Malam merambati waktuku, menyisir
segenap ruang yang kumiliki. Rasanya ingin kulepas segala beban yang
datang menderaku, bahuku yang biasa tengadah, kini menelungkup,
terperangkap dalam jenuh. Telah lama kutelusuri padang-padang, sangat
panjang kususuri lembah-lembah, gunung-gunung kutapaki, dan entah sudah
berapa luas daratan kujejaki. Aku tak tahu apakah itu kulakukan dalam
menegakkan egoku atau sekedar menguraikan rumus-rumus yang kupelajari di
pedepokan. Bukan rumus seperti yang ada di sekolah-sekolah, tapi rumus
menjatuhkan lawan dalam beladiri, jurus-jurus sakti.
Telah kukelilingi bumi, segala persada,
entah sudah berapa ngarai dan negeri telah kulewati. Tak jua kutemui
yang namanya pesona. Raut-raut muka yang kuhadapi dipenuhi garis-garis
lengkung, tak ada garis lurus. Tongkat saktiku terlalu angkuh menurutku,
kadang nuraniku tidak sejalan dengan sepakan dan tebasanku mengalahkan
lawan. Tinju dan ilmu pengendali anginku lebih sering meraja dibanding
akalku, apalagi jiwa dan rasa kemanusiaanku. Yang aku tahu, aku hanya
ingin menjadi yang terkuat, ingin menguasi semua unsur kanuragan.
Damai, sebabnya aku mengada di dunia
ini. Titah kehadiranku menghapuskan ketidakadilan, angkara murka, dan
segala derivasi kejahatan sosial. Tapi dalam perjalananku, aku hanya
diliputi kekosongan jiwa, tiada cinta. Kulakukan semua melawan
penindasan, kugenapkan tenaga, kucukupkan segala taktik, sekedar
menjalankan tugas. Tak lebih sekedar menenuaikan amanah. Semua itu
kulewati sampai aku mengenalmu. Darimu aku mengenal dunia yang lain,
dunia yang tak seperti kuselami selama ini, tapi dunia seperti ini yang
kucari.
Malam ini aku semakin tenggelam dalam
lautan rindu. Aku terbawa dalam arus ingatanku saat bersamamu, saat kita
taklukan tokoh-tokoh jahat, ketimpangan sosial kita seimbangkan, dan
keseimbangan alam kita wujudkan. Tapi itu bukan causa primer rinduku,
karena nukleus rindu ini bermaterikan wujudmu. Semua yang kusebutkan
sebelumnya, ibarat matahari, itu sekedar lidah apinya, sedang dirimu
menjadi intinya. Saat kita bersama mengarungi samudera, lewati
rawa-rawa, hutan rimba kita susuri, padang es kita luncuri, dan padang
pasir kita jejaki. Semua begitu istimewa bagiku. Saat kau membimbingku
menguasai ilmu pengendalian airmu, saat kau mengajariku tentang
kesabaran, saat kau. ah….. Tak bisa aku menyebutnya, bukannya aku tak
punya kuasa, tapi karena aku tak bisa mengurai semua kebersamaan kita.
Semuanya indah.
Aku ingin menemuimu sepanjang hari, tapi
diri ini diliputi sesak. Aku ingin menyapamu bahkan tongkat milikku
yang bisa terbang, ingin kuserahkan padamu, sebagai hadiahku. Tapi tak
ada ruang yang tercipta sedikitpun, tak ada waktu tersisa sekedar
menatap kelembutan wajahmu. Teringat kala ada pesanmu sampai “Selamat
melindungi dunia, tahun depan kita bisa ketemu, bahkan kalau dunia
bergejolak, kamu bisa memanggilku menemanimu mendamaikan alam semesta.”
Aku hanya bisa memeluk gelap, merangkulnya dengan erat, seraya
kubisikkan kepada malam “Sekiranya aku dan Katara menyatu, aku dan dia
bisa mencipta gelombang pasang yang dahsyat, udaraku dan airnya!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar