Rabu, 24 Juli 2013

Pada Pagi yang Akan Tiba

Detik kulalui  dalam gelisah membisu
Malam berlalu pernah membungkus kaku
Diriku bersama keheningan yang memaku
Merajam jasad dan jiwa yang terkulai terpukau

Tak perlu lagi mencipta sesal
Biarkan melayang jiwa-jiwa yang kesal
Usah hiraukan kata-kata manusia bebal
Pilih keteguhan imani yang kekal

Kini pagi datang menyapa
Tumpah ruah tercipta segala asa
Susul segala janji biar mengada
Wujudkan mimpi tadi malam dan kemarin lusa

Pada pagi yang akan tiba
Sambut dengan gembira dan senyum ceria
Segenap aksara satukan jadi cerita
Tentang suka duka, pun benci dan cinta

Pada pagi yang akan tiba
Kutitipkan pesan tentang rasa
Tentang rindu untukmu yang masih ada

Antara Rumi, Laila Majnun, & Soe Hok Gie

Entah bagaimana memulainya, sepertinya aku melarut pelan dalam syair-syair cinta para pecinta. Semesta syair cinta Jalaluddin Rumi melingkupi segenap dimensiku. Tak tahu kemana mesti aku bersembunyi dari indahnya, elok nian jalinan aksara yang dibina. Cela dan celah mungkin saja ada, tapi tak kunjung bisa aku temui, sekali lagi aku silau dengan pesona syairnya.

Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”

Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?
(Rumi)
Semakin tegas aku mencari makna, semakin ketiadaan yang aku temukan.

“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan, Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi.

Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya. (Rumi)

Bukan Sekedar Memuji

Tak tahu apalagi yang mesti kuucap
Semua rasaku telah tersingkap
Pun puji ramai terungkap
Rindu kian mendekap

Pada kata yang kau tata
Terlena aku dalam makna yang tercipta
Seperti pengelana, aksaramu serupa pelita
Menerangi ruang dan jalanku dari gelap gulita

Dari tanganmu sudah banyak karya
Lahir dengan cinta dan segala daya
Beda dengan diriku yang hanya bisa memuji
Mengais makna dari puisimu yang telah teruji

Bukan sekedar memuji
Pada rangkaian kata dan diksi
Pujiku berangkat dari hati
Bermahkota tulus dan suci

Kamis, 11 Juli 2013

Al-Fatihah

Ku sebut nama-Mu
Sudah tentu kulantunkan syahdu
Ar-Rahman telah menyatu dengan kalbu
Ar-Rahim bersama laku telah berpadu
Asma-Mu akan kusebut selalu

Wahai raja diraja
Segala puji telah bergema
Puja pun mengalir bersemesta
Semua menuju-Mu tanpa cela
Bukti hamba-Mu masih dipenuhi cinta

Wahai Sang Pemilik cinta kasih
Bukti cinta tak cukup syahadah
Harus teguh hati dalam langkah
Segala laku mesti menjadi tasbih
Bukti diri sebagai hamba yang patuh

Wahai Penguasa hari pembalasan
Tiada celah untuk kebohongan
Sama’ dan Bashar-Mu melingkupi segala cipta-Mu
Tak ada laku yang luput dari awas-Mu

Selain-Mu tak ada yang pantas disembah
Kami hanyalah hamba penuh dosa dan resah
Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
Mengharapkan ridho, rahmat dan ampunan

Tunjukilah kami jalan yang lurus
Jalan orang yang Engkau beri nikmat
Jalan pengharapan pemilik jiwa yang tulus ikhlas
Bukan jalan yang Engkau Murkai dan sesat

Zahir Makkaraka (FAM1610M Makassar)