Jumat, 12 April 2013

Salam Sore Padamu yang Tak Sempurna

Aku tahu. Panas terik mencipta suasana sendu, semangat melayu. Mataku meredup memandangmu, bukan karena kamu payah atau tak punya pesona lagi, tapi lelah menderaku menanti jawabmu. Aku linglung, bingung hingga semaput menyelimuti raga.
Beberapa tanda telah kukirim, signal telah kupancarkan dari stasiun hatiku. Pemancar transimetter telah kutegakkan, sekiranya gelombang rasaku sampai di terminal receiver-mu. Itu harapku, sekiranya carrier yang menujumu tidak ter-interferensi, kuyakin kamu mampu menginterpretasikannya dengan baik. Tapi sayang, itu hanya imajiku, nyatanya kamu masih duduk diam bersemesta dengan kebisuan. Aku tak tahu, apakah antena directional yang kamu pakai atau omni atau tidak sama sekali. Ah…, sudahlah, hatiku dangan hatimu mungkin beda bandwidth dan besarnya gain frekuensi kita yang jauh berbeda. Sungguh, aku harus belajar lagi tentang cinta.
Aku tersesaki kehampaan. Pintaku pada sore, agar ada feedback darimu, namun tak kutemukan jua. Aku bergelimang keheningan. Kupelajari sekat-sekat beda yang ada diantara kita. Sekiranya kutemukan celah untuk menjamahmu segera, akan kupatahkan sekat-sekat itu dan kemudian kita berada dalam ruang cinta. Aku ambigu, bingung menentukan sikap, memilih amplitudo rasa yang kuperluas atau frekuensinya yang kuperkuat. Amplitudo kuperluas, itu berarti coverage rasaku tentangmu semakin lebar, dan kalau frekuensi kuperkuat, jarak menujumu semakin kupersingkat. Entah apa yang akan kulakukan. Aku terjebak.
Sore, senja akan menjelang. Indahnya lembayungmu perlahan berlalu, tapi kamu jangan risau. Besok aku masih tetap disini menunggu, siluet senja biar menjadi antara agar rindu tercipta. Salam sore padamu yang tak sempurna!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar