Rabu, 02 Desember 2015

Syukur Cinta



Di subuh yang hening....
“Dik, boleh aku bicara denganmu sebentar?” tanyaku pada adik sepupuku sehabis shalat subuh berjamaah. Dia mengiyakan, aku mengajaknya ke teras rumah yang baru sebulan lebih selesai dibuat. Sambil berlalu dari ruang kecil yang dijadikan mushallah di dekat ruang keluarga, aku melihat ibu berjalan ke dapur dan ayah masih asyik membaca al-qur’an.
“Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Bukan tentangku, tapi tentangmu” prologku sambil membuka pintu rumah.
“Sesuatu yang serius ya kak, tumben subuh begini mau bicara denganku. Biasanya kakak kan tidur setelah shalat subuh.” Balasnya sambil memperbaiki letak mukenanya.
“Iya, kali ini bukan tentang kuliahmu. Bukan perihal organisasi yang kau geluti, bukan tentang aktivitasmu di Makassar, bukan pula tentang filsafat dan sastra yang sering kita diskusikan. Sesuatu yang penting mengenaimu. Ini tentangmu” tegasku. Kupandangi wajahnya masih diliputi tanya, tapi guratan kecantikannya tak menghilang. Dua lesung pipinya masih tersenyum ceria. Ia mengambil kursi kayu kemudian duduk di depanku.

“Kau masih kenal Ahmad kan? Teman waktu S1 ku yang tinggal di kota.” Tanyaku sekedar ingin mengetahui kemampuan ingatannya.
“Jelaslah saya kenal kak, bukankah waktu menikah kak Alif tahun lalu dia datang. Ada apa dengan kak Ahmad kak? Sakit? Atau sudah mau menikah?” jawabnya dengan jelas. Ternyata dia masih mengingatnya. Tahun lalu kakak aku, Alif, menikah dan Ahmad saya undang menghadiri resepsi walimahnya.
“Ahmad tidak sakit, Nisa...!” aku menyebut nama adikku, Nisa Salsabilah.
“Ahmad mau menikah dan dia menjatuhkan wanita pilihannya padamu. Tadi malam saya ketemu dia, kamu menjadi pilihannya dan sesampainya aku di rumah tadi malam, dia menghubungiku lagi. Dan sekali lagi, ia memintaku untuk menjadi perantara kau dengan dia.” Aku menjelaskan padanya arah pembicaraanku.
“Kenapa mesti saya yang dipilih? Skripsiku belum selesai, pun saya sendiri punya sikap dan pilihan dalam menetapkan calon pendampingku. Kakak mengiyakan dan menyetujui hajat kak Ahmad itu?”
“Saya tidak mengiyakan ataupun menolaknya langsung, saya bicara seperti ini karena ingin mengetahui sikapmu. Menerima ataukah menolaknya. Saya memposisikan diri sebagai kakak terhadapmu, dan aku cukup demokratis untuk memberitahumu, tidak memberitahu ayah ibu langsung.....” Aku menghentikan kalimatku, kupandangi dirinya yang lagi menundukkan wajah.
“Nisa... menurutku Ahmad itu sosok yang tepat bagimu. Sekarang dia sudah jadi PNS di Dinas PU kabupaten, pun agama dan keluarganya cukup baik. Bahkan ayah sangat kenal ayahnya karena sama-sama berangkat haji 7 tahun lalu. Aku rasa kalian akan sempurna menjalin hubungan nanti.” Terangku padanya dan dia masih larut dalam ketundukan wajahnya. Entah kesedihan atau kebahagiaankah yang dirasa. Aku tak tahu. Aku pun diam.
Hening.....
“Kak... mungkin saatnya aku jujur padamu. Lelah aku berlama-lama menanggung beban ini.” Ucapnya memecah keheningan. Raut mukanya kupandang, bukan lagi tanya yang meraja disana. Ada air bening dipipinya, matanya berkaca-kaca memandangku. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Sejak aku berumur 6 tahun, aku mengenal kakak. Dan berarti sudah 17 tahun kita mengarungi hidup sebagai  kakak adik. Itu bagi kakak, tapi bagi saya tidak. Aku akui kak, sejak aku kelas 2  SMA, 7 tahun yang lalu, kak Arif tidak lagi sekedar kakak bagiku. Bukan lagi perasaan sayang adik kepada kakak yang bersamayam didadaku, tapi sesuatu yang lain. Bukan lagi rindu adik kepada kakaknya yang rasakan, tapi rindu seorang perempuan terhadap lelakinya. Bertahun-tahun aku pendam, daripada aku melarat dalam kehampaan, lebih baik aku nista dalam kejujuran.” Kata-katanya yang meluncur terbata dari celah bibir manisnya membuatku renta dalam keterkejutan. Tersentak aku dan aku kini berada dalam pusaran kecamuk batin.
“Hahaha... kau ada-ada saja, Nis.” Sergahku sekaligus mencoba melawan kefanaan.
“Kita memang kakak adik, kak. Tapi bukan saudara kandung, kita hanya sepupu dan aku merasa bahwa apa yang aku rasakan kini sama dengan apa yang kakak rasakan. Iya kan? Aku memang sudah menganggap orang tua kakak seperti orang tuaku sendiri yang hanya masa balita sempat aku melihatnya. Kak..., kita hanya sepupu dan tidak ada larangan dalam agama dan adat bugis. Aku sepakat dengan filosofi kakak bahwa bukan cinta yang melahirkan kebersamaan, tapi kebersamaanlah yang melahirkan cinta. Seperti yang aku rasakan kini, sebelumnya, dan nanti. Kebersamaan kita yang berbilang tahun menumbuhkan rasa cintaku kepada kakak, bukan sebagai adik, tapi sebagai perempuan.” Runtuh sudah logikaku mendengar curahan hatinya.
“Rasa cintamu itu hanya bentuk syukurmu atau sekedar terima kasihmu sebagai adik dan balasan karena orang tuaku telah menganggapmu anaknya. Iya kan?”
“Aku tak sepicik itu kak, bukankah kakak telah mengajarkan filsafat cinta? bahwa cinta itu aktif seperti yang dikatakan Erich Form atau Mary Lutyens bahwa cinta harus faktual, bukan sentimental. Cinta itu seperti air menurut Hazrat Inayah Khan. Bahkan bila cintaku padamu sekedar rasa syukur. Biarlah, bukankah kita memang mesti bersyukur. Nikmat Tuhan apalagi yang kita dustakan. Lupakan kak Ahmad, aku memilihmu!” air matanya meluruh.
****
Di subuh hening yang lain...
“Terima kasih telah memilihku!” kataku sambil membangunkan dari sujud syukurnya sehabis shalat subuh. Kukecup keningnya dan kupeluk hangat nikmat Tuhan yang tak terhingga.
“Aku kan Nisa kak, akulah perempuanmu!” pelukannya semakin erat pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar