Rabu, 05 Juni 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (VI)

Malam ini aku kembali diliputi sesak, bukan karena sepi, tapi karena hasrat ingin menulis sesuatu tak kesampaian. Ada-ada saja godaan yang datang merayu mesra, membunuh kehidupan angan-anganku, merobohkan konstruksi kata yang pernah kususun. Kalimat serta merta tercerai berai dan kata hanya jadi bangkai yang tak punya arti. Membusuk di lorong-lorong paragraf, mengotori halaman narasi dan baunya menyengat dan penuh distorsi.

Kehampaan, mungkin saja itu melingkupi ruang yang kugenapi sekarang. Musik yang menemaniku tak kunjung memberiku semangat. Nada-nada yang mengada seperti menusuk jiwa, aku dibuatnya larut dalam romantisme malam yang tak kukenal maknanya. Syair-syair lagu yang merasuki sisi-sisi kamarku, bahkan merambati ruang-ruang lain, menohok sum-sumku, terasa ngilu hingga nyerinya menghujam dinalar dan intuisiku. Mematikan music player-nya, bukan solusi, karena keheningan akan tercipta, dan itu semakin menyudutkanku dalam kesepian yang tak kutahu derajat ketepatannya dan waktu akhirnya. Satu cara, alunan itu mesti kuganti dengan hentakan, lagu-lagu dalam playlist mesti di-remove dan menggantinya dengan istrumental yang memberi spirit, bukan lagi Ungu dan SOS, Creed dan Jamrud jadi pengganti.

Perlahan-lahan, kehampaan itu berganti, tapi sayang tidak dalam bentuk gradasi, tapi semakin aku terpuruk dalam jurang kerinduan. Kembali aku merinduimu, yang selama ini meliputi asaku, engkau yang tak sempurna datang menghinggapi istana harapku. Tidak sekedar hinggap, sekarang engkau duduk disinggasana istana harapku itu. Mengada dalam nalar dan asa, tapi tidak mewujud dalam nyataku. Aku dan kamu di dimensi yang berbeda.

Tak sampai diliputi sesal, aku bangga dengan kesendirian ini. Setidaknya ruang yang tercipta diantara kita, melahirkan rindu dan cinta, kesetiaan dan pengharapan. Terpisah jarak, tak seperti panggang jauh dari api, tak serupa punuk merindukan bulan. Tak seperti itu, karena filsafat cinta mengajarkanku optimisme, aku yang membutuhkanmu, kamu membutuhkanku, kita saling melengkapi. Seperti “One Last Breath” milik Creed yang menyentuh rasa, sedikit demi sedikit membangkit simfoni. Hasrat perindu kembali bangkit. Di satu tempat dan waktu di bawah karunia-Nya, kita akan bertemu, entah kapan dan dimana, wajah dan pesona tak menjadi utama, akhlakmu yang kudamba. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar