Aku tahu, sepi menyelimuti ruang kita. Seperti
kemarin, engkau masih setia menyendiri, menawanku dalam ruang sunyi.
Gelap membungkus pertemuan kita kali ini, sekedar berkaspun tak nampak.
Suara yang biasanya merdu keluar dari bibir ranummu, kini tergelatak tak
bernyawa, , menyisakan fatamorgana, tak berarti, meniada. Senyum yang
selalu merona merah, kini memudar, tak ada garis parabola terlukis
dipesonamu, kelabu, mengabur.
Malam, tak bisakah kau menyapaku sekedar bertanya kabar tentangku?
Rentang waktu yang membujur kaku melintang dihadapan kita. Aku sadari,
tak tahu yang terjadi pada dirimu malam, kamu rasakan senyap atau
sumringah, aku tak tahu. Sendiri aku meresapi waktu. Tak ada kata
terucap, tak ada jasad tergerak, bahkan jiwa pun berjalan pada frekuensi
yang penuh dengan noise. Terdistorsi.
Ikhlas, mungkin sebuah kondisi yang mesti kujamah. Tak peduli mawar lain
yang mempesona, tak peduli buah yang lain meranum, anggukanmu saat
kupinta setia kala petang menyapa memberiku cahaya. Lambaian gemulai
belah tanganmu saat engkau menuju pagi ke arahku, kumaknai sebagai
pelepas dahaga rindu, yang paginya aku kehabisan aksara mengurainya.
Mungkin selama ini kita terlalu telanjang dalam menjalani hubungan ini,
perlu isolasi dan keterjagaan, tak terlalu dekat dengan medan listrik
hiruk pikuk materi, dan kalau mampu, signal to Noise Ratio jalinan hubungan kita perlu ditingkatkan, hingga noise itu bisa kita redam. Salam malam padamu yang tak sempurna!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar