Aku pandangi daun layu itu, beberapa
menit kemudian, angin sore menghempaskannya. Jatuh, semacam gembira
menyambut hempasan itu, daun layu itu mengayun indah lambaiannya. Daun
itu telah menemukan dunia yang lain. Rohnya seakan menyapaku “Jasadku
tak indah lagi, dulu sedap dipandang karena hijaunya, sekarang, jasadku
perlahan melebur, menyatu dengan tanah. Tapi dia tak mati secara
hakikat, karena hancurnya pun masih memberi arti bagi kehidupanmu”. Aku
pandangi kembali daun yang telah gugur, perlahan lenyap karena debu yang
menutupinya.
Kuhadirkan tanya tentang diriku sendiri.
Darimana aku, untuk apa, dan akan kemana? Sekiranya daun yang telah
menghilang itu kutanya tentang hal itu, pasti jawabnya dari dahan-dahan
pohonlah aku berasal, untuk memberikan makna kepada tumbuhan itu, dan
ketika aku mati, aku masih bisa jadi humus. Aku yakin itu jawabnya, tapi
apakah aku bisa menjawab seandainya daun itu bertanya balik kepadaku?
Aku tak tahu, kini aku menghilang dari dimensiku yang lain. Aku
mengembara
Seperti pesan Descartes, Cogito Ergo Sum “Aku berpikir, maka aku ada“.
Kembali kuterawangi ayat-ayat alam, aku ingin membacanya, kemudian
temukan makna, mungkin disana kutemukan jawab tiga pertanyaan tadi.
Darimana, untuk apa, dan akan kemana? Pesan seorang alim kepadaku kala
pengembaraan baru kumulai “Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenal Tuhanmu“.
Tak lama berselang, sejenak kuhentikan perjalananku, aku berteduh di
bawah rimbun pohon kehidupan, datang seorang cendekia dan memberiku
jelas “Dan pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang merupakan tanda-tanda bagi orang yang beriman“.
Aku belum sempat bertanya lebih dalam, cendikia itu berlalu. Semakin
bingung, sedang jalan didepanku bercabang, aku ambigu menetapkan arah.
Dalam persimpangan keputusanku,
kupandangi tanda-tanda jalan yang ada diperempatan, sekiranya bisa
memberiku petunjuk. Tak ada riwayat yang bisa kujadikan ilham. Aku
menunggu. Aku tersudut dalam keputusasaan. Aku memilih duduk di pinggir
jalan, sekiranya ada orang yang berjalan melintas didepanku, akan
kutanyakan dimana arah jalan yang kutuju. Tak lama berselang, seorang
kakek berjalan dengan bertopang pada tongkatnya yang terlihat sudah tua.
Belum sempat kuajukan tanya “Tuhan telah memberimu akal dan
seperangkat aturan main, kamulah nak yang putuskan jalan mana yang akan
kamu tempuh, fujura’ wa takwaha’, kamu yang lebih tahu konsekuensi jalan
yang kamu pilih nantinya. Ambillah keputusan yang tepat nak!” Aku
menundukkan pandangan, coba resapi pesan sang kakek itu. Samar-samar
kutemukan noktah, titik terang. Aku dongakkan kepala, tak terlihat kakek
tua itu lagi.
Kupilih jalan yang ke kanan, terlihat
tanda lalu lintas, jalan itu berliku-liku, ada pendakiannya, dan
pastinya tidak semulus jalan yang lain. Kutetapkan arah itu karena
kuyakini jalan ini yang menuju tujuanku. Selangkah, dua langkah, hingga
tak terhitung sudah berapa langkah kujejaki jalan ini, mungkin selinear
dengan usiaku, sepanjang perjalananku sama dengan selama usiaku.
Dalam perjalanan itu, banyak hal yang
tak kumengerti kutemui, dan tak ketumakan jawabnya kala
pertanyaan-pertanyaan datang mendera. Yang pasti dalam pengembaraanku,
tiga pertanyaan tadi telah kutemukan jawabnya. Aku darimana? segenap cintaku seluruh jiwa sepenuh rasa, kutegakkan kata “Aku dari Tuhan“. Untuk apa? Seluruh jasad bertasbih “Aku hanya seorang hamba, sudah kepastiaan aku harus beribadah kepada-Nya, itu sebabnya aku dicipta“ Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia selain mengabdi pada-Ku.
Pertanyaan terakhir yang kemudian memberi sesak yang mendalam dalam rongga-rongga nafasku, Akan kemana? Teringat
daun yang gugur, daun itu jatuh kemudian meniada, seperti itukah aku
kelak? Aku kembali diselipi tanya, mendera segenap sukma. Mungkinkah aku
seperti daun itu, berdialektika materialism, dari materi, untuk materi,
dan kembali jadi materi. Cerita-cerita kematian yang begitu seram
memberiku kengerian, takut mengakhiri hidup dalam keburukan. Kupandangi
bukit yang ada diseberang jalan, ada kalimat besar terpapar jelas “Dan janganlah kalian mati tidak dalam keadaan ISLAM!“. Aku terpekur kaku.
Pertanyaan “Akan Kemana?” seketika jawab terlintas dari batinku yang paling dalam, dari hati yang tenang, aku akan kembali pada-Nya. Seketika jalan mendaki yang kususuri menurun kemudian mendatar, merata. Mungkin ini anugrah, entahlah. “Nikmat Tuhan apalagi yang kau sangsikan“.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar