Jumat, 03 Mei 2013

Aang Untuk Katara

Malam merambati waktuku, menyisir segenap ruang yang kumiliki. Rasanya ingin kulepas segala beban yang datang menderaku, bahuku yang biasa tengadah, kini menelungkup, terperangkap dalam jenuh. Telah lama kutelusuri padang-padang, sangat panjang kususuri lembah-lembah, gunung-gunung kutapaki, dan entah sudah berapa luas daratan kujejaki. Aku tak tahu apakah itu kulakukan dalam menegakkan egoku atau sekedar menguraikan rumus-rumus yang kupelajari di pedepokan. Bukan rumus seperti yang ada di sekolah-sekolah, tapi rumus menjatuhkan lawan dalam beladiri, jurus-jurus sakti.

Telah kukelilingi bumi, segala persada, entah sudah berapa ngarai dan negeri telah kulewati. Tak jua kutemui yang namanya pesona. Raut-raut muka yang kuhadapi dipenuhi garis-garis lengkung, tak ada garis lurus. Tongkat saktiku terlalu angkuh menurutku, kadang nuraniku tidak sejalan dengan sepakan dan tebasanku mengalahkan lawan. Tinju dan ilmu pengendali anginku lebih sering meraja dibanding akalku, apalagi jiwa dan rasa kemanusiaanku. Yang aku tahu, aku hanya ingin menjadi yang terkuat, ingin menguasi semua unsur kanuragan.

Damai, sebabnya aku mengada di dunia ini. Titah kehadiranku menghapuskan ketidakadilan, angkara murka, dan segala derivasi kejahatan sosial. Tapi dalam perjalananku, aku hanya diliputi kekosongan jiwa, tiada cinta. Kulakukan semua melawan penindasan, kugenapkan tenaga, kucukupkan segala taktik, sekedar menjalankan tugas. Tak lebih sekedar menenuaikan amanah. Semua itu kulewati sampai aku mengenalmu. Darimu aku mengenal dunia yang lain, dunia yang tak seperti kuselami selama ini, tapi dunia seperti ini yang kucari.

Malam ini aku semakin tenggelam dalam lautan rindu. Aku terbawa dalam arus ingatanku saat bersamamu, saat kita taklukan tokoh-tokoh jahat, ketimpangan sosial kita seimbangkan, dan keseimbangan alam kita wujudkan. Tapi itu bukan causa primer rinduku, karena nukleus rindu ini bermaterikan wujudmu. Semua yang kusebutkan sebelumnya, ibarat matahari, itu sekedar lidah apinya, sedang dirimu menjadi intinya. Saat kita bersama mengarungi samudera, lewati rawa-rawa, hutan rimba kita susuri, padang es kita luncuri, dan padang pasir kita jejaki. Semua begitu istimewa bagiku. Saat kau membimbingku menguasai ilmu pengendalian airmu, saat kau mengajariku tentang kesabaran, saat kau. ah….. Tak bisa aku menyebutnya, bukannya aku tak punya kuasa, tapi karena aku tak bisa mengurai semua kebersamaan kita. Semuanya indah.

Aku ingin menemuimu sepanjang hari, tapi diri ini diliputi sesak. Aku ingin menyapamu bahkan tongkat milikku yang bisa terbang, ingin kuserahkan padamu, sebagai hadiahku. Tapi tak ada ruang yang tercipta sedikitpun, tak ada waktu tersisa sekedar menatap kelembutan wajahmu.  Teringat kala ada pesanmu sampai “Selamat melindungi dunia, tahun depan kita bisa ketemu, bahkan kalau dunia bergejolak, kamu bisa memanggilku menemanimu mendamaikan alam semesta.” Aku hanya bisa memeluk gelap, merangkulnya dengan erat, seraya kubisikkan kepada malam “Sekiranya aku dan Katara menyatu, aku dan dia bisa mencipta gelombang pasang yang dahsyat, udaraku dan airnya!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar