Malam ini aku kembali diliputi sesak,
bukan karena sepi, tapi karena hasrat ingin menulis sesuatu tak
kesampaian. Ada-ada saja godaan yang datang merayu mesra, membunuh
kehidupan angan-anganku, merobohkan konstruksi kata yang pernah kususun.
Kalimat serta merta tercerai berai dan kata hanya jadi bangkai yang tak
punya arti. Membusuk di lorong-lorong paragraf, mengotori halaman
narasi dan baunya menyengat dan penuh distorsi.
Kehampaan, mungkin saja itu melingkupi
ruang yang kugenapi sekarang. Musik yang menemaniku tak kunjung
memberiku semangat. Nada-nada yang mengada seperti menusuk jiwa, aku
dibuatnya larut dalam romantisme malam yang tak kukenal maknanya.
Syair-syair lagu yang merasuki sisi-sisi kamarku, bahkan merambati
ruang-ruang lain, menohok sum-sumku, terasa ngilu hingga nyerinya
menghujam dinalar dan intuisiku. Mematikan music player-nya,
bukan solusi, karena keheningan akan tercipta, dan itu semakin
menyudutkanku dalam kesepian yang tak kutahu derajat ketepatannya dan
waktu akhirnya. Satu cara, alunan itu mesti kuganti dengan hentakan,
lagu-lagu dalam playlist mesti di-remove dan menggantinya dengan istrumental yang memberi spirit, bukan lagi Ungu dan SOS, Creed dan Jamrud jadi pengganti.
Perlahan-lahan, kehampaan itu berganti, tapi sayang tidak dalam bentuk gradasi,
tapi semakin aku terpuruk dalam jurang kerinduan. Kembali aku
merinduimu, yang selama ini meliputi asaku, engkau yang tak sempurna
datang menghinggapi istana harapku. Tidak sekedar hinggap, sekarang
engkau duduk disinggasana istana harapku itu. Mengada dalam nalar dan
asa, tapi tidak mewujud dalam nyataku. Aku dan kamu di dimensi yang
berbeda.
Tak sampai diliputi sesal, aku bangga
dengan kesendirian ini. Setidaknya ruang yang tercipta diantara kita,
melahirkan rindu dan cinta, kesetiaan dan pengharapan. Terpisah jarak,
tak seperti panggang jauh dari api, tak serupa punuk merindukan bulan.
Tak seperti itu, karena filsafat cinta mengajarkanku optimisme, aku yang
membutuhkanmu, kamu membutuhkanku, kita saling melengkapi. Seperti “One
Last Breath” milik Creed yang menyentuh rasa, sedikit demi sedikit
membangkit simfoni. Hasrat perindu kembali bangkit. Di satu tempat dan
waktu di bawah karunia-Nya, kita akan bertemu, entah kapan dan dimana,
wajah dan pesona tak menjadi utama, akhlakmu yang kudamba. Salam malam
padamu yang tak sempurna!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar