Malam coba kusapa dengan nada merdu, semerdu mungkin,
kuusahakan nadanya teratur. Aku ingin suaraku menghinggapimu dengan
sentuhan yang selembut mungkin, seakan seperti angin senja yang menyapa
syahdu kala engkau berdiri dipinggir pantai diwaktu senja. Sekiranya
suaraku bisa seperti embun pagi, sapaanku akan merembes bening
dirongga-rongga pendengaranmu, menyentuh jiwamu. Tapi apakah sapaanku
bisa memberimu stimulus dengan baik, hingga segela bentuk rasa manismu
menjadi responmu seperti yang kuharap? Entahlah, kadang aksi yang
berlebihan menimbulkan reaksi diluar kontrol kita, aku tak tahu
momentumnya.
Seperti medan magnet, kita punya polaritas yang berbeda, punya kutub
yang berseberangan, tapi itu bukan problematika, karena perbedaan itu,
rasaku dan rasamu bisa berkohesi, berfusi dalam ruang yang bernamanya
cinta. Perbedaan kutub diantara kita merupakan potensi terbesar dalam
menyatukan dan merekatkan rupa-rupa inginku dan warna-warni anganmu.
Berlebihan? Saya rasa tidak, ini sesuai dengan analisis prasyarat, kita
berada di wilayah normal, berasal dari kumpulan yang homogen, dan
tingkat interkorelasinya sangat minimal karena kita terpisah jarak.
Apalagi setelah uji kecocokan, frekuensi yang kuamati sama dengan
frekuensi yang kuharapakan. Karena uji persyaratan analisisnya
terpenuhi, sebuah langkah besar ketika kita melanjutkan dilangkah yang
berikutnya.
Tingkat probobalitas mendekapmu mungkin sama dengan yang lain, tapi
karena kita berada pada zona eksklusif atau saling berkomplemen yang
mengakibatkan jalan kita terbuka luas. Itu inisiasiku dan pengamatanku
atas keoefesienku dengan koefesienmu kulahirkan kesimpulan, aku melihat
kita cukup mampu menjalin hubungan seperti terlihat pada garis regresi
linear yang tercipta, ada residu saat kulakukan uji independensi. Hal
ini memberikan kekuatan, bahwa kita akan disatukan takdir. Koefesien
korelasi yang tercipta diantara kita mendekati 1, sangat kuat.
Aku semakin teduh bersama malam, bukan karena ada rembulan yang datang
menyambangiku, bukan itu. Kamu tak tahu, karena aku tak pernah
memandangmu ataupun melihat wujudmu. Bagiku kamu masih misteri, serupa
hipotesa-hipotesa yang kurumuskan selama ini, bukan untuk kubuktikan,
tapi hanya kuuji kebenarannya. Yang kubuktikan hanya janji-janji yang
selama ini terulur dalam rangkaian kata, dalam jalinan aksara. Bukan
Hipotesaku tentang romantisme hubungan kita kelak seperti yang selama
ini tersirat dan tersurat dalam tulisanmu pun tulisanku.
Malam ini semakin sempurna, sesempurna buku-buku statistik yang
membingungkanku yang sempat aku baca. Tapi kamu jangan risau,
ketiadaanmu disisiku telah mencipta rindu. Salam malam padamu yang tak
sempurna!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar