Jumat, 03 Mei 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (V)

Malam coba kusapa dengan nada merdu, semerdu mungkin, kuusahakan nadanya teratur. Aku ingin suaraku menghinggapimu dengan sentuhan yang selembut mungkin, seakan seperti angin senja yang menyapa syahdu kala engkau berdiri dipinggir pantai diwaktu senja. Sekiranya suaraku bisa seperti embun pagi, sapaanku akan merembes bening dirongga-rongga pendengaranmu, menyentuh jiwamu. Tapi apakah sapaanku bisa memberimu stimulus dengan baik, hingga segela bentuk rasa manismu menjadi responmu seperti yang kuharap? Entahlah, kadang aksi yang berlebihan menimbulkan reaksi diluar kontrol kita, aku tak tahu momentumnya.

Seperti medan magnet, kita punya polaritas yang berbeda, punya kutub yang berseberangan, tapi itu bukan problematika, karena perbedaan itu, rasaku dan rasamu bisa berkohesi, berfusi dalam ruang yang bernamanya cinta. Perbedaan kutub diantara kita merupakan potensi terbesar dalam menyatukan dan merekatkan rupa-rupa inginku dan warna-warni anganmu. Berlebihan? Saya rasa tidak, ini sesuai dengan analisis prasyarat, kita berada di wilayah normal, berasal dari kumpulan yang homogen, dan tingkat interkorelasinya sangat minimal karena kita terpisah jarak. Apalagi setelah uji kecocokan, frekuensi yang kuamati sama dengan frekuensi yang kuharapakan. Karena uji persyaratan analisisnya terpenuhi, sebuah langkah besar ketika kita melanjutkan dilangkah yang berikutnya.

Tingkat probobalitas mendekapmu mungkin sama dengan yang lain, tapi karena kita berada pada zona eksklusif atau saling berkomplemen yang mengakibatkan jalan kita terbuka luas. Itu inisiasiku dan pengamatanku atas keoefesienku dengan koefesienmu kulahirkan kesimpulan, aku melihat kita cukup mampu menjalin hubungan seperti terlihat pada garis regresi linear yang tercipta, ada residu saat kulakukan uji independensi. Hal ini memberikan kekuatan, bahwa kita akan disatukan takdir. Koefesien korelasi yang tercipta diantara kita mendekati 1, sangat kuat.

Aku semakin teduh bersama malam, bukan karena ada rembulan yang datang menyambangiku, bukan itu. Kamu tak tahu, karena aku tak pernah memandangmu ataupun melihat wujudmu. Bagiku kamu masih misteri, serupa hipotesa-hipotesa yang kurumuskan selama ini, bukan untuk kubuktikan, tapi hanya kuuji kebenarannya. Yang kubuktikan hanya janji-janji yang selama ini terulur dalam rangkaian kata, dalam jalinan aksara. Bukan Hipotesaku tentang romantisme hubungan kita kelak seperti yang selama ini tersirat dan tersurat dalam tulisanmu pun tulisanku.

Malam ini semakin sempurna, sesempurna buku-buku statistik yang membingungkanku yang sempat aku baca. Tapi kamu jangan risau, ketiadaanmu disisiku telah mencipta rindu. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar