Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur sekarang memperkuat PERSSIN
Sinjai, klub devisi utama PSSI, klub kota kelahiran saya, Kabupaten
Sinjai. Saya beberapa kali bertemu dengan pemain TIMNAS ini, karena
seringnya, kami bersahabat baik. Kami sering berbagi cerita, bahkan
karena seringnya kami saling share, ternyata aku baru tahu bahwa Ahmad
Bustomi dan Zulkifli Syukur alumni La Mesia, sekolah sepak bola milik
Barcelona FC, dan mereka pernah main bola sama skuad Barcelona sekarang.
Messi, Pedro, Pique, Fabregas, dan Iniesta pernah menjadi teman
bermainnya. Saya ingin berbagi rahasia kehidupan mereka yang tak pernah
terungkap oleh media bahkan hanya saya yang tahu cerita mereka.
Mereke berdua bertemu ketika sama-sama memperkuat PSSI Timnas U-13, tahun 1999 lalu. Penampilan apiknya saat mengalahkan TIMNAS Spanyol U-13 di final piala dunia U-13 dengan skor 3-1, membuat pelatih junior Spanyol kepincut untuk mengembangkan bakatnya. Setelah pertandingan yang sangat bersejarah itu, mereka tidak kembali ke tanah air, malah keduanya ikut rombongan tim Spanyol. Di skuad muda Spanyol saat itu sudah ada pedro, fabregas dan peque. Karena Fabregas punya garis keturunan Bugis-Makassar, neneknya berasal dari salah satu kota di Sulawesi Selatan, Fabregas sedikit tahu bahasa nenek moyang, bahasa bugis, sehingga bisa klop bahasa dengan Zulkifli Syukur yang juga orang bugis, mereka akrab dalam perjalanan ke Spanyol.
Saat tiba di Spanyol, mereka diberikan pilihan untuk memilih klub apa yang ingin mereka masuki. Keduanya memilih La Masia di kota Katalunya. Di La Masia-lah mereka memperkuat kualitas permainannya, mereka dilatih oleh Pep Guardiola. Berlatih bersama dengan Messi, Fabregas, Pedro, Iniesta dan Pique yang kini telah punya nama besar. Selama 6 tahun menimba ilmu, 2005 mereka baru meninggalkan La Masia.
Saat saya tanya kenapa tidak bertahan di La Masia, padahal ketika sukses di La Masia, peluang untuk masuk tim senior Barcelona FC sangat besar? Mereka cuma menjawab sambil sumringah, “Saya tidak bisa masuk skuad utama junior gara-gara saya pernah melakukan tekel keras kepada Messi bahkan Pedro pernah cidera parah gara-gara saya,he…” jawab Zulkifli Syukur sambil tertawa.
“Saya beda kawan, saya tidak pernah melakukan kekasaran di lapangan, bahkan saya selalu menjadi midfielder utama. Yang membuatku harus angkat kaki dari La Masia karena anak Pep Guardiola saya kencani, bukan hanya itu, adik Carlos Puyol ingin segera saya nikahi, daripada berbuat masalah, mending saya kembali ke tanah air” tegas Ahmad Bustomi, saya melirik Zulkifli Syukur, ada anggukan mengiyakan, memastikan bahwa perkataan Bustomi bukan rekaan.
Dalam hatiku berkata “Payah memang kalian, peluang menjadi pemain besar kalian sia-siakan karena tidak mampu mengontrol emosi dan syahwat”. Sekarang kalian semua tahu rahasia terbesar Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur, kalau nanti ada berita besar menyangkut keduanya, berarti itu saya yang membocorkannya. Tak perlu kuatir, karena saya seorang pengacara sekaligus Kepala Daerah, saya adalah Bupati Kabupaten Sinjai.
**************
Note: Cerita di atas sekedar hayalan dan hasil imaji penulis saja, kuletakkan maaf yang sebenar-benarnya jikalau ada yang tidak berkenan fiksi di atas, salam damai selalu!
Mereke berdua bertemu ketika sama-sama memperkuat PSSI Timnas U-13, tahun 1999 lalu. Penampilan apiknya saat mengalahkan TIMNAS Spanyol U-13 di final piala dunia U-13 dengan skor 3-1, membuat pelatih junior Spanyol kepincut untuk mengembangkan bakatnya. Setelah pertandingan yang sangat bersejarah itu, mereka tidak kembali ke tanah air, malah keduanya ikut rombongan tim Spanyol. Di skuad muda Spanyol saat itu sudah ada pedro, fabregas dan peque. Karena Fabregas punya garis keturunan Bugis-Makassar, neneknya berasal dari salah satu kota di Sulawesi Selatan, Fabregas sedikit tahu bahasa nenek moyang, bahasa bugis, sehingga bisa klop bahasa dengan Zulkifli Syukur yang juga orang bugis, mereka akrab dalam perjalanan ke Spanyol.
Saat tiba di Spanyol, mereka diberikan pilihan untuk memilih klub apa yang ingin mereka masuki. Keduanya memilih La Masia di kota Katalunya. Di La Masia-lah mereka memperkuat kualitas permainannya, mereka dilatih oleh Pep Guardiola. Berlatih bersama dengan Messi, Fabregas, Pedro, Iniesta dan Pique yang kini telah punya nama besar. Selama 6 tahun menimba ilmu, 2005 mereka baru meninggalkan La Masia.
Saat saya tanya kenapa tidak bertahan di La Masia, padahal ketika sukses di La Masia, peluang untuk masuk tim senior Barcelona FC sangat besar? Mereka cuma menjawab sambil sumringah, “Saya tidak bisa masuk skuad utama junior gara-gara saya pernah melakukan tekel keras kepada Messi bahkan Pedro pernah cidera parah gara-gara saya,he…” jawab Zulkifli Syukur sambil tertawa.
“Saya beda kawan, saya tidak pernah melakukan kekasaran di lapangan, bahkan saya selalu menjadi midfielder utama. Yang membuatku harus angkat kaki dari La Masia karena anak Pep Guardiola saya kencani, bukan hanya itu, adik Carlos Puyol ingin segera saya nikahi, daripada berbuat masalah, mending saya kembali ke tanah air” tegas Ahmad Bustomi, saya melirik Zulkifli Syukur, ada anggukan mengiyakan, memastikan bahwa perkataan Bustomi bukan rekaan.
Dalam hatiku berkata “Payah memang kalian, peluang menjadi pemain besar kalian sia-siakan karena tidak mampu mengontrol emosi dan syahwat”. Sekarang kalian semua tahu rahasia terbesar Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur, kalau nanti ada berita besar menyangkut keduanya, berarti itu saya yang membocorkannya. Tak perlu kuatir, karena saya seorang pengacara sekaligus Kepala Daerah, saya adalah Bupati Kabupaten Sinjai.
**************
Note: Cerita di atas sekedar hayalan dan hasil imaji penulis saja, kuletakkan maaf yang sebenar-benarnya jikalau ada yang tidak berkenan fiksi di atas, salam damai selalu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar