Kamis, 22 Desember 2016

Paduan Harapan


Bahagia ini masih menghijau
Subur tumbuh tak sisakan ragu 
Di padang yang baru kita pagu 
Kita, tentang cinta tak temui gagu 

Berbilang hari kita telah berdua 
Hanya saja kini kita tak bersua 
Jarak membentang pisahi raga 
Namun cinta kasih kuat terjaga 

Pengharapan semasing diri menyatu 
Asaku dan asamu bersuasa padu 
Cita dan hasrat diantara kita bertalu 
Seperti tak temukan antara di ruang waktu 

Kini yang tersisa adalah tawakkal 
Serahkan pada Tuhan segala ikhtiar 
Harapan terbesar kasih abadi dan kekal 
Selanjutnya kita akan menjadi insan penyabar

Rabu, 02 Desember 2015

Syukur Cinta



Di subuh yang hening....
“Dik, boleh aku bicara denganmu sebentar?” tanyaku pada adik sepupuku sehabis shalat subuh berjamaah. Dia mengiyakan, aku mengajaknya ke teras rumah yang baru sebulan lebih selesai dibuat. Sambil berlalu dari ruang kecil yang dijadikan mushallah di dekat ruang keluarga, aku melihat ibu berjalan ke dapur dan ayah masih asyik membaca al-qur’an.
“Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Bukan tentangku, tapi tentangmu” prologku sambil membuka pintu rumah.
“Sesuatu yang serius ya kak, tumben subuh begini mau bicara denganku. Biasanya kakak kan tidur setelah shalat subuh.” Balasnya sambil memperbaiki letak mukenanya.
“Iya, kali ini bukan tentang kuliahmu. Bukan perihal organisasi yang kau geluti, bukan tentang aktivitasmu di Makassar, bukan pula tentang filsafat dan sastra yang sering kita diskusikan. Sesuatu yang penting mengenaimu. Ini tentangmu” tegasku. Kupandangi wajahnya masih diliputi tanya, tapi guratan kecantikannya tak menghilang. Dua lesung pipinya masih tersenyum ceria. Ia mengambil kursi kayu kemudian duduk di depanku.

Rabu, 24 Juli 2013

Pada Pagi yang Akan Tiba

Detik kulalui  dalam gelisah membisu
Malam berlalu pernah membungkus kaku
Diriku bersama keheningan yang memaku
Merajam jasad dan jiwa yang terkulai terpukau

Tak perlu lagi mencipta sesal
Biarkan melayang jiwa-jiwa yang kesal
Usah hiraukan kata-kata manusia bebal
Pilih keteguhan imani yang kekal

Kini pagi datang menyapa
Tumpah ruah tercipta segala asa
Susul segala janji biar mengada
Wujudkan mimpi tadi malam dan kemarin lusa

Pada pagi yang akan tiba
Sambut dengan gembira dan senyum ceria
Segenap aksara satukan jadi cerita
Tentang suka duka, pun benci dan cinta

Pada pagi yang akan tiba
Kutitipkan pesan tentang rasa
Tentang rindu untukmu yang masih ada

Antara Rumi, Laila Majnun, & Soe Hok Gie

Entah bagaimana memulainya, sepertinya aku melarut pelan dalam syair-syair cinta para pecinta. Semesta syair cinta Jalaluddin Rumi melingkupi segenap dimensiku. Tak tahu kemana mesti aku bersembunyi dari indahnya, elok nian jalinan aksara yang dibina. Cela dan celah mungkin saja ada, tapi tak kunjung bisa aku temui, sekali lagi aku silau dengan pesona syairnya.

Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”

Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?
(Rumi)
Semakin tegas aku mencari makna, semakin ketiadaan yang aku temukan.

“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan, Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi.

Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya. (Rumi)

Bukan Sekedar Memuji

Tak tahu apalagi yang mesti kuucap
Semua rasaku telah tersingkap
Pun puji ramai terungkap
Rindu kian mendekap

Pada kata yang kau tata
Terlena aku dalam makna yang tercipta
Seperti pengelana, aksaramu serupa pelita
Menerangi ruang dan jalanku dari gelap gulita

Dari tanganmu sudah banyak karya
Lahir dengan cinta dan segala daya
Beda dengan diriku yang hanya bisa memuji
Mengais makna dari puisimu yang telah teruji

Bukan sekedar memuji
Pada rangkaian kata dan diksi
Pujiku berangkat dari hati
Bermahkota tulus dan suci

Kamis, 11 Juli 2013

Al-Fatihah

Ku sebut nama-Mu
Sudah tentu kulantunkan syahdu
Ar-Rahman telah menyatu dengan kalbu
Ar-Rahim bersama laku telah berpadu
Asma-Mu akan kusebut selalu

Wahai raja diraja
Segala puji telah bergema
Puja pun mengalir bersemesta
Semua menuju-Mu tanpa cela
Bukti hamba-Mu masih dipenuhi cinta

Wahai Sang Pemilik cinta kasih
Bukti cinta tak cukup syahadah
Harus teguh hati dalam langkah
Segala laku mesti menjadi tasbih
Bukti diri sebagai hamba yang patuh

Wahai Penguasa hari pembalasan
Tiada celah untuk kebohongan
Sama’ dan Bashar-Mu melingkupi segala cipta-Mu
Tak ada laku yang luput dari awas-Mu

Selain-Mu tak ada yang pantas disembah
Kami hanyalah hamba penuh dosa dan resah
Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
Mengharapkan ridho, rahmat dan ampunan

Tunjukilah kami jalan yang lurus
Jalan orang yang Engkau beri nikmat
Jalan pengharapan pemilik jiwa yang tulus ikhlas
Bukan jalan yang Engkau Murkai dan sesat

Zahir Makkaraka (FAM1610M Makassar)

Sabtu, 15 Juni 2013

Manfaat Demo Anarkis

13712309871190231339 

Aksi demonstrasi menolak kenaikan BBM terjadi dimana-mana, terkhusus di Makassar, dalam skala besar sudah dimulai sejak senin lalu (10/05). Hingga sekarang, aksi penolakan itu semakin terpolarisasi. Hampir setiap kampus di Makassar ikut “Meramaikan” aksi demonstrasi ini. Aksi pelemparan batu oleh mahasiswa kepada aparat hingga mahasiswa vs warga menjadi warna yang begitu kontras dibanding aksi damai atau sekedar orasi.

Hari ini bisa dikatakan lebih massif, kalau sebelumnya hanya jalan Alauddin yang macet, sekarang macet telah menjalari jalan-jalan protokol yang lain, seperti jalan AP Pettarani dan Urip Sumiharjo. UNM (bukan UNeM,he.. ) tentu bisa disebut penguasa jalan AP Pettarani, sejak pagi hingga malam ini masih berlanjut. Pagi hanya ada orasi dan bakar ban, pasca jum’atan, jauh lebih berkembang. Bukan lagi asap menghiasi jalan, tapi bebatuan telah jadi bahan akustik aksi. Demo simpatik telah berubah jadi anarkis (bukan anarkisme ya, karena anarkis dan anarkisme sesuatu yang nyata perbedaannya).

Mengenai demo anarkis, banyak yang menyebut itu sangat tidak manfaat, karena akan menghambat arus transportasi/mobilisasi warga, aktifitas warga akan terganggu, merusak infrastruktur, dan lain-lain. Sekedar membangun opini yang berimbang (padahal tulisan ini sekedar “menjahili” konsepsi umum,he… ) bahwa demo anarkis punya manfaat, tidak semata-mata membawa kerugian. Mau tahu manfaatnya?