Aku
tahu. Panas terik mencipta suasana sendu, semangat melayu. Mataku
meredup memandangmu, bukan karena kamu payah atau tak punya pesona lagi,
tapi lelah menderaku menanti jawabmu. Aku linglung, bingung hingga
semaput menyelimuti raga.
Beberapa
tanda telah kukirim, signal telah kupancarkan dari stasiun hatiku.
Pemancar transimetter telah kutegakkan, sekiranya gelombang rasaku
sampai di terminal receiver-mu. Itu harapku, sekiranya carrier yang
menujumu tidak ter-interferensi, kuyakin kamu mampu
menginterpretasikannya dengan baik. Tapi sayang, itu hanya imajiku,
nyatanya kamu masih duduk diam bersemesta dengan kebisuan. Aku tak
tahu, apakah antena directional yang kamu pakai atau omni atau tidak
sama sekali. Ah…, sudahlah, hatiku dangan hatimu mungkin beda bandwidth
dan besarnya gain frekuensi kita yang jauh berbeda. Sungguh, aku harus
belajar lagi tentang cinta.
Aku
tersesaki kehampaan. Pintaku pada sore, agar ada feedback darimu,
namun tak kutemukan jua. Aku bergelimang keheningan. Kupelajari
sekat-sekat beda yang ada diantara kita. Sekiranya kutemukan celah untuk
menjamahmu segera, akan kupatahkan sekat-sekat itu dan kemudian kita
berada dalam ruang cinta. Aku ambigu, bingung menentukan sikap, memilih
amplitudo rasa yang kuperluas atau frekuensinya yang kuperkuat.
Amplitudo kuperluas, itu berarti coverage rasaku tentangmu semakin
lebar, dan kalau frekuensi kuperkuat, jarak menujumu semakin
kupersingkat. Entah apa yang akan kulakukan. Aku terjebak.
Sore,
senja akan menjelang. Indahnya lembayungmu perlahan berlalu, tapi kamu
jangan risau. Besok aku masih tetap disini menunggu, siluet senja biar
menjadi antara agar rindu tercipta. Salam sore padamu yang tak
sempurna!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar