Sudah tak terhitung rentang waktu tak
menyapamu. Sejak kemarin, ah… tidak, lebih lama dari itu. Aku lupa kapan
terakhir menyampaikan salam rinduku, yang kutahu sekarang, aliran
darahku telah membeku terlalu lama menanti kehangatanmu. Sayup-sayup
simfoni dari negeri jiran “buih jadi permadani” menambah dalam lukaku.
Luka karena kerinduan.
Frekuensi rindu ini mesti kufilter, entah kugunakan RLC atau Op-Amp
Transistor, yang pastinya rindu ini harus punya Attenuation Band
sehingga rindu ini tidak membunuhku. Kupilih Band Pass Filter sehingga
frekuensi rindu ini dengan rentang tertentu untuk dapat menghajarku bisa
kuatasi, kuberi redaman pada frekuensi rindu yang terlalu tinggi dan
terlalu rendah, agar frekuensi rindu ini stabil.
Resistansi terhadap cinta yang lain mesti kuperkuat, dan itu berarti
induktansi dan kapasitansi cintaku padamu harus kuperkuat pula. Aku
harus melakukan ini malam, agar cemburu dan curigamu tak bersemesta,
yang ujungnya, raga dan jiwamu yang terluka. Aku tak rela, lebih kupilih
aku saja yang menderita karena hujaman rinduku padamu yang terus datang
mendera, aku tak perlu mengelak atau menangkisnya.
Malam, sejenak aku terdiam, kupikirkan kembali laku diantara kita. Aku
berharap tidak timbul reaktansi berlebihan karena perubahan arus atau
tegangan hubungan kita yang yang diakibatkan kapasitansi atau induktansi
yang berlebihan. Salam malam padamu yang tak sempurna!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar