dan DL bersedia membantu menyelesaikan kasus RA.

Para Ninja Ngebelet Fan Fict

Seperti biasa di perkampungan Konoha, sehabis latihan sore, para ninja chunin dan ninja lainnya beristrahat. Ada yang yang baca buku seperti kakashi atau sekedar latihan melempar pisau, atau asyik antri di depan toilet. Di Konoha, saat itu hanya punya empat toilet, ratusan ninja kalau mau mandi, mesti antri, tidak jauh beda dengan supoter timnas yang mau beli tiket TIMNAS vs AC Milan Glory. Mungkin APBN Konaha pada saat itu lagi miskin karena diserang oleh gank Akatsuki, pemasukan dari pajak parkiran dan penyewaan ninja untuk melindungi tanah kawasan konflik tidak ada, jadi pembangunan toilet tidak menjadi prioritas utama pada masa itu. Apalagi konflik internal di Konoha, mengharuskan hokage pada saat itu melakukan rekonsiliasi dan mengharuskan para ninja menandatangani pakta integritas.

Naruto termasuk dalam antrian itu, dengan jiwa tidaksabarnya, memaki-maki segala ninja yang juga antri. “Saya ini calon hokage,kalian mesti hormat padaku, kalau tidak, kebobrokan kalian aku buka selembar demi selembar”. Suara besarnya beserta ancamannya terhenti kala melihat Sasuke. “Kapan kau datang sodara, lama tak jumpa”. Sasuke hanya diam saja.

(enam jam yang lalu) Sakura berhasil membawa pulang sasuke, setelah pertarungan yang sangat melelahkan. Sebenarnya Sasuke bisa mengalahkan Sakura, hanya karena cinta yang masih terpendam di hatinya, dia tidak rela kekasihnya akan menderita. Tak ada pemenang saat itu, akhirnya Sasuke dan Sakura main hom-pim-pa, dan Sakuralah pemenangnya, dan sasuke merelakan dirinya ke Konoha.

“Anjing kudel,kamu bisu ya? ayo kita bertarung” tantang naruto kepada sasuke. “Maaf bro, saya haus, tadi saya singgah di warung, tidak ada teh gelas dan pepsi, hanya ramen dan air gelas doang” jawab sasuke penuh damai. “Alasan kau, ayo kita bertarung, cukup 2 jurus saja, kalau aku kena pukulanmu, aku kalah,gimana mas bro?”keberanian naruto begitu membara seperti kasus Simulator SIM yang terus memanas, membakar beberapa jendral yang ada di POLRI. Sasuke menerima tantangan, perkelahian tak terelakkan, sudah lebih 2 jurus, tak ada satupun yang masuk pukulannya. Tiba-tiba datang Kakashi melerai “berhenti, kalian itu seperti BNN dan pengacara Raffi Ahmad saja. Lebih baik kalian ikut Fanfict di kompasiana. Nanti saya ajar caranya”. Akhirnya pertarungan itu berhenti, naruto dan sasuke mengikuti pesan gurunya.

Sepanjang malam di Konoha hanya sepi yang menyelimuti, tak ada hiruk pikuk para ninja, tak ada bunyi senjata yang beradu. Di kelas ninja, Kakashi didaulat oleh hokage beserta ninja senior untuk mengajar fan fiksi. “Seorang ninja yang hebat, tidak hanya sekedar ahli memainkan senjata, terampil dalam jurusan kanuragan, jenius dalam strategi, tapi ninja harus juga cerdas memainkan kata. Kata adalah salah satu senjataku. Kalian harus camkan itu!” Kakashi penuh retorik membuka pertemuan itu.

“Bersyukurlah, karena Kompasiana menyelenggarakan even FanFict, setidaknya itu bisa jadi ajang aktualisasi diri kalian. FanFict itu sederhana, cukup menetapkan satu tokoh, entah selebriti, kawan-kawan kartun kita yang lain, politisi, bahkan kalau perlu Kage-kage dari negeri lain bisa kamu jadikan subjek ceritamu. Sederhanakan?”
“Sekarang kalian bisa memulai, nanti saya periksa satu-satu, satu jam kemudian saya kembali ke kelas. Ninja yang baik adalah ninja yang patuh pada gurunya” Kakashi segera berlalu dari kelas itu, dari dalam hati “waktunya baca novel Tere Liye “Ayahku (Bukan) Pembohong”". Tadi pagi, Kakashi dapat kiriman novel dari sahabatnya dari Indonesia, Jaka Sembung.

Kini, para ninju sibuk membuat fanfict seperti para kompasianer yang lagi galau menemukan ide tulisan.

Rabu, 03 April 2013

Angan-angan Senja

Senja datang menjelang, menjadi garis pemisah sore dan malam. Indah memang, tapi nuansa itu tak menyisakan berkas di hati. Siluet jingga itu memburam dalam nanar netraku. Tak kutemukan indah. Rasa ini sudah bertahun-tahun meraja dalam singgasana hatiku. Pedih melepaskannya. Dian Sastro telah berlalu dariku, jalinan cerita yang pernah kami rangkai,putus. Berderai. Berserakan tak menyisakan sebutir zarrah kedamaian. Kepergian Dian Sastro telah memasung jiwaku, memenjarakanku dalam bui nestapa. Ah...., pahit.

Masa depan serupa permata, cahaya berkilau merasuki angan-anganku. Pendarnya pun kemilau dan silaukan hidupku. Sadar akan kehilangannya, memberiku cemeti. mencambukku untuk membangun kembali puing-puing harapan. Aku kembali tegak, serupa Monas yang akan jadi saksi ikrar Anas Urbaningrum. Bawahnya kokoh, atasnya cemerlang bak emas pelambang cinta yang murni.

Aku gempita, ibarat adzan maghrib yang akan segera melantun, merasuki nala-nalar sadar para insani,syahdu. Aku diperhadapkan dalam sebuah pilihan yang berat dan aku pun terjebak. Oki Setiana Dewi atau Fatin Shidqia telah menjadi pelipur laraku. Aku berat memilih, karena kedua bunga ini telah bermahkota di taman hatiku