Rabu, 02 Desember 2015

Syukur Cinta



Di subuh yang hening....
“Dik, boleh aku bicara denganmu sebentar?” tanyaku pada adik sepupuku sehabis shalat subuh berjamaah. Dia mengiyakan, aku mengajaknya ke teras rumah yang baru sebulan lebih selesai dibuat. Sambil berlalu dari ruang kecil yang dijadikan mushallah di dekat ruang keluarga, aku melihat ibu berjalan ke dapur dan ayah masih asyik membaca al-qur’an.
“Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Bukan tentangku, tapi tentangmu” prologku sambil membuka pintu rumah.
“Sesuatu yang serius ya kak, tumben subuh begini mau bicara denganku. Biasanya kakak kan tidur setelah shalat subuh.” Balasnya sambil memperbaiki letak mukenanya.
“Iya, kali ini bukan tentang kuliahmu. Bukan perihal organisasi yang kau geluti, bukan tentang aktivitasmu di Makassar, bukan pula tentang filsafat dan sastra yang sering kita diskusikan. Sesuatu yang penting mengenaimu. Ini tentangmu” tegasku. Kupandangi wajahnya masih diliputi tanya, tapi guratan kecantikannya tak menghilang. Dua lesung pipinya masih tersenyum ceria. Ia mengambil kursi kayu kemudian duduk di depanku.