Seperti biasa di perkampungan Konoha, sehabis
latihan sore, para ninja chunin dan ninja lainnya beristrahat. Ada yang
yang baca buku seperti kakashi atau sekedar latihan melempar pisau, atau
asyik antri di depan toilet. Di Konoha, saat itu hanya punya empat
toilet, ratusan ninja kalau mau mandi, mesti antri, tidak jauh beda
dengan supoter timnas yang mau beli tiket TIMNAS vs AC Milan Glory.
Mungkin APBN Konaha pada saat itu lagi miskin karena diserang oleh gank
Akatsuki, pemasukan dari pajak parkiran dan penyewaan ninja untuk
melindungi tanah kawasan konflik tidak ada, jadi pembangunan toilet
tidak menjadi prioritas utama pada masa itu. Apalagi konflik internal di
Konoha, mengharuskan hokage pada saat itu melakukan rekonsiliasi dan
mengharuskan para ninja menandatangani pakta integritas.
Naruto termasuk dalam antrian itu, dengan jiwa
tidaksabarnya, memaki-maki segala ninja yang juga antri. “Saya ini calon
hokage,kalian mesti hormat padaku, kalau tidak, kebobrokan kalian aku
buka selembar demi selembar”. Suara besarnya beserta ancamannya terhenti
kala melihat Sasuke. “Kapan kau datang sodara, lama tak jumpa”. Sasuke
hanya diam saja.
(enam jam yang lalu) Sakura berhasil membawa pulang
sasuke, setelah pertarungan yang sangat melelahkan. Sebenarnya Sasuke
bisa mengalahkan Sakura, hanya karena cinta yang masih terpendam di
hatinya, dia tidak rela kekasihnya akan menderita. Tak ada pemenang saat
itu, akhirnya Sasuke dan Sakura main hom-pim-pa, dan Sakuralah
pemenangnya, dan sasuke merelakan dirinya ke Konoha.
“Anjing
kudel,kamu bisu ya? ayo kita bertarung” tantang naruto kepada sasuke.
“Maaf bro, saya haus, tadi saya singgah di warung, tidak ada teh gelas
dan pepsi, hanya ramen dan air gelas doang” jawab sasuke penuh damai.
“Alasan kau, ayo kita bertarung, cukup 2 jurus saja, kalau aku kena
pukulanmu, aku kalah,gimana mas bro?”keberanian naruto begitu membara
seperti kasus Simulator SIM yang terus memanas, membakar beberapa
jendral yang ada di POLRI. Sasuke menerima tantangan, perkelahian tak
terelakkan, sudah lebih 2 jurus, tak ada satupun yang masuk pukulannya.
Tiba-tiba datang Kakashi melerai “berhenti, kalian itu seperti BNN dan
pengacara Raffi Ahmad saja. Lebih baik kalian ikut Fanfict di
kompasiana. Nanti saya ajar caranya”. Akhirnya pertarungan itu berhenti,
naruto dan sasuke mengikuti pesan gurunya.
Sepanjang
malam di Konoha hanya sepi yang menyelimuti, tak ada hiruk pikuk para
ninja, tak ada bunyi senjata yang beradu. Di kelas ninja, Kakashi
didaulat oleh hokage beserta ninja senior untuk mengajar fan fiksi.
“Seorang ninja yang hebat, tidak hanya sekedar ahli memainkan senjata,
terampil dalam jurusan kanuragan, jenius dalam strategi, tapi ninja
harus juga cerdas memainkan kata. Kata adalah salah satu senjataku.
Kalian harus camkan itu!” Kakashi penuh retorik membuka pertemuan itu.
“Bersyukurlah,
karena Kompasiana menyelenggarakan even FanFict, setidaknya itu bisa
jadi ajang aktualisasi diri kalian. FanFict itu sederhana, cukup
menetapkan satu tokoh, entah selebriti, kawan-kawan kartun kita yang
lain, politisi, bahkan kalau perlu Kage-kage dari negeri lain bisa kamu
jadikan subjek ceritamu. Sederhanakan?”
“Sekarang
kalian bisa memulai, nanti saya periksa satu-satu, satu jam kemudian
saya kembali ke kelas. Ninja yang baik adalah ninja yang patuh pada
gurunya” Kakashi segera berlalu dari kelas itu, dari dalam hati
“waktunya baca novel Tere Liye “Ayahku (Bukan) Pembohong”". Tadi pagi,
Kakashi dapat kiriman novel dari sahabatnya dari Indonesia, Jaka
Sembung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar