Senja
datang menjelang, menjadi garis pemisah sore dan malam. Indah memang,
tapi nuansa itu tak menyisakan berkas di hati. Siluet jingga itu
memburam dalam nanar netraku. Tak kutemukan indah. Rasa ini sudah
bertahun-tahun meraja dalam singgasana hatiku. Pedih melepaskannya. Dian
Sastro telah berlalu dariku, jalinan cerita yang pernah kami
rangkai,putus. Berderai. Berserakan tak menyisakan sebutir zarrah
kedamaian. Kepergian Dian Sastro telah memasung jiwaku, memenjarakanku
dalam bui nestapa. Ah...., pahit.
Masa depan serupa permata,
cahaya berkilau merasuki angan-anganku. Pendarnya pun kemilau dan
silaukan hidupku. Sadar akan kehilangannya, memberiku cemeti.
mencambukku untuk membangun kembali puing-puing harapan. Aku kembali
tegak, serupa Monas yang akan jadi saksi ikrar Anas Urbaningrum.
Bawahnya kokoh, atasnya cemerlang bak emas pelambang cinta yang murni.
Aku
gempita, ibarat adzan maghrib yang akan segera melantun, merasuki
nala-nalar sadar para insani,syahdu. Aku diperhadapkan dalam sebuah
pilihan yang berat dan aku pun terjebak. Oki Setiana Dewi atau Fatin
Shidqia telah menjadi pelipur laraku. Aku berat memilih, karena kedua
bunga ini telah bermahkota di taman hatiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar