Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2015

Syukur Cinta



Di subuh yang hening....
“Dik, boleh aku bicara denganmu sebentar?” tanyaku pada adik sepupuku sehabis shalat subuh berjamaah. Dia mengiyakan, aku mengajaknya ke teras rumah yang baru sebulan lebih selesai dibuat. Sambil berlalu dari ruang kecil yang dijadikan mushallah di dekat ruang keluarga, aku melihat ibu berjalan ke dapur dan ayah masih asyik membaca al-qur’an.
“Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Bukan tentangku, tapi tentangmu” prologku sambil membuka pintu rumah.
“Sesuatu yang serius ya kak, tumben subuh begini mau bicara denganku. Biasanya kakak kan tidur setelah shalat subuh.” Balasnya sambil memperbaiki letak mukenanya.
“Iya, kali ini bukan tentang kuliahmu. Bukan perihal organisasi yang kau geluti, bukan tentang aktivitasmu di Makassar, bukan pula tentang filsafat dan sastra yang sering kita diskusikan. Sesuatu yang penting mengenaimu. Ini tentangmu” tegasku. Kupandangi wajahnya masih diliputi tanya, tapi guratan kecantikannya tak menghilang. Dua lesung pipinya masih tersenyum ceria. Ia mengambil kursi kayu kemudian duduk di depanku.

Rabu, 03 April 2013

Dunia Ini Sederhana

“Daeng, coto 2 mangkok, daging semua!” pesan Awal kepada pelayan di warung Coto Alauddin. Awal mencari tempat yang tepat untuk menikmati masakan khas Makassar itu. Bersama adiknya, Accang, menjadikan coto sebagai menu makan malam. Meja di sudut ruang warung itu menjadi posisi yang tepat, selain bisa menikmati coto, sekaligus bisa melihat live LSI, PERSISAM vs PERSIPURA. “Saya yang duduk disitu, mau ka nonton ki klub andalanku, PERSIPURA” ucap Accang dengan logat Bugis Makassarnya yang kental, berharap kakaknya bersedia pindah ke kursi yang lain, karena tempat duduknya membelakangi TV 24′ yang ada di warung itu.”Ah…, disitu saja kamu duduk” ketus Awal sambil memeriksa ketupat-ketupat yang akan disantapnya sebentar.
Tak lama berselang, 2 mangkok coto terhidang mesra dihadapan kakak adik tersebut. “Daeng, tambah bawang goreng dan daun bawangnya” sahut Awal kepada pelayan yang menyajikan menu coto tadi. Pelayan hanya mengangguk mengiyakan. Awal menikmati makanan kesukaannya ini,hingga merasa perlu menambah kuah yang sangat lezat itu. 5 buah ketupat menjadi saksi kebuasannya melahap coto. Berbeda dengan Accang, 2 ketupat dan tanpa menambah kuah melengkapi kepuasannya malam ini. Babak I PERSISAM vs PERSIPURA berakhir 0-0. Mereka pun segera berlalu, tapi sebelumnya Awal mengirim sms ke sepupunya agar datang ke kos main domino.