Rabu, 03 April 2013

Dunia Ini Sederhana

“Daeng, coto 2 mangkok, daging semua!” pesan Awal kepada pelayan di warung Coto Alauddin. Awal mencari tempat yang tepat untuk menikmati masakan khas Makassar itu. Bersama adiknya, Accang, menjadikan coto sebagai menu makan malam. Meja di sudut ruang warung itu menjadi posisi yang tepat, selain bisa menikmati coto, sekaligus bisa melihat live LSI, PERSISAM vs PERSIPURA. “Saya yang duduk disitu, mau ka nonton ki klub andalanku, PERSIPURA” ucap Accang dengan logat Bugis Makassarnya yang kental, berharap kakaknya bersedia pindah ke kursi yang lain, karena tempat duduknya membelakangi TV 24′ yang ada di warung itu.”Ah…, disitu saja kamu duduk” ketus Awal sambil memeriksa ketupat-ketupat yang akan disantapnya sebentar.
Tak lama berselang, 2 mangkok coto terhidang mesra dihadapan kakak adik tersebut. “Daeng, tambah bawang goreng dan daun bawangnya” sahut Awal kepada pelayan yang menyajikan menu coto tadi. Pelayan hanya mengangguk mengiyakan. Awal menikmati makanan kesukaannya ini,hingga merasa perlu menambah kuah yang sangat lezat itu. 5 buah ketupat menjadi saksi kebuasannya melahap coto. Berbeda dengan Accang, 2 ketupat dan tanpa menambah kuah melengkapi kepuasannya malam ini. Babak I PERSISAM vs PERSIPURA berakhir 0-0. Mereka pun segera berlalu, tapi sebelumnya Awal mengirim sms ke sepupunya agar datang ke kos main domino.

Akbar dan Jaka menerima tantangan Awal, pantang baginya disebut tidak tahu main domino dan tidak berani melawan Awal. Malam itu mereka berempat main domino, yang tidak menang setiap sesi gocokan domino, dihukum jongkok, ya…,mereka main “domino jongkok”. Sebelum sampai di kos sehabis dari makan coto, Awal menyempatkan beli pisang goreng dan tahu isi beserta Sarabba, minuman khas Makassar. Malam yang gembira, gelap dan hening tengah malam terabaikan. Awal melirik hp android samsungnya, 00.31 tertera di sudut atas layar. “Jam 1 baru berhenti main, kasihan Jaka yang jongkok terus,nanti tidak bisa kuliah besok” jelasnya. Keempat-empatnya tertawa sinis, sembari menjadikan Jaka sebagai bahan olok-olokan. Gorengan hanya menyisakan kantong kresek putih beserta beberap biji cabe, Sarabba ludes tak tersisa, dan Jaka yang paling sering kena hukuman, tidak kuasa menahan beban tubuhnya. Permainan payah tapi ada nuansa kebersamaan memberi warna.
“Saya mau tidur duluan, besok pukul 8 kuliahku” Accang segera berlalu dari larut malam. Akbar dan Jaka sudah pulang setelah main domino tadi. Awal masih menemani malam, mencoba mencari damai didalamnya. Nyalakan laptop, colok modem, aktifkan dan saatnya ber-facebook ria. Hening mengantar awal dalam dunia lain,kesendiriannya terperangkap dalam dunia maya. Tertawa sendiri membaca beberapa status ataupun ketika chat dengan teman-temannya yang setia menunggu pagi. Menunggu pagi adalah kebiasaan Awal saat ini, sejak awal semester VII berlanjut hingga sekarang. Tak kenal letih menunggu pagi, menemani malam yang berjalan ingin bertemu mentari.
Bagi Awal, malam baginya sebuah medan juang kreasi dan aspirasi terhadap dunia yang kecil ini, dunia yang sederhana. Shalat subuh menjadi penjelas baginya untuk istirahat. Awal begitu setia pada malam, hingga dekapnya serasa campuran air, semen, pasir dan kerikil yang membentuk beton kehidupan. Pagi seperti igauan saja, tak pernah dipandang. Pagi adalah malam baginya. Setelah shalat subuh,waktu yang tepat untuk menselaraskan jasad dengan lelahnya, fisiknya akan menemukan bantal sandaran gerahnya. “Saatnya tidur” ujar Awal ketika memulai menapaki jejak mimpinya. Pukul 05.13
Accang terbangun dari lelap tidurnya. Sebelum Awal tidur pagi, Awal masih menyempatkan sadarnya membangunkan adiknya untuk shalat subuh. Tak lama berselang, setelah Accang melaksanakan rutinitas pagi, Accang bersiap ke Kampus. Accang masih baru di Makassar, Mei tahun lalu baru pertama kali menginjakkan kakinya di “Kota Daeng”. Masa-masa sebelumnya hanya dihabiskan di kampung. Orang tua yang cukup terpandang memberikan keleluasaan baginya untuk menjamah tubuh “Makassar”, sedang kakaknya sudah hampir 4 tahun menelusuri lekuk tubuh Makassar. Menuntut ilmu ke Negeri China, dan Makassar sebagai tempat transit.
Sebelum berangkat ke kampus, dipandanginya wajah kakaknya yang begitu damai dalam dunia mimpinya.”Engkau telah berubah kak, aku mengenal hidupmu yang tangguh ketika di kampung, sekarang aku barut ahu bahwa hidupmu seperti ini. Aku kecewa, tapi tak ada yang bisa ku lakukan, menasihatimu pun serasa tak cukup, mengabari orangtua pun aku tak sanggup. Aku masih menyayangimu Kak” batin Accang bergemuruh. “Dunia ini sederhana, tak cukup sekedar kata atau karya bisa menjelaskannya, aku hanya bisa berdo’a, semoga kita bisa selalu bersama” gumam Accang sambil berlalu, menutup pintu kamar, melangkah ke kampus, mencari arti hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar