Malam dirambati pekat, semakin gelap,
tak ada cahaya yang tersingkap. Kususuri waktu yang kumiliki, tapi tak
jua kutemukan terang diantaranya. Ruangku pun tak seluas harapanku, kini
seperti kian menyempit, menghimpit asa-asa yang sempat aku tata.
Aksaraku yang pernah kutemukan di halaman penantian, kini seperti tak
punya makna, nilainya meniada. Aksara itu kini malah memasung sukmaku,
memaksaku menulis untaian-untaian kesedihan. Sebenarnya aku ingin
menolak, tapi aksara semakin memaksaku melebur damai ke dalam sepi. Kini
aku dilingkupi sunyi.
Pucat pasi aku memenuhi keinginan
aksara, semacam tiada tenaga mengurai hasrat-hasrat dan ambisi aksara.
Kehabisan kalori dan dehidrasi aku karenanya. Kata ingin dicipta,
kalimat ingin dijadikan permata, paragraf dipinta jadi istana, hingga
cerita menjadi semesta. Kupahami potensiku, kuselami mampuku hingga
kutemukan sintesa bahwa aku tak punya kuasa. Aku bukan budak, itu
kuucapkan kepada aksara setelah amarah bertahta di atas logika. Aku
makhluk merdeka, punya pilihan disetiap situasi, bertanggung jawab atas
konsekuensi. Mataku nanar, tapi tak sampai tercipta airmata, pandanganku
kucoba setajam mungkin, aku ingin netraku menusuk jantungnya, menohok
jiwanya.
Satu menit, dua menit berlalu, ah…,
sudah hampir setengah jam aku pandangi aksara, tapi aksara bukannya
goyah, semakin teguh menegaskan harap dan pintanya. Sedang aku, netraku
semakin layu, semakin sayu. Aksara mendekatiku, pandangan tak setajam
ketika pertama kali memandangku. Nada bicaranya pun telah berubah tapi
masih tegas. Suaranya tidak diliputi lagi amarah, langkahnya pun seperti
tak punya ambisi. Dalam pikirku, tak lama lagi aksara akan mengharu iba
dihadapanku. Meluapkan segenap penyesalan telah memperlakukan
sedemikian rupa. Ataupun mengucap maaf sembari mengulurkan tangan. Itu
angan yang seketika meraja disegapkan nalarku.
Sayang seribu sayang, angan itu hanyalah
angan semata, tak mewujud dan mengaktual. Aksara sekarang memelukku,
tapi bukan penuh rindu. Pelukannya justru ingin meremukkan
tulang-tulangku, kemudian bahuku digoyang-goyangkan, kemudian aku tak
tahu apa-apa.
“Dimana aku?” seketika aku tersadar. Aku
tak temukan apa-apa, hanya gelap yang menyelimuti sekelilingku. Kuraba
disekitarku, kutemukan aksaraku membatu. Tak ada ingatan yang tersimpan
mengenai kejadian yang lampau. Yang kupahami sekarang hanya satu,
aksaraku telah mati. Namun hatiku tak risau, karena masih ada kau yang
tak pernah kupandang dan tak kukenal ada disegenap do’aku. Kau tak mati
ataupun sekedar membatu, tapi kau tetap hidup bersama asaku yang tak
pasti, tak pasti karena aku bukan pemasti. Bukan aku, bukan kamu, bukan
kalian, tapi Dia. Salam malam padamu yang tak sempurna!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar