Rabu, 17 April 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (III)

Sudah tak terhitung rentang waktu tak menyapamu. Sejak kemarin, ah… tidak, lebih lama dari itu. Aku lupa kapan terakhir menyampaikan salam rinduku, yang kutahu sekarang, aliran darahku telah membeku terlalu lama menanti kehangatanmu. Sayup-sayup simfoni dari negeri jiran “buih jadi permadani” menambah dalam lukaku. Luka karena kerinduan.

Frekuensi rindu ini mesti kufilter, entah kugunakan RLC atau Op-Amp Transistor, yang pastinya rindu ini harus punya Attenuation Band sehingga rindu ini tidak membunuhku. Kupilih Band Pass Filter sehingga frekuensi rindu ini dengan rentang tertentu untuk dapat menghajarku bisa kuatasi, kuberi redaman pada frekuensi rindu yang terlalu tinggi dan terlalu rendah, agar frekuensi rindu ini stabil.

Resistansi terhadap cinta yang lain mesti kuperkuat, dan itu berarti induktansi dan kapasitansi cintaku padamu harus kuperkuat pula. Aku harus melakukan ini malam, agar cemburu dan curigamu tak bersemesta, yang ujungnya, raga dan jiwamu yang terluka. Aku tak rela, lebih kupilih aku saja yang menderita karena hujaman rinduku padamu yang terus datang mendera, aku tak perlu mengelak atau menangkisnya.

Malam, sejenak aku terdiam, kupikirkan kembali laku diantara kita. Aku berharap tidak timbul reaktansi berlebihan karena perubahan arus atau tegangan hubungan kita yang yang diakibatkan kapasitansi atau induktansi yang berlebihan. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Minggu, 14 April 2013

Offside

Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur sekarang memperkuat  PERSSIN Sinjai, klub devisi utama PSSI, klub kota kelahiran saya, Kabupaten Sinjai. Saya beberapa kali bertemu dengan pemain TIMNAS ini, karena seringnya, kami bersahabat baik. Kami sering berbagi cerita, bahkan karena seringnya kami saling share, ternyata aku baru tahu bahwa Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur alumni La Mesia, sekolah sepak bola milik Barcelona FC, dan mereka pernah main bola sama skuad Barcelona sekarang. Messi, Pedro, Pique, Fabregas, dan Iniesta pernah menjadi teman bermainnya. Saya ingin berbagi rahasia kehidupan mereka yang tak pernah terungkap oleh media bahkan hanya saya yang tahu cerita mereka.

Mereke berdua bertemu ketika sama-sama memperkuat PSSI Timnas U-13, tahun 1999 lalu. Penampilan apiknya saat mengalahkan TIMNAS Spanyol U-13 di final piala dunia U-13 dengan skor 3-1, membuat pelatih junior Spanyol kepincut untuk mengembangkan bakatnya. Setelah pertandingan yang sangat bersejarah itu, mereka tidak kembali ke tanah air, malah keduanya ikut rombongan tim Spanyol. Di skuad muda Spanyol saat itu sudah ada pedro, fabregas dan peque. Karena Fabregas punya garis keturunan Bugis-Makassar, neneknya berasal dari salah satu kota di Sulawesi Selatan, Fabregas sedikit tahu bahasa nenek moyang, bahasa bugis, sehingga bisa klop bahasa dengan Zulkifli Syukur yang juga orang bugis, mereka akrab dalam perjalanan ke Spanyol.

Saat tiba di Spanyol, mereka diberikan pilihan untuk memilih klub apa yang ingin mereka masuki. Keduanya memilih La Masia di kota Katalunya. Di La Masia-lah mereka memperkuat kualitas permainannya, mereka dilatih oleh Pep Guardiola. Berlatih bersama dengan  Messi, Fabregas, Pedro, Iniesta dan Pique yang kini telah punya nama besar. Selama 6 tahun menimba ilmu, 2005 mereka baru meninggalkan La Masia.
Saat saya tanya kenapa tidak bertahan di La Masia, padahal ketika sukses di La Masia, peluang untuk masuk tim senior Barcelona FC sangat besar? Mereka cuma menjawab sambil sumringah, “Saya tidak bisa masuk skuad utama junior gara-gara saya pernah melakukan tekel keras kepada Messi bahkan Pedro pernah cidera parah gara-gara saya,he…”  jawab Zulkifli Syukur sambil tertawa.

“Saya beda kawan, saya tidak pernah melakukan kekasaran di lapangan, bahkan saya selalu menjadi midfielder utama. Yang membuatku harus angkat kaki dari La Masia karena anak Pep Guardiola saya kencani, bukan hanya itu, adik Carlos Puyol ingin segera saya nikahi, daripada berbuat masalah, mending saya kembali ke tanah air” tegas Ahmad Bustomi, saya melirik Zulkifli Syukur, ada anggukan mengiyakan, memastikan bahwa perkataan Bustomi bukan rekaan.

Dalam hatiku berkata “Payah memang kalian, peluang menjadi pemain besar kalian sia-siakan karena tidak mampu mengontrol emosi dan syahwat”. Sekarang kalian semua tahu rahasia terbesar Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur, kalau nanti ada berita besar menyangkut keduanya, berarti itu saya yang membocorkannya. Tak perlu kuatir, karena saya seorang pengacara sekaligus Kepala Daerah, saya adalah Bupati Kabupaten Sinjai.
**************
Note: Cerita di atas sekedar hayalan dan hasil imaji penulis saja, kuletakkan maaf yang sebenar-benarnya jikalau ada yang tidak berkenan fiksi di atas, salam damai selalu!

Dari Binjai ke Sinjai Ada Cinta

Alhamdulillah, hari ini sukses menuntaskan proposal, pak Dr. Andre Taulani, M.Pd sudah melabuhkan tandatangan di lembar pengesahan proposalku, berarti saya hanya butuh tandatangan pak Prof. Dr. Tantowi Yahya, M.Pd, untuk bisa seminar proposal. Mesti bersabar, karena saya dapat info kalau pak Tantowi sedang sibuk di luar kota bahkan ada kabar bahwa hari kamis nanti, beliau di kota Binjai. Hari yang damai.  Sedamai adzan dhuhur yang mengalun syahdu.

Baru saja aku menikmati makan siang di warung prasmanan dekat kampus, tiba-tiba HP-ku berdering. Kulihat nama pemanggilnya, KETUM PB XXX, segera kuangkat. “Waalaikumussalam, ada apa mas?” seketika kujawab salamnya, “Mas Firman, pengurus PB memberikan mandat ke mas Firman sebagai pemateri Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan di Binjai, Kamis nanti. Jangan ada kata tidak bisa, sami’na wa ata’na!” Tegas Ketua. Kalau sudah begini, tidak ada laku dan pikir lagi selain berkata “Insya Allah siap mas”. Aku mengiyakan berarti saya harus segera ke Jakarta. Kuputuskan berangkat setelah shalat sore. Sesama pengurus PB, hanya saya yang berlatarbelakang evaluasi pendidikan, mungkin faktor ini teman-teman di PB memberikan mandat sebagai wakil PB di seminar itu. Terlintas dibenakku “Pak Tantowi hari kamis nanti juga di Binjai, momen yang tepat untuk minta tandatangannya sekaligus konsultasi lebih dalam lagi sekiranya bertemu”, sebuah sugesti positif.

Saat tiba di sekret PB, aku langsung melakukan verifikasi informasi. Ternyata betul, Seminar Nasional nanti saya satu forum dengan pak Tantowi. Subhanallah, saya tidak mengira ini akan terjadi. Aku mencubit paha kananku, ternyata tidak sakit, berarti ini bukan mimpi. Kupandangi kembali undangan itu, disana ada nama yang selalu menghiasi “Ruang Imaji”-ku, Oki Setiana Dewi (OSD) jadi pembicara tamu. Segera aku sujud syukur, tidak lama lagi aku bersua dengan bidadari mimpiku. Terima kasih Tuhan!

Black Story Ujian Nasional

Sesuai dengan kalender pendidikan di negeri ini, tanggal 15 April hingga 18 April 2013 akan dilaksanakan Ujian Nasional (UN) untuk SMA dan sederajat. Hiruk pikuk pra UN begitu terasa, ada siswa yang adakan do’a bersama, syukuran, ada yang ke panti anak yatim, bahkan yang parah pun ada, ke dukun minta wangsit. Siswa yang biasa-biasa saja, siswa yang berprestasi, hingga siswa yang berstatus selebriti pun berwara-wiri dalam dunia ketidakpastian. Begitupun yang dialami dua artis muda, Nikita Willy dan Tasya. Sore ini, mereka diliputi kegundahan tingkat dewa.

