Minggu, 14 April 2013

Black Story Ujian Nasional

Sesuai dengan kalender pendidikan di negeri ini, tanggal 15 April hingga 18 April 2013 akan dilaksanakan Ujian Nasional (UN) untuk SMA dan sederajat. Hiruk pikuk pra UN begitu terasa, ada siswa yang adakan do’a bersama, syukuran, ada yang ke panti anak yatim, bahkan yang parah pun ada, ke dukun minta wangsit. Siswa yang biasa-biasa saja, siswa yang berprestasi, hingga siswa yang berstatus selebriti pun berwara-wiri dalam dunia ketidakpastian. Begitupun yang dialami dua artis muda, Nikita Willy dan Tasya. Sore ini, mereka diliputi kegundahan tingkat dewa.

“Sya, gimana kabarmu?” Nikita menelpon via BB, sahabatnya sesama artis, Tasya. Persahabatan mereka begitu dekat, selain karena predikat artis yang disandangnya, sejak kecil mereka berkawan. Mereka saling support dalam segala hal, walau Tasya lebih dulu mengorbit di alam keartisan, tapi hubungan mereka hingga sekarang masih akrab. Mereka asyik curhat tentang UN, bahkan kadang sedih lahir dari percakapan via BB itu. “Sya, gimana kalau kita ke rumah Eyang Loe” Ide Niki diiyakan oleh Tasya, mereka bersepakat malam ini tidak pergi bermalam minggu dengan pacar masing-masing, keduanya memilih datang mengikuti pengajian Eyang Subur, Kakek Tasya. Sekitar jam 8 malam, keduanya sudah ada di pedepokan Eyang Subur.

Pedepokan Eyang Subur dari luar biasa-biasa saja, tapi dalamnya, sangat luar biasa. Bukan faktor ornamen atau dekorasi, bukan pula fasilitas dan desain interiornya, tapi yang membuat luar biasa karena orang-orang yang duduk bersila di ruangan itu,bukan orang biasa, tapi orang yang punya nama besar. Banyak artis dan bebeapa orang pejabat yang ikut dalam pengajian malam itu, pantas saja Nikita kewalahan waktu mau parkir mobil.

Nampak terlihat beberapa orang yang cukup familiar, ada personil SRIMULAT, Ki Joko Bodo, beberapa artis dan pejabat, tapi yang membuat Niki dan Tasya terheran-heran, karena ada “murid baru” Eyang Subur. Di pojok pedepokan, senyum sumringah personil SM*SH dan Cherry Belle. “Sya, SM*SH dan CHIBI itu di pojok” Niki mengarahkan jari telunjuknya di sudut pedepokan itu. “wah, pendatang baru nih. Ke sana yuk!” Tasya dan Niki melangkah ke pojok, mereka ingin berbagi cerita dengan personil boysband dan girlsband itu. Tak lama, artis-artis muda ini terlibat perbincang, entah apa yang jadi topiknya. Pengajian Eyang Subur tentang “Keteguhan Hidup” pun berlalu. Mereka asyik masyuk dalam pengajian mereka sendiri.

Tak terasa sudah sejam lebih mereka ngerumpi, tak sadar pengajian kakek Tasya sudah selesai.  Mereka baru tersadar ketika Eyang Subur dan sahabat dekatnya, Ki Joko Bodo datang mendekati mereka. “Anak muda sekarang semakin kurang rasa hormat dan penghargaannya terhadap ilmu dan pemberi ilmu, ada pengajian,eh…, mereka asyik buat forum diskusi sendiri. Lain kali jangan begitu ya!” Eyang Subur memberikan pesan kepada mereka. “Ha…., Subur… Subur…, sok suci loe, waktu kita kuliah kan kamu yang paling sering ribut di kelas, paling sering bolos” Ki Joko Bodo tertawa besar sambil mengingat kala mereka masih jadi mahasiswa jurusan “PERDUKUNAN”.

“Eyang, Ki, kami lagi curhat tentang UN. Kami lagi galau, dan kami kesini minta petunjuk” sahut Morgan, serasa mewakili kawan-kawan artisnya. “Iya Ki, kami perlu bantuan Eyang sama Ki joko” Annisa menegaskan maksudnya, artis muda yang lain menganggukan kepala, petanda mereka sepakat. “Dari muka kalian, dari awal aku sudah tahu maksudmu anak muda. Ha…” Ki Joko Bodo sudah melepaskan ajiannya.
“UN itu mirip masalah yang dihadapi Eyang dengan Adi Bing Slamet, kalian mesti sabar. Jangan kesusu, kalian mesti tenang anak muda, percaya diri saja. Tuhan memberkati” Eyang Subur memberikan ketegasan. “Kek, itu bukan solusi, tapi kemestian, ah…,kakek payah deh!” ucap Tasya dengan gurat muka yang sedikit sinis.

“Anak muda, saya punya solusi!” Ki Joko sedikit memberikan harapan. Niki yang sebelumnya lesu, terlihat semangat mudanya kembali bergelora. ” Sebentar kalau kalian tiba di rumah masing-masing, segera mandi kembang 7 rupa, siapkan pula dupa, selesai mandi kalian cukup baca ajian ini, gampangkan?” Ki Joko menjelaskan caranya sambil memberikan sebuah kertas pada Ilham SM*SH, karena Ilham lah yang paling dekat dengan Ki Joko pada saat itu. Ajian itu berbahasa jawa tapi sudah dikonversi versi bahasa Indonesia”Ki, berapa lama harus mandi dan siapkan dupa” tanya Rafael masih diliputi penasaran.

“Mulai malam ini sampai hasil UN kalian keluar, ini sebentar kok,saya jamin kalian lulus 100%” Ki Joko memberikan kepastian. “Lalu apa yang kami berikan kepada eyang dan Ki kalau nanti kami lulus” Ucap Devi Chibi masih diliputi kebimbangan. “Syaratnya sangat sederhana, Christy jadi istri muda Eyang Subur, dan Felly ikut saya selama sebulan di Puncak, terus Bisma jadi sopir saya selama setahun. Pilih mana, gagal UN berarti karir kalian ikut hancur atau mengikuti syaratnya dengan jaminan kesuksesan? Terserah kalian saja” Ki Joko menegaskan kembali syarat-syaratnya sambil diiyakan oleh Eyang Subur. Akhirnya mereka bersepakat tanda setuju, menerima syarat-syarat yang diajukan Ki Joko Bodo.

“Alhamdulillah Sya, bukan dari kita yang jadi tumbalnya,he…” Ujar Nikita penuh kemenangan. Tasya hanya membalasnya anggukan disusul senyum manis yang bermahkota diantara lesung pipinya.
**************

Note: Cerita di atas sekedar hayalan dan hasil imaji penulis saja, kuletakkan maaf yang sebenar-benarnya jikalau ada yang tidak berkenan fiksi di atas, salam damai selalu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar