Aku
kelam, kucoba sapa malam. Saya ingin berbagi kisah bahkan mungkin
kasih, tapi entah kemana ramahnya. Malam seketika diam saat kuhaturkan
pinta untuk menemaniku. Kugerakkan jasad menghampirinya, tapi malam
hanya bisa membisu. Diam dalam suram. Tanganku coba mengelus belai
tubuhnya, malam tak memberikan respon, mungkin malam telah mati rasa,
seperti aku, ketika pagi datang mematikan kata. Pagi aku kehabisan
aksara, serupa malam yang telah mati rasa.
Kududuk diam pula,
hadirkan tatap nanar pada malam, sambil kutopangkan dagu. Pandanganku
menjamah seluruh tubuhnya, tak kutemukan cela. Sempurna. Seperti
kemarin, kali ini aku masih mengaguminya. Kemarin masih sempat bercanda,
bersenda gurau, saling melepas keluh. Mungkin malam sudah bosan berbagi
denganku. Atau kami perlu istrahat sejenak dalam hubungan ini, mungkin
perlu bagiku menapaki jejakku yang pernah kelam sekelam saat ini.
Meresapi waktu yang mungkin pernah menyakiti malam. Entah, tak kutemukan
pendar.
Aku semakin larut dalam lautan tanda tanya. Karena
jasad telah tergerak dan katapun telah terucap, mungkin ini momen yang
tepat untuk merekatkan jiwa pada malam. Jiwaku sekarang mendekatimu,
mencoba menyapamu dari sisi yang tak mungkin kamu kira. Kataku dengan
katamu tidak seirama, jasadku dengan jasadmu pun berbeda dimensi, tapi
kuharap jiwamu dengan jiwaku berada dalam bandwidth frekuensi yang sama.
Salam malam padamu yang tak sempurna!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar