Sesuai dengan kalender pendidikan di negeri ini, tanggal 15 April hingga
18 April 2013 akan dilaksanakan Ujian Nasional (UN) untuk SMA dan
sederajat. Hiruk pikuk pra UN begitu terasa, ada siswa yang adakan do’a
bersama, syukuran, ada yang ke panti anak yatim, bahkan yang parah pun
ada, ke dukun minta wangsit. Siswa yang biasa-biasa saja, siswa yang
berprestasi, hingga siswa yang berstatus selebriti pun berwara-wiri
dalam dunia ketidakpastian. Begitupun yang dialami dua artis muda,
Nikita Willy dan Tasya. Sore ini, mereka diliputi kegundahan tingkat
dewa.
“Sya, gimana kabarmu?” Nikita menelpon via BB, sahabatnya sesama artis,
Tasya. Persahabatan mereka begitu dekat, selain karena predikat artis
yang disandangnya, sejak kecil mereka berkawan. Mereka saling support
dalam segala hal, walau Tasya lebih dulu mengorbit di alam keartisan,
tapi hubungan mereka hingga sekarang masih akrab. Mereka asyik curhat
tentang UN, bahkan kadang sedih lahir dari percakapan via BB itu. “Sya,
gimana kalau kita ke rumah Eyang Loe” Ide Niki diiyakan oleh Tasya,
mereka bersepakat malam ini tidak pergi bermalam minggu dengan pacar
masing-masing, keduanya memilih datang mengikuti pengajian Eyang Subur,
Kakek Tasya. Sekitar jam 8 malam, keduanya sudah ada di pedepokan Eyang
Subur.
Pedepokan Eyang Subur dari luar biasa-biasa saja, tapi dalamnya, sangat
luar biasa. Bukan faktor ornamen atau dekorasi, bukan pula fasilitas dan
desain interiornya, tapi yang membuat luar biasa karena orang-orang
yang duduk bersila di ruangan itu,bukan orang biasa, tapi orang yang
punya nama besar. Banyak artis dan bebeapa orang pejabat yang ikut dalam
pengajian malam itu, pantas saja Nikita kewalahan waktu mau parkir
mobil.
Nampak terlihat beberapa orang yang cukup familiar, ada personil
SRIMULAT, Ki Joko Bodo, beberapa artis dan pejabat, tapi yang membuat
Niki dan Tasya terheran-heran, karena ada “murid baru” Eyang Subur. Di
pojok pedepokan, senyum sumringah personil SM*SH dan Cherry Belle. “Sya,
SM*SH dan CHIBI itu di pojok” Niki mengarahkan jari telunjuknya di
sudut pedepokan itu. “wah, pendatang baru nih. Ke sana yuk!” Tasya dan
Niki melangkah ke pojok, mereka ingin berbagi cerita dengan personil
boysband dan girlsband itu. Tak lama, artis-artis muda ini terlibat
perbincang, entah apa yang jadi topiknya. Pengajian Eyang Subur tentang
“Keteguhan Hidup” pun berlalu. Mereka asyik masyuk dalam pengajian
mereka sendiri.
Tak terasa sudah sejam lebih mereka ngerumpi, tak sadar pengajian kakek
Tasya sudah selesai. Mereka baru tersadar ketika Eyang Subur dan
sahabat dekatnya, Ki Joko Bodo datang mendekati mereka. “Anak muda
sekarang semakin kurang rasa hormat dan penghargaannya terhadap ilmu dan
pemberi ilmu, ada pengajian,eh…, mereka asyik buat forum diskusi
sendiri. Lain kali jangan begitu ya!” Eyang Subur memberikan pesan
kepada mereka. “Ha…., Subur… Subur…, sok suci loe, waktu kita kuliah kan
kamu yang paling sering ribut di kelas, paling sering bolos” Ki Joko
Bodo tertawa besar sambil mengingat kala mereka masih jadi mahasiswa
jurusan “PERDUKUNAN”.
“Eyang, Ki, kami lagi curhat tentang UN. Kami lagi galau, dan kami
kesini minta petunjuk” sahut Morgan, serasa mewakili kawan-kawan
artisnya. “Iya Ki, kami perlu bantuan Eyang sama Ki joko” Annisa
menegaskan maksudnya, artis muda yang lain menganggukan kepala, petanda
mereka sepakat. “Dari muka kalian, dari awal aku sudah tahu maksudmu
anak muda. Ha…” Ki Joko Bodo sudah melepaskan ajiannya.
“UN itu mirip masalah yang dihadapi Eyang dengan Adi Bing Slamet, kalian
mesti sabar. Jangan kesusu, kalian mesti tenang anak muda, percaya diri
saja. Tuhan memberkati” Eyang Subur memberikan ketegasan. “Kek, itu
bukan solusi, tapi kemestian, ah…,kakek payah deh!” ucap Tasya dengan
gurat muka yang sedikit sinis.
“Anak muda, saya punya solusi!” Ki Joko sedikit memberikan harapan. Niki
yang sebelumnya lesu, terlihat semangat mudanya kembali bergelora. ”
Sebentar kalau kalian tiba di rumah masing-masing, segera mandi kembang 7
rupa, siapkan pula dupa, selesai mandi kalian cukup baca ajian ini,
gampangkan?” Ki Joko menjelaskan caranya sambil memberikan sebuah kertas
pada Ilham SM*SH, karena Ilham lah yang paling dekat dengan Ki Joko
pada saat itu. Ajian itu berbahasa jawa tapi sudah dikonversi versi
bahasa Indonesia”Ki, berapa lama harus mandi dan siapkan dupa” tanya
Rafael masih diliputi penasaran.
“Mulai malam ini sampai hasil UN kalian keluar, ini sebentar kok,saya
jamin kalian lulus 100%” Ki Joko memberikan kepastian. “Lalu apa yang
kami berikan kepada eyang dan Ki kalau nanti kami lulus” Ucap Devi Chibi
masih diliputi kebimbangan. “Syaratnya sangat sederhana, Christy jadi
istri muda Eyang Subur, dan Felly ikut saya selama sebulan di Puncak,
terus Bisma jadi sopir saya selama setahun. Pilih mana, gagal UN berarti
karir kalian ikut hancur atau mengikuti syaratnya dengan jaminan
kesuksesan? Terserah kalian saja” Ki Joko menegaskan kembali
syarat-syaratnya sambil diiyakan oleh Eyang Subur. Akhirnya mereka
bersepakat tanda setuju, menerima syarat-syarat yang diajukan Ki Joko
Bodo.
“Alhamdulillah Sya, bukan dari kita yang jadi tumbalnya,he…” Ujar Nikita
penuh kemenangan. Tasya hanya membalasnya anggukan disusul senyum manis
yang bermahkota diantara lesung pipinya.
**************
**************
Note: Cerita di atas sekedar
hayalan dan hasil imaji penulis saja, kuletakkan maaf yang
sebenar-benarnya jikalau ada yang tidak berkenan fiksi di atas, salam
damai selalu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar