Di subuh yang hening....
“Dik,
boleh aku bicara denganmu sebentar?” tanyaku pada adik sepupuku sehabis shalat
subuh berjamaah. Dia mengiyakan, aku mengajaknya ke teras rumah yang baru
sebulan lebih selesai dibuat. Sambil berlalu dari ruang kecil yang dijadikan
mushallah di dekat ruang keluarga, aku melihat ibu berjalan ke dapur dan ayah
masih asyik membaca al-qur’an.
“Ada
hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Bukan tentangku, tapi tentangmu”
prologku sambil membuka pintu rumah.
“Sesuatu
yang serius ya kak, tumben subuh begini mau bicara denganku. Biasanya kakak kan
tidur setelah shalat subuh.” Balasnya sambil memperbaiki letak mukenanya.
“Iya,
kali ini bukan tentang kuliahmu. Bukan perihal organisasi yang kau geluti,
bukan tentang aktivitasmu di Makassar, bukan pula tentang filsafat dan sastra
yang sering kita diskusikan. Sesuatu yang penting mengenaimu. Ini tentangmu”
tegasku. Kupandangi wajahnya masih diliputi tanya, tapi guratan kecantikannya
tak menghilang. Dua lesung pipinya masih tersenyum ceria. Ia mengambil kursi
kayu kemudian duduk di depanku.