“Sya, gimana kabarmu?” Nikita menelpon via BB, sahabatnya sesama artis, Tasya. Persahabatan mereka begitu dekat, selain karena predikat artis yang disandangnya, sejak kecil mereka berkawan. Mereka saling support dalam segala hal, walau Tasya lebih dulu mengorbit di alam keartisan, tapi hubungan mereka hingga sekarang masih akrab. Mereka asyik curhat tentang UN, bahkan kadang sedih lahir dari percakapan via BB itu. “Sya, gimana kalau kita ke rumah Eyang Loe” Ide Niki diiyakan oleh Tasya, mereka bersepakat malam ini tidak pergi bermalam minggu dengan pacar masing-masing, keduanya memilih datang mengikuti pengajian Eyang Subur, Kakek Tasya. Sekitar jam 8 malam, keduanya sudah ada di pedepokan Eyang Subur.

Pedepokan Eyang Subur dari luar biasa-biasa saja, tapi dalamnya, sangat luar biasa. Bukan faktor ornamen atau dekorasi, bukan pula fasilitas dan desain interiornya, tapi yang membuat luar biasa karena orang-orang yang duduk bersila di ruangan itu,bukan orang biasa, tapi orang yang punya nama besar. Banyak artis dan bebeapa orang pejabat yang ikut dalam pengajian malam itu, pantas saja Nikita kewalahan waktu mau parkir mobil.

Sabtu, 13 April 2013

Detektif Luna

Kasus Raffi Ahmad  (RA) yang berlarut-larut, belum menemukan titik terang. Pertarungan sengit antara BNN dengan tim pengacara RA memasuki medan perang yang lebih kompleks. Ibarat pertandingan tinju, babakannya sudah melewati babak 10, menegangkan. Langit Queen (LQ), ibu RA semakin galau melihat perkembangan anaknya. Bersama Desy Riani (DR), mencoba menyelidiki kasus anaknya tanpa melibatkan pihak polisi dan BNN. Mereka ingin menyewa detektif swasta.

“DR, kasihan RA, sudah berbulan kasusnya belum tuntas. Gimana kalau kita usut sendiri?” Tanya LQ kepada adik sepupunya. “Bagus itu mbak, kita akan buktikan bahwa RA tidak ngeganja, tapi masa kita sendiri yang selidik mbak, kan kita tidak punya ilmu detektif mbak”  kalimat persetujuan meluncur indah dari bibir ranum DR. “Ha…, jelas bukan kita DR, kita cari detektif swasta, nanti kita bayar, seperti cerita-cerita di film lah.” Mereka pun bersepakat menyewa detektif swasta dan segera mereka mencari detektif yang bisa mereka pekerjakan, dan tentunya, mencari detektif yang punya prestasi.

Setelah masa transisi pencarian, atas saran dari Timur Pradopo(TP), teman sekaligus selingkuhan ibu RA yang seorang perwira polisi di Mabes POLRI, dipilihlah detektif yang punya nama besar di Jakarta, seorang wanita cantik yang juga mantan pejabat tinggi di POLRI, Luna Maya. Mereka pun berdua menemui Detektif Luna(DL), meminta kesediaannya menyelidiki keberadaan ganja di rumah RA. DL sangat ramah menyambutnya, diskusi pun berjalan lancar, dan DL bersedia membantu menyelesaikan kasus RA.

Para Ninja Ngebelet Fan Fict

Seperti biasa di perkampungan Konoha, sehabis latihan sore, para ninja chunin dan ninja lainnya beristrahat. Ada yang yang baca buku seperti kakashi atau sekedar latihan melempar pisau, atau asyik antri di depan toilet. Di Konoha, saat itu hanya punya empat toilet, ratusan ninja kalau mau mandi, mesti antri, tidak jauh beda dengan supoter timnas yang mau beli tiket TIMNAS vs AC Milan Glory. Mungkin APBN Konaha pada saat itu lagi miskin karena diserang oleh gank Akatsuki, pemasukan dari pajak parkiran dan penyewaan ninja untuk melindungi tanah kawasan konflik tidak ada, jadi pembangunan toilet tidak menjadi prioritas utama pada masa itu. Apalagi konflik internal di Konoha, mengharuskan hokage pada saat itu melakukan rekonsiliasi dan mengharuskan para ninja menandatangani pakta integritas.

Naruto termasuk dalam antrian itu, dengan jiwa tidaksabarnya, memaki-maki segala ninja yang juga antri. “Saya ini calon hokage,kalian mesti hormat padaku, kalau tidak, kebobrokan kalian aku buka selembar demi selembar”. Suara besarnya beserta ancamannya terhenti kala melihat Sasuke. “Kapan kau datang sodara, lama tak jumpa”. Sasuke hanya diam saja.

(enam jam yang lalu) Sakura berhasil membawa pulang sasuke, setelah pertarungan yang sangat melelahkan. Sebenarnya Sasuke bisa mengalahkan Sakura, hanya karena cinta yang masih terpendam di hatinya, dia tidak rela kekasihnya akan menderita. Tak ada pemenang saat itu, akhirnya Sasuke dan Sakura main hom-pim-pa, dan Sakuralah pemenangnya, dan sasuke merelakan dirinya ke Konoha.

“Anjing kudel,kamu bisu ya? ayo kita bertarung” tantang naruto kepada sasuke. “Maaf bro, saya haus, tadi saya singgah di warung, tidak ada teh gelas dan pepsi, hanya ramen dan air gelas doang” jawab sasuke penuh damai. “Alasan kau, ayo kita bertarung, cukup 2 jurus saja, kalau aku kena pukulanmu, aku kalah,gimana mas bro?”keberanian naruto begitu membara seperti kasus Simulator SIM yang terus memanas, membakar beberapa jendral yang ada di POLRI. Sasuke menerima tantangan, perkelahian tak terelakkan, sudah lebih 2 jurus, tak ada satupun yang masuk pukulannya. Tiba-tiba datang Kakashi melerai “berhenti, kalian itu seperti BNN dan pengacara Raffi Ahmad saja. Lebih baik kalian ikut Fanfict di kompasiana. Nanti saya ajar caranya”. Akhirnya pertarungan itu berhenti, naruto dan sasuke mengikuti pesan gurunya.

Sepanjang malam di Konoha hanya sepi yang menyelimuti, tak ada hiruk pikuk para ninja, tak ada bunyi senjata yang beradu. Di kelas ninja, Kakashi didaulat oleh hokage beserta ninja senior untuk mengajar fan fiksi. “Seorang ninja yang hebat, tidak hanya sekedar ahli memainkan senjata, terampil dalam jurusan kanuragan, jenius dalam strategi, tapi ninja harus juga cerdas memainkan kata. Kata adalah salah satu senjataku. Kalian harus camkan itu!” Kakashi penuh retorik membuka pertemuan itu.

“Bersyukurlah, karena Kompasiana menyelenggarakan even FanFict, setidaknya itu bisa jadi ajang aktualisasi diri kalian. FanFict itu sederhana, cukup menetapkan satu tokoh, entah selebriti, kawan-kawan kartun kita yang lain, politisi, bahkan kalau perlu Kage-kage dari negeri lain bisa kamu jadikan subjek ceritamu. Sederhanakan?”
“Sekarang kalian bisa memulai, nanti saya periksa satu-satu, satu jam kemudian saya kembali ke kelas. Ninja yang baik adalah ninja yang patuh pada gurunya” Kakashi segera berlalu dari kelas itu, dari dalam hati “waktunya baca novel Tere Liye “Ayahku (Bukan) Pembohong”". Tadi pagi, Kakashi dapat kiriman novel dari sahabatnya dari Indonesia, Jaka Sembung.

Kini, para ninju sibuk membuat fanfict seperti para kompasianer yang lagi galau menemukan ide tulisan.

Jumat, 12 April 2013

Salam Sore Padamu yang Tak Sempurna

Aku tahu. Panas terik mencipta suasana sendu, semangat melayu. Mataku meredup memandangmu, bukan karena kamu payah atau tak punya pesona lagi, tapi lelah menderaku menanti jawabmu. Aku linglung, bingung hingga semaput menyelimuti raga.
Beberapa tanda telah kukirim, signal telah kupancarkan dari stasiun hatiku. Pemancar transimetter telah kutegakkan, sekiranya gelombang rasaku sampai di terminal receiver-mu. Itu harapku, sekiranya carrier yang menujumu tidak ter-interferensi, kuyakin kamu mampu menginterpretasikannya dengan baik. Tapi sayang, itu hanya imajiku, nyatanya kamu masih duduk diam bersemesta dengan kebisuan. Aku tak tahu, apakah antena directional yang kamu pakai atau omni atau tidak sama sekali. Ah…, sudahlah, hatiku dangan hatimu mungkin beda bandwidth dan besarnya gain frekuensi kita yang jauh berbeda. Sungguh, aku harus belajar lagi tentang cinta.
Aku tersesaki kehampaan. Pintaku pada sore, agar ada feedback darimu, namun tak kutemukan jua. Aku bergelimang keheningan. Kupelajari sekat-sekat beda yang ada diantara kita. Sekiranya kutemukan celah untuk menjamahmu segera, akan kupatahkan sekat-sekat itu dan kemudian kita berada dalam ruang cinta. Aku ambigu, bingung menentukan sikap, memilih amplitudo rasa yang kuperluas atau frekuensinya yang kuperkuat. Amplitudo kuperluas, itu berarti coverage rasaku tentangmu semakin lebar, dan kalau frekuensi kuperkuat, jarak menujumu semakin kupersingkat. Entah apa yang akan kulakukan. Aku terjebak.
Sore, senja akan menjelang. Indahnya lembayungmu perlahan berlalu, tapi kamu jangan risau. Besok aku masih tetap disini menunggu, siluet senja biar menjadi antara agar rindu tercipta. Salam sore padamu yang tak sempurna!

Kamis, 11 April 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (II)

Aku tahu, sepi menyelimuti ruang kita. Seperti kemarin, engkau masih setia menyendiri, menawanku dalam ruang sunyi. Gelap membungkus pertemuan kita kali ini, sekedar berkaspun tak nampak. Suara yang biasanya merdu keluar dari bibir ranummu, kini tergelatak tak bernyawa, , menyisakan fatamorgana, tak berarti, meniada. Senyum yang selalu merona merah, kini memudar, tak ada garis parabola terlukis dipesonamu, kelabu, mengabur.
Malam, tak bisakah kau menyapaku sekedar bertanya kabar tentangku? Rentang waktu yang membujur kaku melintang dihadapan kita. Aku sadari, tak tahu yang terjadi pada dirimu malam, kamu rasakan senyap atau sumringah, aku tak tahu. Sendiri aku meresapi waktu. Tak ada kata terucap, tak ada jasad tergerak, bahkan jiwa pun berjalan pada frekuensi yang penuh dengan noise. Terdistorsi.
Ikhlas, mungkin sebuah kondisi yang mesti kujamah. Tak peduli mawar lain yang mempesona, tak peduli buah yang lain meranum, anggukanmu saat kupinta setia kala petang menyapa memberiku cahaya. Lambaian gemulai belah tanganmu saat engkau menuju pagi ke arahku, kumaknai sebagai pelepas dahaga rindu, yang paginya aku kehabisan aksara mengurainya. Mungkin selama ini kita terlalu telanjang dalam menjalani hubungan ini, perlu isolasi dan keterjagaan, tak terlalu dekat dengan medan listrik hiruk pikuk materi, dan kalau mampu, signal to Noise Ratio jalinan hubungan kita perlu ditingkatkan, hingga noise itu bisa kita redam. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Rabu, 10 April 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna

Aku kelam, kucoba sapa malam. Saya ingin berbagi kisah bahkan mungkin kasih, tapi entah kemana ramahnya. Malam seketika diam saat kuhaturkan pinta untuk menemaniku. Kugerakkan jasad menghampirinya, tapi malam hanya bisa membisu. Diam dalam suram. Tanganku coba mengelus belai tubuhnya, malam tak memberikan respon, mungkin malam telah mati rasa, seperti aku, ketika pagi datang mematikan kata. Pagi aku kehabisan aksara, serupa malam yang telah mati rasa.

Kududuk diam pula, hadirkan tatap nanar pada malam, sambil kutopangkan dagu. Pandanganku menjamah seluruh tubuhnya, tak kutemukan cela. Sempurna. Seperti kemarin, kali ini aku masih mengaguminya. Kemarin masih sempat bercanda, bersenda gurau, saling melepas keluh. Mungkin malam sudah bosan berbagi denganku. Atau kami perlu istrahat sejenak dalam hubungan ini, mungkin perlu bagiku menapaki jejakku yang pernah kelam sekelam saat ini. Meresapi waktu yang mungkin pernah menyakiti malam. Entah, tak kutemukan pendar.

Aku semakin larut dalam lautan tanda tanya. Karena jasad telah tergerak dan katapun telah terucap, mungkin ini momen yang tepat untuk merekatkan jiwa pada malam. Jiwaku sekarang mendekatimu, mencoba menyapamu dari sisi yang tak mungkin kamu kira. Kataku dengan katamu tidak seirama, jasadku dengan jasadmu pun berbeda dimensi, tapi kuharap jiwamu dengan jiwaku berada dalam bandwidth frekuensi yang sama. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Rabu, 03 April 2013

Sajak Sore

Kemarin pagi
Belantara kau hiasi api
Kini aksimu berganti
Gedung kokoh pun kamu tebangi
Seakan api telah menjadi teman sejati

Sore ini
Jejakmu masih berbekas
Ingatan ini tak pernah lepas
Amarahmu membuas
Seperti harimau yang mau menerkamku di lapangan luas
Kantor dan beberapa gedung kamu berangus
Serasa kamu ciptakan bumi yang tandus
Kau sisakan kenangan yang tak bagus

Malam nanti seharusnya aku tertawa
Kini kau gantikan airmata
Malam nanti seharusnya kamu yang menangis
Kini aku yang teriris pedis

Sore ini
Aku berusaha mengulung kembali
Layang-layang kenangan pahit yang kamu ciptakan
Akan kugunting benangnya yang kusut
Agar besok aku masih bisa berlari
Membawa layang-layang harapan mengangkasa
Memandangnya dengan wajah tak lagi kisut
Biarkan layang-layang bertemankan langit dan awan
Bukan kamu
Atau serupamu

Mencoba Beryukur Kembali

"Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apa pun yang kudapatkan."

Kata - kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukurakan senantiasa membebani kita.Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.....
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tetapi anda masih merasa kurang.
Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya.....
Tapi anehnya, ketika keinginan itu sudah didapatkan,kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tidak puas, kita ingin yang lebih lagi.Jadi betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi"KAYA" dalam arti yang sesungguhnya. Orang yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang kaya adalah orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh -boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa berbagai keinginan inilah yang menjadi akar perasaan tidak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan kurang berkecukupan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.

Aku Semakin Gagu

Air mata telah kukeringkan di atas sajadah
Ayat-ayat-Mu pun telah kulantunkan walau tak meriah
Hati terusik binar-binar sejuk suara-suara dari beberapa kafilah
Aku gagu menghadap-Mu karena diri lagi berpasrah

Do’a itu kembali kuulang dan kuungkap kepada-Mu
Berharap cita dan cinta sudi menyatu dengan restu-Mu
Tak perlu kuhadirkan sedu sedan bahkan pilu
Karena tanpa kusebut, Engkau pun Tahu

Aku semakin gagu
Aku semakin gagu pada-Mu
Dari senoktah dosa membesar bersemesta
Hingga nalar menjalar mengira dan memupuskan asa
Menyangka tak ada lautan maaf dan Ampunan-Mu

Aku semakin gagu
Karena takut azab-Mu datang mengganggu
Menyetubuhiku hingga aku tak leluasa bersenda gurau
Menyatroni alam pikirku dan merampas milikku satu persatu
Aku semakin gagu menghadap-Mu

Tondongku…

Entah darimana aku harus memulai
Sejarahmu tak begitu menarik lagi untuk dibagi
Apalagi tak ada piranti yang bisa jadi prasasti
Berlalu begitu saja tanpa pesan yang berarti

Dua puluh tujuh raja telah bertahta
I Kahireng Towa Labasa pendahulu cerita
Karaeng Genda menutup segala berita
Kini tak ada lagi singgasana bahkan arti mahkota
Kerajaan atas namamu sudah tiada, menyisakan sedikit derita


Tondongku…
Derapmu menegakkan manifestasi Sinjai
Bersama Bulo-bulo dan Lamatti
Terikat utuh dalam Tellulimpoe nan berdikari
Warani, getteng, siri’ na lempu menjadi jiwa-jiwa yang begitu terpateri
Tak ada cela dan celah untuk tidak mengagumi
Riuh-riuh puji selalu ada dari wija-wijamu yang setia mengakui

Tondongku…
Walau nama besarmu tak sebesar Gowa-Tallo
Walau namamu tak semegah Luwu dan Wajo
Tetap engkau berarti bagiku dan dijalanku, jejakmu kokoh


Tondongku…

Ku harap kelak ada drama yang mengkisahkanmu
Atau sinarmu bisa seperti cerita babad jawa yang seru
Kalau tak bisa, setidaknya nusantara sudah mengenalmu
 



********
catatan:
Tondong merupakan salah satu kerajaan yang ada di Kab. Sinjai Provinsi SUL-SEL, bersama kerajaan Bulo-bulo dan Lamatti yang menghimpun dalam simpul Kerajaan TelluLimpoe.

Dunia Ini Sederhana

“Daeng, coto 2 mangkok, daging semua!” pesan Awal kepada pelayan di warung Coto Alauddin. Awal mencari tempat yang tepat untuk menikmati masakan khas Makassar itu. Bersama adiknya, Accang, menjadikan coto sebagai menu makan malam. Meja di sudut ruang warung itu menjadi posisi yang tepat, selain bisa menikmati coto, sekaligus bisa melihat live LSI, PERSISAM vs PERSIPURA. “Saya yang duduk disitu, mau ka nonton ki klub andalanku, PERSIPURA” ucap Accang dengan logat Bugis Makassarnya yang kental, berharap kakaknya bersedia pindah ke kursi yang lain, karena tempat duduknya membelakangi TV 24′ yang ada di warung itu.”Ah…, disitu saja kamu duduk” ketus Awal sambil memeriksa ketupat-ketupat yang akan disantapnya sebentar.
Tak lama berselang, 2 mangkok coto terhidang mesra dihadapan kakak adik tersebut. “Daeng, tambah bawang goreng dan daun bawangnya” sahut Awal kepada pelayan yang menyajikan menu coto tadi. Pelayan hanya mengangguk mengiyakan. Awal menikmati makanan kesukaannya ini,hingga merasa perlu menambah kuah yang sangat lezat itu. 5 buah ketupat menjadi saksi kebuasannya melahap coto. Berbeda dengan Accang, 2 ketupat dan tanpa menambah kuah melengkapi kepuasannya malam ini. Babak I PERSISAM vs PERSIPURA berakhir 0-0. Mereka pun segera berlalu, tapi sebelumnya Awal mengirim sms ke sepupunya agar datang ke kos main domino.

Penantian Itu….

“Assalamualaikum, selamat pagi!” Kumemulai menyapanya, berharap dari dia kudapat akurasi informasi. “Ya, ada apa kanda, bisa saya bantu” jawabnya dari seberang. “Sekedar saya mau menanyakan posisi Prof. Ahmad, kira-kira ada di kampus hari ini?” aku to the point menjabarkan tujuanku menelponnya, dari seberang terdengar jawabannya “Iya kanda, bapak lagi menguji di seminar proposal mahasiswa Prodi B”. “Ok, terima kasih atas infonya” ku tutup telpon. Beliau adalah asisten Prof. Ahmad, saya selalu menghubunginya ketika ingin berkonsultasi dengan Prof. Ahmad baik konsultasi tentang perkuliahan dan proposal thesisku.
Pukul 09.10, ku rapikan susunan proposal, baik yang sudah direvisi maupun yang sudah dicoret-coreti dosen pembimbing. Berharap hari ini lembar pengesahan bisa ditandatangani. Sebuah pengharapan terbesarku saat ini sejak memulai menulis draft proposal bulan Desember lalu. Imaji ku mengembara, memasuki belantara waktu, dan kutemukan aku sedang di sidang, ya, ku ingin segera disidang, sidang seminar proposal.
Bismillahirahmanirrahim, ku ayunkan langkah menuju kampus, segala pikir tercurah mengabdi pada harapan- harapan dan mimpi, dan lantunan zikirpun menuju-Nya, sekiranya ada mu’jizat datang, tak perlu lagi ada tanya dan kritikan dari pembimbing dan segera melabuhkan tandatangannya di lembaran pengesahan itu. Pengharapan elok nan indah, serupa petani mengharapkan kemuning padi, serupa mawar yang dinanti mekarnya, serupa pungguk merindukan bulan.
Ikhtiar dan do’a mesti beriring, pesan itu meraja dibenakku, bermahkota disinggasana nalarku. Tak sampai 10 menit, akhirnya aku berlabuh di kampus dan segera menjejakkan kaki ke ruang prodi di lantai 2. Ku lirik, ah…., professor tidak ada di ruangannya, biasanya beliau duduk sambil membaca sesuatu. Naluri membisiki jiwaku “Tunggu saja beliau”, dan dipersimpangan pilihan antara pulang kembali ke kos dengan tetap menunggu, ku tetapkan hati untuk menanti.

Cerita Dari Lantai 1

Sambil nonton bola Manchester City vs Chelsea di kamar kos, samar-samar perbincangan serius dari lantai 1.

"Kamu masih baru mengenal Makassar, tahu apa kamu dengan kehidupan disini?Janganlah kamu berlagak, disini tak seperti kampungmu." Prakkk, sesuatu berbunyi retak. "Kamu tak perlu pakai HP ini lagi, kamu hanya memeras orang tua mu di kampung sekedar membeli pulsa, kamu paksa orangtuamu memberikanmu uang asap, dan terakhir kamu tipu orangtuamu dengan uang apel. Kamu tahu, sudah lebih 10 tahun saya di kota ini, saya tak pernah berbohong pada orangtuaku" Nada marah suara laki-laki itu, terdengar jelas.

"Itu bohong, uang yang saya minta hanya kebutuhan kuliah" terucap juga kata-kata dari laki-laki yang lain, nadanya penuh ketakutan

"Ah..., masalah keluarga, tak perlu kudengar lagi" sambil kuperbesar suara tv tunerku dan dalam hati ku berkata "Aku, kamu dan kalian, masih sering menipu orang tua, kita sama saja"

Angan-angan Senja

Senja datang menjelang, menjadi garis pemisah sore dan malam. Indah memang, tapi nuansa itu tak menyisakan berkas di hati. Siluet jingga itu memburam dalam nanar netraku. Tak kutemukan indah. Rasa ini sudah bertahun-tahun meraja dalam singgasana hatiku. Pedih melepaskannya. Dian Sastro telah berlalu dariku, jalinan cerita yang pernah kami rangkai,putus. Berderai. Berserakan tak menyisakan sebutir zarrah kedamaian. Kepergian Dian Sastro telah memasung jiwaku, memenjarakanku dalam bui nestapa. Ah...., pahit.

Masa depan serupa permata, cahaya berkilau merasuki angan-anganku. Pendarnya pun kemilau dan silaukan hidupku. Sadar akan kehilangannya, memberiku cemeti. mencambukku untuk membangun kembali puing-puing harapan. Aku kembali tegak, serupa Monas yang akan jadi saksi ikrar Anas Urbaningrum. Bawahnya kokoh, atasnya cemerlang bak emas pelambang cinta yang murni.

Aku gempita, ibarat adzan maghrib yang akan segera melantun, merasuki nala-nalar sadar para insani,syahdu. Aku diperhadapkan dalam sebuah pilihan yang berat dan aku pun terjebak. Oki Setiana Dewi atau Fatin Shidqia telah menjadi pelipur laraku. Aku berat memilih, karena kedua bunga ini telah bermahkota di taman hatiku

Moral Tersungkur Mati

Moral tersungkur mati
Karena hidup ini seperti fatamorgana
Baik pun akan melahirkan aib dan cela
Salah pun berujung puji

Moral telah tersungkur mati
Nabi tergantikan selebriti
Kitab suci berdebu di lemari
Tiada lagi pesan para wali

Moral tersungkur mati
Pada insani yang memperebutkan kursi
Kawan dan lawan tak ada dalam kamus peduli
Kepentingan menjadi raja setiap hari

Moral tersungkur mati
Sahabat, saudara ataupun seluruh famili
Terlupkan demi gengsi
Raja itu bernama harga diri
Tapi ambigu dalam menetapkan nilai

Moral tersungkur mati
Pada Tuhannya pun tak sudi mengabdi
Pongah membanggakan diri
Dikira surga bisa dibeli

Ketika moral tersungkur mati
Kemanakah kita akan pergi?