Di subuh yang hening....
“Dik,
boleh aku bicara denganmu sebentar?” tanyaku pada adik sepupuku sehabis shalat
subuh berjamaah. Dia mengiyakan, aku mengajaknya ke teras rumah yang baru
sebulan lebih selesai dibuat. Sambil berlalu dari ruang kecil yang dijadikan
mushallah di dekat ruang keluarga, aku melihat ibu berjalan ke dapur dan ayah
masih asyik membaca al-qur’an.
“Ada
hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Bukan tentangku, tapi tentangmu”
prologku sambil membuka pintu rumah.
“Sesuatu
yang serius ya kak, tumben subuh begini mau bicara denganku. Biasanya kakak kan
tidur setelah shalat subuh.” Balasnya sambil memperbaiki letak mukenanya.
“Iya,
kali ini bukan tentang kuliahmu. Bukan perihal organisasi yang kau geluti,
bukan tentang aktivitasmu di Makassar, bukan pula tentang filsafat dan sastra
yang sering kita diskusikan. Sesuatu yang penting mengenaimu. Ini tentangmu”
tegasku. Kupandangi wajahnya masih diliputi tanya, tapi guratan kecantikannya
tak menghilang. Dua lesung pipinya masih tersenyum ceria. Ia mengambil kursi
kayu kemudian duduk di depanku.
“Kau
masih kenal Ahmad kan? Teman waktu S1 ku yang tinggal di kota.” Tanyaku sekedar
ingin mengetahui kemampuan ingatannya.
“Jelaslah
saya kenal kak, bukankah waktu menikah kak Alif tahun lalu dia datang. Ada apa
dengan kak Ahmad kak? Sakit? Atau sudah mau menikah?” jawabnya dengan jelas.
Ternyata dia masih mengingatnya. Tahun lalu kakak aku, Alif, menikah dan Ahmad
saya undang menghadiri resepsi walimahnya.
“Ahmad
tidak sakit, Nisa...!” aku menyebut nama adikku, Nisa Salsabilah.
“Ahmad
mau menikah dan dia menjatuhkan wanita pilihannya padamu. Tadi malam saya
ketemu dia, kamu menjadi pilihannya dan sesampainya aku di rumah tadi malam,
dia menghubungiku lagi. Dan sekali lagi, ia memintaku untuk menjadi perantara
kau dengan dia.” Aku menjelaskan padanya arah pembicaraanku.
“Kenapa
mesti saya yang dipilih? Skripsiku belum selesai, pun saya sendiri punya sikap
dan pilihan dalam menetapkan calon pendampingku. Kakak mengiyakan dan
menyetujui hajat kak Ahmad itu?”
“Saya
tidak mengiyakan ataupun menolaknya langsung, saya bicara seperti ini karena
ingin mengetahui sikapmu. Menerima ataukah menolaknya. Saya memposisikan diri
sebagai kakak terhadapmu, dan aku cukup demokratis untuk memberitahumu, tidak
memberitahu ayah ibu langsung.....” Aku menghentikan kalimatku, kupandangi
dirinya yang lagi menundukkan wajah.
“Nisa...
menurutku Ahmad itu sosok yang tepat bagimu. Sekarang dia sudah jadi PNS di
Dinas PU kabupaten, pun agama dan keluarganya cukup baik. Bahkan ayah sangat
kenal ayahnya karena sama-sama berangkat haji 7 tahun lalu. Aku rasa kalian
akan sempurna menjalin hubungan nanti.” Terangku padanya dan dia masih larut
dalam ketundukan wajahnya. Entah kesedihan atau kebahagiaankah yang dirasa. Aku
tak tahu. Aku pun diam.
Hening.....
“Kak...
mungkin saatnya aku jujur padamu. Lelah aku berlama-lama menanggung beban ini.”
Ucapnya memecah keheningan. Raut mukanya kupandang, bukan lagi tanya yang
meraja disana. Ada air bening dipipinya, matanya berkaca-kaca memandangku. Aku
hanya mengangguk mengiyakan.
“Sejak
aku berumur 6 tahun, aku mengenal kakak. Dan berarti sudah 17 tahun kita
mengarungi hidup sebagai kakak adik. Itu
bagi kakak, tapi bagi saya tidak. Aku akui kak, sejak aku kelas 2 SMA, 7 tahun yang lalu, kak Arif tidak lagi
sekedar kakak bagiku. Bukan lagi perasaan sayang adik kepada kakak yang
bersamayam didadaku, tapi sesuatu yang lain. Bukan lagi rindu adik kepada
kakaknya yang rasakan, tapi rindu seorang perempuan terhadap lelakinya.
Bertahun-tahun aku pendam, daripada aku melarat dalam kehampaan, lebih baik aku
nista dalam kejujuran.” Kata-katanya yang meluncur terbata dari celah bibir
manisnya membuatku renta dalam keterkejutan. Tersentak aku dan aku kini berada
dalam pusaran kecamuk batin.
“Hahaha...
kau ada-ada saja, Nis.” Sergahku sekaligus mencoba melawan kefanaan.
“Kita
memang kakak adik, kak. Tapi bukan saudara kandung, kita hanya sepupu dan aku
merasa bahwa apa yang aku rasakan kini sama dengan apa yang kakak rasakan. Iya
kan? Aku memang sudah menganggap orang tua kakak seperti orang tuaku sendiri
yang hanya masa balita sempat aku melihatnya. Kak..., kita hanya sepupu dan
tidak ada larangan dalam agama dan adat bugis. Aku sepakat dengan filosofi
kakak bahwa bukan cinta yang melahirkan kebersamaan, tapi kebersamaanlah yang
melahirkan cinta. Seperti yang aku rasakan kini, sebelumnya, dan nanti.
Kebersamaan kita yang berbilang tahun menumbuhkan rasa cintaku kepada kakak,
bukan sebagai adik, tapi sebagai perempuan.” Runtuh sudah logikaku mendengar
curahan hatinya.
“Rasa
cintamu itu hanya bentuk syukurmu atau sekedar terima kasihmu sebagai adik dan
balasan karena orang tuaku telah menganggapmu anaknya. Iya kan?”
“Aku
tak sepicik itu kak, bukankah kakak telah mengajarkan filsafat cinta? bahwa
cinta itu aktif seperti yang dikatakan Erich
Form atau Mary Lutyens bahwa
cinta harus faktual, bukan sentimental. Cinta itu seperti air menurut Hazrat Inayah Khan. Bahkan bila cintaku padamu sekedar rasa
syukur. Biarlah, bukankah kita memang mesti bersyukur. Nikmat Tuhan apalagi
yang kita dustakan. Lupakan kak Ahmad, aku memilihmu!” air matanya meluruh.
****
Di subuh hening yang lain...
“Terima
kasih telah memilihku!” kataku sambil membangunkan dari sujud syukurnya sehabis
shalat subuh. Kukecup keningnya dan kupeluk hangat nikmat Tuhan yang tak
terhingga.
“Aku
kan Nisa kak, akulah perempuanmu!” pelukannya semakin erat pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar