Sabtu, 13 April 2013

Para Ninja Ngebelet Fan Fict

Seperti biasa di perkampungan Konoha, sehabis latihan sore, para ninja chunin dan ninja lainnya beristrahat. Ada yang yang baca buku seperti kakashi atau sekedar latihan melempar pisau, atau asyik antri di depan toilet. Di Konoha, saat itu hanya punya empat toilet, ratusan ninja kalau mau mandi, mesti antri, tidak jauh beda dengan supoter timnas yang mau beli tiket TIMNAS vs AC Milan Glory. Mungkin APBN Konaha pada saat itu lagi miskin karena diserang oleh gank Akatsuki, pemasukan dari pajak parkiran dan penyewaan ninja untuk melindungi tanah kawasan konflik tidak ada, jadi pembangunan toilet tidak menjadi prioritas utama pada masa itu. Apalagi konflik internal di Konoha, mengharuskan hokage pada saat itu melakukan rekonsiliasi dan mengharuskan para ninja menandatangani pakta integritas.

Naruto termasuk dalam antrian itu, dengan jiwa tidaksabarnya, memaki-maki segala ninja yang juga antri. “Saya ini calon hokage,kalian mesti hormat padaku, kalau tidak, kebobrokan kalian aku buka selembar demi selembar”. Suara besarnya beserta ancamannya terhenti kala melihat Sasuke. “Kapan kau datang sodara, lama tak jumpa”. Sasuke hanya diam saja.

(enam jam yang lalu) Sakura berhasil membawa pulang sasuke, setelah pertarungan yang sangat melelahkan. Sebenarnya Sasuke bisa mengalahkan Sakura, hanya karena cinta yang masih terpendam di hatinya, dia tidak rela kekasihnya akan menderita. Tak ada pemenang saat itu, akhirnya Sasuke dan Sakura main hom-pim-pa, dan Sakuralah pemenangnya, dan sasuke merelakan dirinya ke Konoha.

“Anjing kudel,kamu bisu ya? ayo kita bertarung” tantang naruto kepada sasuke. “Maaf bro, saya haus, tadi saya singgah di warung, tidak ada teh gelas dan pepsi, hanya ramen dan air gelas doang” jawab sasuke penuh damai. “Alasan kau, ayo kita bertarung, cukup 2 jurus saja, kalau aku kena pukulanmu, aku kalah,gimana mas bro?”keberanian naruto begitu membara seperti kasus Simulator SIM yang terus memanas, membakar beberapa jendral yang ada di POLRI. Sasuke menerima tantangan, perkelahian tak terelakkan, sudah lebih 2 jurus, tak ada satupun yang masuk pukulannya. Tiba-tiba datang Kakashi melerai “berhenti, kalian itu seperti BNN dan pengacara Raffi Ahmad saja. Lebih baik kalian ikut Fanfict di kompasiana. Nanti saya ajar caranya”. Akhirnya pertarungan itu berhenti, naruto dan sasuke mengikuti pesan gurunya.

Sepanjang malam di Konoha hanya sepi yang menyelimuti, tak ada hiruk pikuk para ninja, tak ada bunyi senjata yang beradu. Di kelas ninja, Kakashi didaulat oleh hokage beserta ninja senior untuk mengajar fan fiksi. “Seorang ninja yang hebat, tidak hanya sekedar ahli memainkan senjata, terampil dalam jurusan kanuragan, jenius dalam strategi, tapi ninja harus juga cerdas memainkan kata. Kata adalah salah satu senjataku. Kalian harus camkan itu!” Kakashi penuh retorik membuka pertemuan itu.

“Bersyukurlah, karena Kompasiana menyelenggarakan even FanFict, setidaknya itu bisa jadi ajang aktualisasi diri kalian. FanFict itu sederhana, cukup menetapkan satu tokoh, entah selebriti, kawan-kawan kartun kita yang lain, politisi, bahkan kalau perlu Kage-kage dari negeri lain bisa kamu jadikan subjek ceritamu. Sederhanakan?”
“Sekarang kalian bisa memulai, nanti saya periksa satu-satu, satu jam kemudian saya kembali ke kelas. Ninja yang baik adalah ninja yang patuh pada gurunya” Kakashi segera berlalu dari kelas itu, dari dalam hati “waktunya baca novel Tere Liye “Ayahku (Bukan) Pembohong”". Tadi pagi, Kakashi dapat kiriman novel dari sahabatnya dari Indonesia, Jaka Sembung.

Kini, para ninju sibuk membuat fanfict seperti para kompasianer yang lagi galau menemukan ide tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar