“Daeng, coto 2 mangkok, daging semua!” pesan Awal kepada
pelayan di warung Coto Alauddin. Awal mencari tempat yang tepat untuk
menikmati masakan khas Makassar itu. Bersama adiknya, Accang, menjadikan
coto sebagai menu makan malam. Meja di sudut ruang warung itu menjadi
posisi yang tepat, selain bisa menikmati coto, sekaligus bisa melihat
live LSI, PERSISAM vs PERSIPURA. “Saya yang duduk disitu, mau ka nonton
ki klub andalanku, PERSIPURA” ucap Accang dengan logat Bugis Makassarnya
yang kental, berharap kakaknya bersedia pindah ke kursi yang lain,
karena tempat duduknya membelakangi TV 24′ yang ada di warung itu.”Ah…,
disitu saja kamu duduk” ketus Awal sambil memeriksa ketupat-ketupat yang
akan disantapnya sebentar.
Tak lama berselang, 2 mangkok coto terhidang mesra dihadapan kakak adik
tersebut. “Daeng, tambah bawang goreng dan daun bawangnya” sahut Awal
kepada pelayan yang menyajikan menu coto tadi. Pelayan hanya mengangguk
mengiyakan. Awal menikmati makanan kesukaannya ini,hingga merasa perlu
menambah kuah yang sangat lezat itu. 5 buah ketupat menjadi saksi
kebuasannya melahap coto. Berbeda dengan Accang, 2 ketupat dan tanpa
menambah kuah melengkapi kepuasannya malam ini. Babak I PERSISAM vs
PERSIPURA berakhir 0-0. Mereka pun segera berlalu, tapi sebelumnya Awal
mengirim sms ke sepupunya agar datang ke kos main domino.
Akbar dan Jaka menerima tantangan Awal, pantang baginya disebut tidak
tahu main domino dan tidak berani melawan Awal. Malam itu mereka
berempat main domino, yang tidak menang setiap sesi gocokan domino,
dihukum jongkok, ya…,mereka main “domino jongkok”. Sebelum sampai di kos
sehabis dari makan coto, Awal menyempatkan beli pisang goreng dan tahu
isi beserta Sarabba, minuman khas Makassar. Malam yang gembira, gelap
dan hening tengah malam terabaikan. Awal melirik hp android samsungnya,
00.31 tertera di sudut atas layar. “Jam 1 baru berhenti main, kasihan
Jaka yang jongkok terus,nanti tidak bisa kuliah besok” jelasnya.
Keempat-empatnya tertawa sinis, sembari menjadikan Jaka sebagai bahan
olok-olokan. Gorengan hanya menyisakan kantong kresek putih beserta
beberap biji cabe, Sarabba ludes tak tersisa, dan Jaka yang paling
sering kena hukuman, tidak kuasa menahan beban tubuhnya. Permainan payah
tapi ada nuansa kebersamaan memberi warna.
“Saya mau tidur duluan, besok pukul 8 kuliahku” Accang segera berlalu
dari larut malam. Akbar dan Jaka sudah pulang setelah main domino tadi.
Awal masih menemani malam, mencoba mencari damai didalamnya. Nyalakan
laptop, colok modem, aktifkan dan saatnya ber-facebook ria. Hening
mengantar awal dalam dunia lain,kesendiriannya terperangkap dalam dunia
maya. Tertawa sendiri membaca beberapa status ataupun ketika chat dengan
teman-temannya yang setia menunggu pagi. Menunggu pagi adalah kebiasaan
Awal saat ini, sejak awal semester VII berlanjut hingga sekarang. Tak
kenal letih menunggu pagi, menemani malam yang berjalan ingin bertemu
mentari.
Bagi Awal, malam baginya sebuah medan juang kreasi dan aspirasi terhadap
dunia yang kecil ini, dunia yang sederhana. Shalat subuh menjadi
penjelas baginya untuk istirahat. Awal begitu setia pada malam, hingga
dekapnya serasa campuran air, semen, pasir dan kerikil yang membentuk
beton kehidupan. Pagi seperti igauan saja, tak pernah dipandang. Pagi
adalah malam baginya. Setelah shalat subuh,waktu yang tepat untuk
menselaraskan jasad dengan lelahnya, fisiknya akan menemukan bantal
sandaran gerahnya. “Saatnya tidur” ujar Awal ketika memulai menapaki
jejak mimpinya. Pukul 05.13
Accang terbangun dari lelap tidurnya. Sebelum Awal tidur pagi, Awal
masih menyempatkan sadarnya membangunkan adiknya untuk shalat subuh. Tak
lama berselang, setelah Accang melaksanakan rutinitas pagi, Accang
bersiap ke Kampus. Accang masih baru di Makassar, Mei tahun lalu baru
pertama kali menginjakkan kakinya di “Kota Daeng”. Masa-masa sebelumnya
hanya dihabiskan di kampung. Orang tua yang cukup terpandang memberikan
keleluasaan baginya untuk menjamah tubuh “Makassar”, sedang kakaknya
sudah hampir 4 tahun menelusuri lekuk tubuh Makassar. Menuntut ilmu ke
Negeri China, dan Makassar sebagai tempat transit.
Sebelum berangkat ke kampus, dipandanginya wajah kakaknya yang begitu
damai dalam dunia mimpinya.”Engkau telah berubah kak, aku mengenal
hidupmu yang tangguh ketika di kampung, sekarang aku barut ahu bahwa
hidupmu seperti ini. Aku kecewa, tapi tak ada yang bisa ku lakukan,
menasihatimu pun serasa tak cukup, mengabari orangtua pun aku tak
sanggup. Aku masih menyayangimu Kak” batin Accang bergemuruh. “Dunia ini
sederhana, tak cukup sekedar kata atau karya bisa menjelaskannya, aku
hanya bisa berdo’a, semoga kita bisa selalu bersama” gumam Accang sambil
berlalu, menutup pintu kamar, melangkah ke kampus, mencari arti hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar