Rabu, 17 April 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (III)

Sudah tak terhitung rentang waktu tak menyapamu. Sejak kemarin, ah… tidak, lebih lama dari itu. Aku lupa kapan terakhir menyampaikan salam rinduku, yang kutahu sekarang, aliran darahku telah membeku terlalu lama menanti kehangatanmu. Sayup-sayup simfoni dari negeri jiran “buih jadi permadani” menambah dalam lukaku. Luka karena kerinduan.

Frekuensi rindu ini mesti kufilter, entah kugunakan RLC atau Op-Amp Transistor, yang pastinya rindu ini harus punya Attenuation Band sehingga rindu ini tidak membunuhku. Kupilih Band Pass Filter sehingga frekuensi rindu ini dengan rentang tertentu untuk dapat menghajarku bisa kuatasi, kuberi redaman pada frekuensi rindu yang terlalu tinggi dan terlalu rendah, agar frekuensi rindu ini stabil.

Resistansi terhadap cinta yang lain mesti kuperkuat, dan itu berarti induktansi dan kapasitansi cintaku padamu harus kuperkuat pula. Aku harus melakukan ini malam, agar cemburu dan curigamu tak bersemesta, yang ujungnya, raga dan jiwamu yang terluka. Aku tak rela, lebih kupilih aku saja yang menderita karena hujaman rinduku padamu yang terus datang mendera, aku tak perlu mengelak atau menangkisnya.

Malam, sejenak aku terdiam, kupikirkan kembali laku diantara kita. Aku berharap tidak timbul reaktansi berlebihan karena perubahan arus atau tegangan hubungan kita yang yang diakibatkan kapasitansi atau induktansi yang berlebihan. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar