Rabu, 24 Juli 2013

Pada Pagi yang Akan Tiba

Detik kulalui  dalam gelisah membisu
Malam berlalu pernah membungkus kaku
Diriku bersama keheningan yang memaku
Merajam jasad dan jiwa yang terkulai terpukau

Tak perlu lagi mencipta sesal
Biarkan melayang jiwa-jiwa yang kesal
Usah hiraukan kata-kata manusia bebal
Pilih keteguhan imani yang kekal

Kini pagi datang menyapa
Tumpah ruah tercipta segala asa
Susul segala janji biar mengada
Wujudkan mimpi tadi malam dan kemarin lusa

Pada pagi yang akan tiba
Sambut dengan gembira dan senyum ceria
Segenap aksara satukan jadi cerita
Tentang suka duka, pun benci dan cinta

Pada pagi yang akan tiba
Kutitipkan pesan tentang rasa
Tentang rindu untukmu yang masih ada

Antara Rumi, Laila Majnun, & Soe Hok Gie

Entah bagaimana memulainya, sepertinya aku melarut pelan dalam syair-syair cinta para pecinta. Semesta syair cinta Jalaluddin Rumi melingkupi segenap dimensiku. Tak tahu kemana mesti aku bersembunyi dari indahnya, elok nian jalinan aksara yang dibina. Cela dan celah mungkin saja ada, tapi tak kunjung bisa aku temui, sekali lagi aku silau dengan pesona syairnya.

Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”

Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?
(Rumi)
Semakin tegas aku mencari makna, semakin ketiadaan yang aku temukan.

“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan, Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi.

Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya. (Rumi)

Bukan Sekedar Memuji

Tak tahu apalagi yang mesti kuucap
Semua rasaku telah tersingkap
Pun puji ramai terungkap
Rindu kian mendekap

Pada kata yang kau tata
Terlena aku dalam makna yang tercipta
Seperti pengelana, aksaramu serupa pelita
Menerangi ruang dan jalanku dari gelap gulita

Dari tanganmu sudah banyak karya
Lahir dengan cinta dan segala daya
Beda dengan diriku yang hanya bisa memuji
Mengais makna dari puisimu yang telah teruji

Bukan sekedar memuji
Pada rangkaian kata dan diksi
Pujiku berangkat dari hati
Bermahkota tulus dan suci

Kamis, 11 Juli 2013

Al-Fatihah

Ku sebut nama-Mu
Sudah tentu kulantunkan syahdu
Ar-Rahman telah menyatu dengan kalbu
Ar-Rahim bersama laku telah berpadu
Asma-Mu akan kusebut selalu

Wahai raja diraja
Segala puji telah bergema
Puja pun mengalir bersemesta
Semua menuju-Mu tanpa cela
Bukti hamba-Mu masih dipenuhi cinta

Wahai Sang Pemilik cinta kasih
Bukti cinta tak cukup syahadah
Harus teguh hati dalam langkah
Segala laku mesti menjadi tasbih
Bukti diri sebagai hamba yang patuh

Wahai Penguasa hari pembalasan
Tiada celah untuk kebohongan
Sama’ dan Bashar-Mu melingkupi segala cipta-Mu
Tak ada laku yang luput dari awas-Mu

Selain-Mu tak ada yang pantas disembah
Kami hanyalah hamba penuh dosa dan resah
Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
Mengharapkan ridho, rahmat dan ampunan

Tunjukilah kami jalan yang lurus
Jalan orang yang Engkau beri nikmat
Jalan pengharapan pemilik jiwa yang tulus ikhlas
Bukan jalan yang Engkau Murkai dan sesat

Zahir Makkaraka (FAM1610M Makassar)

Sabtu, 15 Juni 2013

Manfaat Demo Anarkis

13712309871190231339 

Aksi demonstrasi menolak kenaikan BBM terjadi dimana-mana, terkhusus di Makassar, dalam skala besar sudah dimulai sejak senin lalu (10/05). Hingga sekarang, aksi penolakan itu semakin terpolarisasi. Hampir setiap kampus di Makassar ikut “Meramaikan” aksi demonstrasi ini. Aksi pelemparan batu oleh mahasiswa kepada aparat hingga mahasiswa vs warga menjadi warna yang begitu kontras dibanding aksi damai atau sekedar orasi.

Hari ini bisa dikatakan lebih massif, kalau sebelumnya hanya jalan Alauddin yang macet, sekarang macet telah menjalari jalan-jalan protokol yang lain, seperti jalan AP Pettarani dan Urip Sumiharjo. UNM (bukan UNeM,he.. ) tentu bisa disebut penguasa jalan AP Pettarani, sejak pagi hingga malam ini masih berlanjut. Pagi hanya ada orasi dan bakar ban, pasca jum’atan, jauh lebih berkembang. Bukan lagi asap menghiasi jalan, tapi bebatuan telah jadi bahan akustik aksi. Demo simpatik telah berubah jadi anarkis (bukan anarkisme ya, karena anarkis dan anarkisme sesuatu yang nyata perbedaannya).

Mengenai demo anarkis, banyak yang menyebut itu sangat tidak manfaat, karena akan menghambat arus transportasi/mobilisasi warga, aktifitas warga akan terganggu, merusak infrastruktur, dan lain-lain. Sekedar membangun opini yang berimbang (padahal tulisan ini sekedar “menjahili” konsepsi umum,he… ) bahwa demo anarkis punya manfaat, tidak semata-mata membawa kerugian. Mau tahu manfaatnya?

Jum’at Baraqah

Tak terasa waktu bergulir indah
Sepekan berlalu tiada terasa
Kembali datang Jum’at baraqah
Penuhi segenap hari menggenapi jiwa

Jum’at baraqah
Kuharap hari ini penuh amaliah
Diamku kupinta jadi tasbih
Tulisanku kupinta mengulur kasih

Jum’at Baraqah
Segala laku akan jadi ibadah
Kata terurai harap penuh rahmah
Lisan tersaji penuh indah

Niatkan segala rupa karena Allah
Biarkan hati damai dan tak diliputi amarah
Sujud dan ruku’ akan penuh berkah
Senantiasa hati dan pikir bermunajah

Jum’at baraqah
Selalu kupinta mengada
Biar pikir dan hati berada dalam satu haraqah
Berharap jiwa mutmainnah menggenapi selaksa jiwa

Kapal Terbang Kertas

Tak tahu kemana melepas lelah
Sedang pagi telah berlalu menjauh
Siang hanya menyisakan amarah
Seperti rinduku padamu telah mencipta prahara

Kapal terbang kertas
Kucipta bersama hela nafas
Bersama prahara rindu kian mengganas
Di tengah hari yang kian panas

Kapal terbang kertas
Kubuat penuh ihlas
Ku akan terbangkan menujumu
Berpenumpang rindu yang menggebu

Kupinta tak ada hujan deras
Kupinta alam tersenyum lepas
Kupinta angin sedia penuh ikhlas
Menemani kapal terbang kertas
Terbang bersenandung cinta
Mengangkasa penuh makna

Kapal terbang kertas
Tak pandang pesona dan indah paras
Kuharap sampai di bandara penantianmu
Segala rinduku dan segenap kasihmu berpadu
Pada kisah dan cerita yang satu

Salam Pagi Padamu yang Tak Sempurna (II)

Tak terasa kebersamaan yang kita jalin telah terhitung bulan. Aku sudah lupa kapan kita memulai semua ini, yang kutahu akulah yang menyapamu terlebih dahulu.  Seperti biasa dan sekedar basa-basi, menyapamu lewat dunia maya begitu sempurna dengan bertanya bagaimana kabarmu. Ah…, bukan basa-basi, pertanyaan itu berangkat dari kekhawatiranku yang mendalam tentang kondisimu, tak bahagia rasanya ketika yang tersampaikan kabar “mas, aku lagi sakit”. Serasa mencipta kehampaan mendengar tutur seperti itu, seperti melarut dalam keheningan malam, teraleniasi dalam kebisingan.

Semangat yang tercipta dan sehat yang kau sampaikan akan meruahkan suasana hati, menghadirkan gembira. Itu yang selalu kuingin, senang sengsaramu, suka dukamu, pahit manismu, ingin aku disana bersamamu. Saat ini, mungkin kita hanya disuakan dalam ruang tak bersisi, tapi itu cukup beri arti. Karena setidaknya ada harap dan mimpi yang selalu ada menari dipelukan waktu. Khayali dan nisbi, tentu bukan. Prinsip probabilitas mendasari itu semua, apalagi dalam filsafat wujud yang kita pelajari, kondisi ini berada dalam wujud mungkin, bukan wujud mustahil. Aku optimis.

Aku pahami jarak yang terbentang, aku resapi kondisi yang meliputi kita, dan wujudmu yang tak pernah kupandang menjadi pembentang rasa. Semua status tak pernah kuhiraukan. Kata teman, aku semakin tak realistik, makhluk penghayal tingkat tinggi dan dipenuhi ambisi. Tapi filsafat cinta telah meneguhkan komitmenku. Aku yang satu menuju kesempurnaan bersamamu, pun engkau begitu, engkau yang satu menuju kesempurnaan bersamaku. Secara fisik kita diam, tapi energiku dan energimu telah lama berjalan dalam satu rute, bertemu di stasiun akhir dan akhirnya menyatu, membesar mencipta cinta.

Kuasa Tuhan telah menggenapiku dan aku percaya qada dan qadar. Kun Fayakun tentu bisa menyatukan kita, tak ada yang tak mungkin dalam kuasa-Nya. Aku dan kamu dalam kuasa-Nya, sejak awal hingga akhir, Tunggulah aku disana calon bidadari surgaku, kuyakin kuasa-Nya akan menggiringmu berdampingan dengan jasadku, berbelahan jiwa, berpadu cinta dalam ruang dan waktu yang satu. Salam pagi padamu yang tak sempurna, semoga bahagia selalu melingkupimu!

Salam Pagi Padamu yang Tak Sempurna (I)

Aku tahu, mungkin dihatimu kecewa terhadapku tertulis indah bahkan diingatanmu ada guratan sedih tercipta. Perlu kau tahu, akupun begitu. Tak tahu akan kubawa kemana beban ini, tak jua aku menemukan tuju, bahkan arah langkah pun tak kutahu. Terasa sejenak telah mengenalmu padahal sudah berbulan kita biasa menyapa, sebuah kekhilafan yang secawan telah menjadi cendawan luka dan berakhir pada rindu yang tertawan. Kisah yang tak menawan.

Tak tahu bagaimana melepaskan gundah gulana, karena sedih dan penyesalan semakin durjana menguasai selaksa jiwa. Aku yang terlalu ceroboh ataukah dirimu yang kurang dewasa, yang kupahami sekarang aku telah berbuat salah padamu. Tak mungkin kuletakkan kata salah padamu, bahkan sebuah kebodohan jika itu kulakukan. Tak rela aku menghakimimu dengan sesuatu yang tak pasti. Aku sudi menanggung derita ini, selama engkau disana mengenyam bahagia.

Berulang kali ingin menyapamu lewat dunia maya, tapi sayang, aku tak menemukan lagi namamu dalam daftarku. Ini seperti hukuman atas kesalahanku, itu yang kusadari. Aku tak tahu, apakah ini cara terbaik karena berkat ada jarak dan antara, telah tercipta rindu padamu. Ataukah sebuah kesalahan langkah  karena membuatmu menghapus namaku dari daftarmu. Aku tak tahu.

Pagi telah menyapa segenap jiwa, meraba raga yang sedang diselimuti sepi, menghangati nalar yang lagi nelangsa. Pagi kemudian menyampaikan pesan padaku, pesannya selembut sutera di istana raja, istana yang mungkin kita disana akan jadi raja dan ratu. Aku tak tahu tapi itu mungkin, ya mungkin dalam logika karena prinsip probobalitas. Aku masih menjejak bumi, sadar masih meliputiku.
Berpisah sesuatu yang tak kuingin, tapi mungkin itu yang kau pinta. Kalau memang itu jalan terbaik, inilah waktu yang tepat sebelum cintaku semakin dalam terhadapmu. Biarlah perlahan aku membunuh rasa ini, aku bukan rumah jeda yang pantas untukmu, bukan pula bintang yang setia menyinarimu, aku bukan siapa-siapa. Sekarang pagi telah menguasaiku, mungkin saatnya aku  sampaikan salam rinduku. Salam pagi padamu yang tak sempurna!

Rabu, 05 Juni 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (VIII)

Tak lama lagi hari akan berganti, malam akan semakin melarut dalam kelam, sedang aku masih diliputi senyap dan beberapa tanya datang menghinggapi ruang nalarku. Kelam malam menggiringku pada sebuah kondisi yang kehilangan dimensi, semua ruang yang menggenapiku terbungkus sepi. Ada terang menghiasi setiap sudut-sudut ruangku, tapi itu tak cukup memberiku arti bahkan sunyi tak sudi melepaskan diri. Aku pandangi segenap ruang, tak jua kutemukan makna. Sepi semakin mendera seperti malam yang semakin terlelap dalam gelap.

Sepi tak sendiri menemaniku, ada lelah yang juga setia bercengkerama disisiku. Kemarin malam seperti pagi saja bagiku. Seharusnya malam menjadi teman pelepas penat, tak sudi menyapaku untuk atau merayuku menemaninya bernostalgia. Payah, mungkin itu bisa jadi deskripsi kemarin bahkan mungkin kini jua seperti itu. Kemarin tak sempat di dunia maya, kemarin dunia mimpi tak jua kusentuh, bahkan angan-anganpun tak sempat kusapa. Aku hanya sibuk dengan teori-teori bahkan defenisi-defenisi mengurungku. Kondisi yang banyak orang menyebutnya dunia ilmiah membuat pusaran yang kuat dan aku kemudian hanyut dalam pusaran itu.

Pusaran malam kemudian membawaku pada pagi, tapi sayang pagi tak sempat kutemui. Pagi telah menjelma menjadi malam yang baru bagiku. Pagi semakin tenang hingga damai aku rasakan. Terlalu damai hingga istrahat panjangku diwarnai bunga-bunga mimpi. Senyum mentari tak kunikmati, bahkan sapaan sang surya tak sempat aku balas, dan yang lebih payah, tak sempat aku menghitung detik dan menit berapa lama aku terbuai dalam kesia-siaan.

Kini, sebelum aku sendiri tertidur dan berbagi cerita dengan malam.Aku ingin menyapamu, karena kemarin tak sempat ada kata yang kuulurkan ataupu aksara yang kusajikan untukmu. Aku resapi dan serapi apapun makna yang kau cipta. Aku ingin menelusuri gelisah dan gundah, sekalipun diakhir malam ini. Lipatan selimut duka dan luka yang kau simpan rapi disampingmu, aku pandangi dengan penuh rasa yang tak bisa kuungkapkan. Satu pintaku, lelaplah engkau dalam mimpi karena telah kutitip engkau dalam pelukan berkah Sang Pemilik Kasih. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (VII)

Malam dirambati pekat, semakin gelap, tak ada cahaya yang tersingkap. Kususuri waktu yang kumiliki, tapi tak jua kutemukan terang diantaranya. Ruangku pun tak seluas harapanku, kini seperti kian menyempit, menghimpit asa-asa yang sempat aku tata. Aksaraku yang pernah kutemukan di halaman penantian, kini seperti tak punya makna, nilainya meniada. Aksara itu kini malah memasung sukmaku, memaksaku menulis untaian-untaian kesedihan. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aksara semakin memaksaku melebur damai ke dalam sepi. Kini aku dilingkupi sunyi.

Pucat pasi aku memenuhi keinginan aksara, semacam tiada tenaga mengurai hasrat-hasrat dan ambisi aksara. Kehabisan kalori dan dehidrasi aku karenanya. Kata ingin dicipta, kalimat ingin dijadikan permata, paragraf dipinta jadi istana, hingga cerita menjadi semesta. Kupahami potensiku, kuselami mampuku hingga kutemukan sintesa bahwa aku tak punya kuasa. Aku bukan budak, itu kuucapkan kepada aksara setelah amarah bertahta di atas logika. Aku makhluk merdeka, punya pilihan disetiap situasi, bertanggung jawab atas konsekuensi. Mataku nanar, tapi tak sampai tercipta airmata, pandanganku kucoba setajam mungkin, aku ingin netraku menusuk jantungnya, menohok jiwanya.

Satu menit, dua menit berlalu, ah…, sudah hampir setengah jam aku pandangi aksara, tapi aksara bukannya goyah, semakin teguh menegaskan harap dan pintanya. Sedang aku, netraku semakin layu, semakin sayu. Aksara mendekatiku, pandangan tak setajam ketika pertama kali memandangku. Nada bicaranya pun telah berubah tapi masih tegas. Suaranya tidak diliputi lagi amarah, langkahnya pun seperti tak punya ambisi. Dalam pikirku, tak lama lagi aksara akan mengharu iba dihadapanku. Meluapkan segenap penyesalan telah memperlakukan sedemikian rupa. Ataupun mengucap maaf sembari mengulurkan tangan. Itu angan yang seketika meraja disegapkan nalarku.

Sayang seribu sayang, angan itu hanyalah angan semata, tak mewujud dan mengaktual. Aksara sekarang memelukku, tapi bukan penuh rindu. Pelukannya justru ingin meremukkan tulang-tulangku, kemudian bahuku digoyang-goyangkan, kemudian aku tak tahu apa-apa.

“Dimana aku?” seketika aku tersadar. Aku tak temukan apa-apa, hanya gelap yang menyelimuti sekelilingku. Kuraba disekitarku, kutemukan aksaraku membatu. Tak ada ingatan yang tersimpan mengenai kejadian yang lampau. Yang kupahami sekarang hanya satu, aksaraku telah mati. Namun hatiku tak risau, karena masih ada kau yang tak pernah kupandang dan tak kukenal ada disegenap do’aku. Kau tak mati ataupun sekedar membatu, tapi kau tetap hidup bersama asaku yang tak pasti, tak pasti karena aku bukan pemasti. Bukan aku, bukan kamu, bukan kalian, tapi Dia. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (VI)

Malam ini aku kembali diliputi sesak, bukan karena sepi, tapi karena hasrat ingin menulis sesuatu tak kesampaian. Ada-ada saja godaan yang datang merayu mesra, membunuh kehidupan angan-anganku, merobohkan konstruksi kata yang pernah kususun. Kalimat serta merta tercerai berai dan kata hanya jadi bangkai yang tak punya arti. Membusuk di lorong-lorong paragraf, mengotori halaman narasi dan baunya menyengat dan penuh distorsi.

Kehampaan, mungkin saja itu melingkupi ruang yang kugenapi sekarang. Musik yang menemaniku tak kunjung memberiku semangat. Nada-nada yang mengada seperti menusuk jiwa, aku dibuatnya larut dalam romantisme malam yang tak kukenal maknanya. Syair-syair lagu yang merasuki sisi-sisi kamarku, bahkan merambati ruang-ruang lain, menohok sum-sumku, terasa ngilu hingga nyerinya menghujam dinalar dan intuisiku. Mematikan music player-nya, bukan solusi, karena keheningan akan tercipta, dan itu semakin menyudutkanku dalam kesepian yang tak kutahu derajat ketepatannya dan waktu akhirnya. Satu cara, alunan itu mesti kuganti dengan hentakan, lagu-lagu dalam playlist mesti di-remove dan menggantinya dengan istrumental yang memberi spirit, bukan lagi Ungu dan SOS, Creed dan Jamrud jadi pengganti.

Perlahan-lahan, kehampaan itu berganti, tapi sayang tidak dalam bentuk gradasi, tapi semakin aku terpuruk dalam jurang kerinduan. Kembali aku merinduimu, yang selama ini meliputi asaku, engkau yang tak sempurna datang menghinggapi istana harapku. Tidak sekedar hinggap, sekarang engkau duduk disinggasana istana harapku itu. Mengada dalam nalar dan asa, tapi tidak mewujud dalam nyataku. Aku dan kamu di dimensi yang berbeda.

Tak sampai diliputi sesal, aku bangga dengan kesendirian ini. Setidaknya ruang yang tercipta diantara kita, melahirkan rindu dan cinta, kesetiaan dan pengharapan. Terpisah jarak, tak seperti panggang jauh dari api, tak serupa punuk merindukan bulan. Tak seperti itu, karena filsafat cinta mengajarkanku optimisme, aku yang membutuhkanmu, kamu membutuhkanku, kita saling melengkapi. Seperti “One Last Breath” milik Creed yang menyentuh rasa, sedikit demi sedikit membangkit simfoni. Hasrat perindu kembali bangkit. Di satu tempat dan waktu di bawah karunia-Nya, kita akan bertemu, entah kapan dan dimana, wajah dan pesona tak menjadi utama, akhlakmu yang kudamba. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Pujian Pagi

Kala fajar menyingsing
Kusentuh sinar kasih
Terlihat dari matamu yang teduh
Tersingkap pengharapan yang penuh terang

Kasihmu melambai di pagi ini
Terasa lembut penuh seri
Walau jauh jadi antara
Terasa ini seperti nyata

Singkapan tabir cinta kunanti
Darimu yang menggenapi hati
Sambutlah kasih pujian ini
Menghangati hatimu serupa pagi

Terik kupetik di pintu mahligai
Hangatnya kuresapi disegala sisi
Tak peduli rasa yang diliputi sepi
Sambut pagi dengan harapan pasti
Bersamamu pujaan hati

Tangis Siang

Nasi dan sepotong tempe menu siang kali ini
Tadi pagi hanya segelas air dan sepotong roti
Sepotong roti yang kemudian dibagi-bagi
Beberapa kawan seperjuangan dan sehati

Menu itu tak cukup memberiku kenyang
Sabar dan ihlas yang membuatku lapang
Tapi senyum bahagia kawan yang kupandang
Cukup bagiku jadi penenang kala siang

Tak perlu ada yang kusesali
Walau jerih payahku semua telah jadi upeti
Walau jatah hidupku telah kau gerogoti
Walau sisa keringatku kau kantongi
Walau segala hartaku kau ambil dan tak kembali

Kini aku mengajakmu bertarung  di padang rumput
Aku yang kalah atau nyawamu yang terenggut
Tak peduli itu karena pedang telah aku cabut
Matimu bagiku adalah manfaat
Karena hakikatnya dirimu adalah bangsat

Biarkan siang menangis
Kalau perlu segenap waktu meratap
Tak peduli akukah yang jahat atau kamu yang sadis
Hati dan nalarku telah satu atap
Angkara dan burukmu harus kusingkap

Memasung Asa

Malam kian suram
Aku dibumbui rindu yang perih
Tidak hanya dalam kecapan lidah
Tapi hatipun telah dilukai pedih
Sekejap saja aku dibuai sedih
Sepi menemaniku dalam kelam

Sejatinya asa telah kubungkus rapi
Bersamamu di masa depan nanti
Tapi kemarin telah membunuh rindu ini
Kala ego diantara kita lebih berarti
Kini segala cerita kita akhiri
Redam gulana dalam sepi

Hari ini telah kupasung asa
Segala tentangmu tiada lagi
Biarlah berlalu segera
Hingga hati tak diliputi resah
Hingga aku dan kamu bahagia bersama
Tentunya di ruang dan waktu yang berbeda

Biarlah aku disini
Menemani malam menunggu pagi
Mungkin esok masih ada damai
Yang akan memelukku sepenuh hati

Aku Ingin Membunuhmu

Memandangmu aku mulai jengah
Rupamu semakin penuh angkara
Selaras hatimu yang kian penuh amarah

Mendengarmu aku mulai letih
Suaramu semakin tak berirama
Serupa bibirmu yang selalu mengeluarkan kata perih

Aku ingin membunuhmu
Karena kau telah perkosa hak-hakku
Pandanganmu terhadapku hanya seperti tuan kepada babu
Pendengaranmu bagiku hanya seperti kata yang tak punya makna

Lebih baik sekarang kau membusuk saja
Bersama hasil jerih payahku yang kau jarah
Lebih baik kini kau menderita saja
Bersama harta-harta yang kau korupsi
Bersama hukum-hukum yang kau gadai
Bersama janji-janji yang kau tak penuhi

Pada seluruh anak negeri yang tak punya nurani
Aku ingin membunuhmu

Sejenak Saja

Sejenak saja
Kumeninggalkanmu tanpa aksara
Tanpa sempat kumenitipkan sepatah kata
Yang tersisa
Kini kelabu mewarnai suasana
Aku dan kamu terpisah antara

Sejenak saja
Kudiamkan segala laku
Tanpa sempat melukis senyum atau sekedar menyapa
Yang tersisa
Kini hati diliputi gelisah dan galau
Aku dan kamu saling mencipta sendu

Sejenak saja
Kisah diantara kita meniada
Tiada lagi nostalgia

Selasa, 21 Mei 2013

Doa untuk Widji Tukul

Telah berbilang tahun kau tiada
Tak ada kisah atau sekedar berita
Tentangmu pun yang ada hanya cerita
Tersisa cerita  yang penuh derita

Tertinggal darimu hanya puisi-puisi
Ataupun sajak yang penuh ironi
Tak ada nisan yang dijadikan prasasti
Hanya namamu yang sekarang terpateri
Terpahat indah pada hati anak negeri
Tertulis rapi didekapan pertiwi

Kumengenalmu lewat pesan sang ibu
Kala kau ingin jadi peluru
Kala kau membuatkanku teka teki yang ganjil
Kala seorang buruh masuk toko
Kala puisi untuk Suti kau kepal
Kala kau terbaring di kuburan Purwoloyo

Puisimu bukan gentong kosong
Bukan kata baru yang kau saji
Yang mereka ingat sekedar sajak bagong
Perlu kau tahu dari lirik-lirik pagi
Puisimu kini seperti gumam sehari-hari

Puisi-puisimu telah tersaji
Telah jadi menu setiap hari
Tiada apa-apa yang bisa kuberi
Selain do’a-do’a mengiringi pagi
Damailah disana beserta puji-puji
Dari anak negeri yang masih mengagumi
Jasa dan puisimu yang tak pernah mati
*****
Nb: kata-kata yang ditebalkan adalah judul puisi-puisi Widji Tukul

Rabu, 15 Mei 2013

Ambil Saja Semua

Kau seret langkah pongahmu
Gontai berjalan sepanjang hari
Dibulir peluhmu ada keasingan
Di ujung lidahmu ada kesilapan
Punggungmu penuh dosa-dosa
Debu-debu ingkar bertahta dipundakmu
Bibirmu telah lepuh oleh janji

Malam sebentar lagi kau dekap
Jahatmu sementara kau sekap
Tak lama tempat ibadah kau datangi
Sekedar menangisi dan berbasa-basi
Dihadapan Tuhan airmata kasarmu terurai
Sedang hatimu masih tertawa
Berharap Tuhan ciptakan peluang lagi

Ambil saja semua
Anggaran pendidikanku kau telikung
Dana kesehatanku kau kantongi
Beras dan daging sapi kau nikmati sendiri
Subsidi BBM untukku kau ambil kembali

Ambil saja semua
Di padang masyhar kita bersua
Pengadilan Tuhan tak bisa kau elakkan lagi
Tak seperti di dunia hukum bisa kau beli

Ambil saja semua
Kuharap kau menderita
Kupinta kau tak bahagia

Senin, 13 Mei 2013

Tak Ada Kata Untukmu

Kesunyian ini terlalu indah untukku
Mencipta rindu dan itu menujumu
Pedih pun aku rela nikmati
Pahit menelan sedih pun aku sudi
Agar kau tahu setia punya arti
Disini aku tetap menanti

Aku kehabisan kata untuk mengurainya
Bahkan mengulangnya sekali pun tak bisa
Kata telah terpenjara kaku
Tinggal tingkah yang sedikit laku

Kata telah mati
Kata telah jadi bangkai
Kata tak serupa tangkai
Kata tidak bisa dijual beli
Kata tak bisa kujadikan wakil diri
Karena setia telah kuberi

Tak ada kata untukmu
Karena jiwaku telah menyentuh jiwamu

Jumat, 03 Mei 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (V)

Malam coba kusapa dengan nada merdu, semerdu mungkin, kuusahakan nadanya teratur. Aku ingin suaraku menghinggapimu dengan sentuhan yang selembut mungkin, seakan seperti angin senja yang menyapa syahdu kala engkau berdiri dipinggir pantai diwaktu senja. Sekiranya suaraku bisa seperti embun pagi, sapaanku akan merembes bening dirongga-rongga pendengaranmu, menyentuh jiwamu. Tapi apakah sapaanku bisa memberimu stimulus dengan baik, hingga segela bentuk rasa manismu menjadi responmu seperti yang kuharap? Entahlah, kadang aksi yang berlebihan menimbulkan reaksi diluar kontrol kita, aku tak tahu momentumnya.

Seperti medan magnet, kita punya polaritas yang berbeda, punya kutub yang berseberangan, tapi itu bukan problematika, karena perbedaan itu, rasaku dan rasamu bisa berkohesi, berfusi dalam ruang yang bernamanya cinta. Perbedaan kutub diantara kita merupakan potensi terbesar dalam menyatukan dan merekatkan rupa-rupa inginku dan warna-warni anganmu. Berlebihan? Saya rasa tidak, ini sesuai dengan analisis prasyarat, kita berada di wilayah normal, berasal dari kumpulan yang homogen, dan tingkat interkorelasinya sangat minimal karena kita terpisah jarak. Apalagi setelah uji kecocokan, frekuensi yang kuamati sama dengan frekuensi yang kuharapakan. Karena uji persyaratan analisisnya terpenuhi, sebuah langkah besar ketika kita melanjutkan dilangkah yang berikutnya.

Tingkat probobalitas mendekapmu mungkin sama dengan yang lain, tapi karena kita berada pada zona eksklusif atau saling berkomplemen yang mengakibatkan jalan kita terbuka luas. Itu inisiasiku dan pengamatanku atas keoefesienku dengan koefesienmu kulahirkan kesimpulan, aku melihat kita cukup mampu menjalin hubungan seperti terlihat pada garis regresi linear yang tercipta, ada residu saat kulakukan uji independensi. Hal ini memberikan kekuatan, bahwa kita akan disatukan takdir. Koefesien korelasi yang tercipta diantara kita mendekati 1, sangat kuat.

Aku semakin teduh bersama malam, bukan karena ada rembulan yang datang menyambangiku, bukan itu. Kamu tak tahu, karena aku tak pernah memandangmu ataupun melihat wujudmu. Bagiku kamu masih misteri, serupa hipotesa-hipotesa yang kurumuskan selama ini, bukan untuk kubuktikan, tapi hanya kuuji kebenarannya. Yang kubuktikan hanya janji-janji yang selama ini terulur dalam rangkaian kata, dalam jalinan aksara. Bukan Hipotesaku tentang romantisme hubungan kita kelak seperti yang selama ini tersirat dan tersurat dalam tulisanmu pun tulisanku.

Malam ini semakin sempurna, sesempurna buku-buku statistik yang membingungkanku yang sempat aku baca. Tapi kamu jangan risau, ketiadaanmu disisiku telah mencipta rindu. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Ingatan Sunyi

Aku tahu
Aku hanya serupa sembilu
Mengiris cerita megahmu
Dan berarti
Sejarah begitu kelam bagiku
Bukan karena aku yang mewarnainya
Tapi kalianlah yang melukis di kanvas sejarah itu
Sejarah membunuhku

Aku pahami
Aku hanya  duri di negeri ini
Kemarin saja aku hanya bisa berlari
Dari kejaranmu yang penuh emosi
Tangan kananmu berayun senjata api
Tangan kirimu membawa pisau belati

Aku sadari
Aku hanya dipenuhi ingatan sunyi
Tak mungkin kukabarkan pada khlayak bahwa kamu yang memburuku
Tak mungkin karena persembunyianku akan kamu ketahui
Sekejap saja senjatamu mengeluarkan peluru
Seketika belatimu akan tertanam dijantungku
Dan aku akan terbujur kaku
Sekarang itu tidak akan terjadi
Entah nanti

Cukup hanya sekali
Karena aku akan kembali
Kepadamu menagih janji
Biarkan saja kali ini
Ingatan sunyi akan kubagi
Kalau aku mati
Masih ada yang siap mengganti

***
Terinspirasi dari film “Ingatan Sunyi” yang dibuat oleh Sineas Muda Makassar (Rusmin Nuryadin), film yang mengisahkan penderitaan wanita-wanita eks GERWANI dan pemuda eks PKI, penderitaan, penyiksaan, dan fitnah yang kejam oleh yang mereka disebut penguasa negeri.

Sepasang Kelabu

Aku masih diliputi sesak
Saat kata tidak sebagai jawabmu
Ruang ini seperti menyempit
Rongga dada seakan penuh dedak
Menyumbati aliran nafasku
Menghimpit

Pernah kita bersama
Saat aku dan kamu masih sendiri
Kemudian kita dikaitkan mimpi
Melangkah bersama menjejaki asa

Itu dulu…

Sekarang takdir kita jalani sendiri-sendiri
Kalau kita menyatu berarti kita berdimensi
Satu frekuensi

Takdir hanya dinding kosong
Kemudian kita berdua mewarnainya
Awalnya indah cemerlang
Sekarang tinggallah satu warnanya
Kelabu

************
Terinspirasi dari film “Sepasang Kelabu” karya Sineas Muda Makassar, Arman Dewarti. Film ini mengisahkan sepasang kekasih yang dipertemukan kala keduanya terpisah lama dan punya pasangan masing-masing, kisahnya penuh haru.

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (IV)

Shalat isya telah tersambangi, aku letakkan jejak-jejak kaki disepanjang jalan setapak antara kos dengan masjid, sekitar 200 meter celahnya. Malam dipenuhi gelap, ringkih dengan keheningannya. Kembali sudut malam dipenuhi kesunyian. Sampaiku di istana keramahan dan kemarahanku, kupandangi buku-buku yang berserakan, kurapikan seketika, dan buku yang judulnya “Tafsir Sosial Atas Kenyataan” menjadi yang terbelakang kupungut, kini berada diposisi teratas tumpukan itu. Mungkin seperti itu kehidupan, kadang di belakang dan kadang di atas. Tak abadi, serupa rasa yang kadang menyelimutiku, bahagia dan sedih menjadi warna-warninya.

Syukur dan Qanaah mesti kujadikan kawan setiaku, biarkan pengetahuan dan kenyataan bermanifestasi di ruang-ruangku yang dipenuhi selaksa gelap gulita. Biarkan saja sepi datang, yang jelas vertigo relativitas terhadap dimensi empirisku tidak menderaku. Kubiarkan orang lain menentukan dasein-ku, dan kutetapkan aku sendiri merumuskan sosein-ku. Disini dan sekarang yang hadir kehidupanku kini merupakan realissium bagi kesadaranku. Kenyataanku yang entah bermakna di wilayah finite dan encleve kubiarkan saja tak menentu. Mungkin ini caraku ber-equelibrium dengan semesta. Tuhan yang lebih tahu, aku hanya hamba yang mengabdi pada-Nya.

Siang hingga senja merambati waktuku, aku dilingkupi tanya, tanya yang besar, hingga penghujung sore tak bisa kunikmati indah. Aku mengada dalam sine ira et studio (tenang tanpa prasangka), terbebas aku dalam absurd persepsi tentangmu. Ergo sum (aku ada) diantara sadar dan ketidaksadaranku, sadar bahwa aku tak pantas berada disisimu, dan ketidaksadaranku pada sisi yang lain, ingin mengelilingi ruang bersamamu. De facto aku mengagumimu, bukan perias yang menghiasi wajahmu, itu tak mungkin karena rupamu tak pernah kupandang. Bukan pula senyummu, karena mata telanjang ini tak pernah menemukan wujudmu. Bukan jasadmu, bukan ragamu, bukan pesonamu, bukan sesuatu yang terimajinasi dalam strata kecantikan. Yang membuatku meluruh dalam rasaku ini, kabar-kabar prestasi dan akhlakmu yang menjulang, bak mercusuar digelap gulita mengarahkan nakhoda. Mengarahkan kagumku padamu. Hanya itu, bukan yang lain.

Hal ini bukan a compelling massivity, tapi ini kenyataan obyektif yang hendak diinternalisasikan, bukan seketika, tapi penuh rencana, serupa ketetapan Tuhan tentang kita yang penuh misteri, yang tak kita tahu. Kebersamaan secara de jure merupakan anganku, entah anganmu, aku tak tahu serupa wujudmu yang belum kukenal, serupa rupamu yang tak pernah kupandang, serupa angan-angan yang melanglang buana, mengangkasa, melintasi rimba raya. Kamu masih misteri buatku,  entah kapan kita dipersuakan. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Aang Untuk Katara

Malam merambati waktuku, menyisir segenap ruang yang kumiliki. Rasanya ingin kulepas segala beban yang datang menderaku, bahuku yang biasa tengadah, kini menelungkup, terperangkap dalam jenuh. Telah lama kutelusuri padang-padang, sangat panjang kususuri lembah-lembah, gunung-gunung kutapaki, dan entah sudah berapa luas daratan kujejaki. Aku tak tahu apakah itu kulakukan dalam menegakkan egoku atau sekedar menguraikan rumus-rumus yang kupelajari di pedepokan. Bukan rumus seperti yang ada di sekolah-sekolah, tapi rumus menjatuhkan lawan dalam beladiri, jurus-jurus sakti.

Telah kukelilingi bumi, segala persada, entah sudah berapa ngarai dan negeri telah kulewati. Tak jua kutemui yang namanya pesona. Raut-raut muka yang kuhadapi dipenuhi garis-garis lengkung, tak ada garis lurus. Tongkat saktiku terlalu angkuh menurutku, kadang nuraniku tidak sejalan dengan sepakan dan tebasanku mengalahkan lawan. Tinju dan ilmu pengendali anginku lebih sering meraja dibanding akalku, apalagi jiwa dan rasa kemanusiaanku. Yang aku tahu, aku hanya ingin menjadi yang terkuat, ingin menguasi semua unsur kanuragan.

Tasawuf Sore

Aku pandangi daun layu itu, beberapa menit kemudian, angin sore menghempaskannya. Jatuh, semacam gembira menyambut hempasan itu, daun layu itu mengayun indah  lambaiannya. Daun itu telah menemukan dunia yang lain. Rohnya seakan menyapaku “Jasadku tak indah lagi, dulu sedap dipandang karena hijaunya, sekarang, jasadku perlahan melebur, menyatu dengan tanah. Tapi dia tak mati secara hakikat, karena hancurnya pun masih memberi arti bagi kehidupanmu”. Aku pandangi kembali daun yang telah gugur, perlahan lenyap karena debu yang menutupinya.

Kuhadirkan tanya tentang diriku sendiri. Darimana aku, untuk apa, dan akan kemana? Sekiranya daun yang telah menghilang itu kutanya tentang hal itu, pasti jawabnya dari dahan-dahan pohonlah aku berasal, untuk memberikan makna kepada tumbuhan itu, dan ketika aku mati, aku masih bisa jadi humus. Aku yakin itu jawabnya, tapi apakah aku bisa menjawab seandainya daun itu bertanya balik kepadaku? Aku tak tahu, kini aku menghilang dari dimensiku yang lain. Aku mengembara

Seperti pesan Descartes, Cogito Ergo Sum “Aku berpikir, maka aku ada“. Kembali kuterawangi ayat-ayat alam, aku ingin membacanya, kemudian temukan makna, mungkin disana kutemukan jawab tiga pertanyaan tadi. Darimana, untuk apa, dan akan kemana? Pesan seorang alim kepadaku kala pengembaraan baru kumulai “Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenal Tuhanmu“. Tak lama berselang, sejenak kuhentikan perjalananku, aku berteduh di bawah rimbun pohon kehidupan, datang seorang cendekia dan memberiku jelas “Dan pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang merupakan tanda-tanda bagi orang yang beriman“. Aku belum sempat bertanya lebih dalam, cendikia itu berlalu. Semakin bingung, sedang jalan didepanku bercabang, aku ambigu menetapkan arah.

Pesan Guruku

Setiap manusia adalah guru, setiap tempat adalah madrasah, dan setiap peristiwa adalah pembelajaran” (Ali Syariati)

Tak terasa sudah 21 tahun aku mengenyam dunia pendidikan formal, 9 tahun di kampung, selebihnya di “Kota Daeng” hingga sekarang. Jenjang pendidikan formal sudah kulewati, kecuali TK atau PAUD. Mungkin karena tidak pernah jadi murid TK dan PAUD, aku tidak tahu menyanyi atau menggambar binatang, hanya menggambar jaringan instalasi listrik dan jalur elektronika di PCB yang aku bisa. Peralihan jenjang itu tentunya menyisakan kisah-kisah yang begitu cemerlang, bukan berarti tidak ada cerita suram di dalamnya. Ada, tapi ingatanku sekarang tidak bisa merabanya terlalu sensitif.

Setiap jenjang punya cerita, ibarat pepatah “lain lubuk, lain ikannya”. Kali ini aku hanya ingin berbagi pesan dari sekian banyak orang yang kuanggap guru, entah guru secara formal seperti yang ada didefenisi UU Guru dan Dosen, ataupun guru informal sebagaimana defenisiku sendiri, seperti kata Ali Syariati “Setiap Orang adalah guru”. Semua guru yang telah memberi kesan mendalam sampai saat ini masih aku ingat.

Rabu, 17 April 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (III)

Sudah tak terhitung rentang waktu tak menyapamu. Sejak kemarin, ah… tidak, lebih lama dari itu. Aku lupa kapan terakhir menyampaikan salam rinduku, yang kutahu sekarang, aliran darahku telah membeku terlalu lama menanti kehangatanmu. Sayup-sayup simfoni dari negeri jiran “buih jadi permadani” menambah dalam lukaku. Luka karena kerinduan.

Frekuensi rindu ini mesti kufilter, entah kugunakan RLC atau Op-Amp Transistor, yang pastinya rindu ini harus punya Attenuation Band sehingga rindu ini tidak membunuhku. Kupilih Band Pass Filter sehingga frekuensi rindu ini dengan rentang tertentu untuk dapat menghajarku bisa kuatasi, kuberi redaman pada frekuensi rindu yang terlalu tinggi dan terlalu rendah, agar frekuensi rindu ini stabil.

Resistansi terhadap cinta yang lain mesti kuperkuat, dan itu berarti induktansi dan kapasitansi cintaku padamu harus kuperkuat pula. Aku harus melakukan ini malam, agar cemburu dan curigamu tak bersemesta, yang ujungnya, raga dan jiwamu yang terluka. Aku tak rela, lebih kupilih aku saja yang menderita karena hujaman rinduku padamu yang terus datang mendera, aku tak perlu mengelak atau menangkisnya.

Malam, sejenak aku terdiam, kupikirkan kembali laku diantara kita. Aku berharap tidak timbul reaktansi berlebihan karena perubahan arus atau tegangan hubungan kita yang yang diakibatkan kapasitansi atau induktansi yang berlebihan. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Minggu, 14 April 2013

Offside

Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur sekarang memperkuat  PERSSIN Sinjai, klub devisi utama PSSI, klub kota kelahiran saya, Kabupaten Sinjai. Saya beberapa kali bertemu dengan pemain TIMNAS ini, karena seringnya, kami bersahabat baik. Kami sering berbagi cerita, bahkan karena seringnya kami saling share, ternyata aku baru tahu bahwa Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur alumni La Mesia, sekolah sepak bola milik Barcelona FC, dan mereka pernah main bola sama skuad Barcelona sekarang. Messi, Pedro, Pique, Fabregas, dan Iniesta pernah menjadi teman bermainnya. Saya ingin berbagi rahasia kehidupan mereka yang tak pernah terungkap oleh media bahkan hanya saya yang tahu cerita mereka.

Mereke berdua bertemu ketika sama-sama memperkuat PSSI Timnas U-13, tahun 1999 lalu. Penampilan apiknya saat mengalahkan TIMNAS Spanyol U-13 di final piala dunia U-13 dengan skor 3-1, membuat pelatih junior Spanyol kepincut untuk mengembangkan bakatnya. Setelah pertandingan yang sangat bersejarah itu, mereka tidak kembali ke tanah air, malah keduanya ikut rombongan tim Spanyol. Di skuad muda Spanyol saat itu sudah ada pedro, fabregas dan peque. Karena Fabregas punya garis keturunan Bugis-Makassar, neneknya berasal dari salah satu kota di Sulawesi Selatan, Fabregas sedikit tahu bahasa nenek moyang, bahasa bugis, sehingga bisa klop bahasa dengan Zulkifli Syukur yang juga orang bugis, mereka akrab dalam perjalanan ke Spanyol.

Saat tiba di Spanyol, mereka diberikan pilihan untuk memilih klub apa yang ingin mereka masuki. Keduanya memilih La Masia di kota Katalunya. Di La Masia-lah mereka memperkuat kualitas permainannya, mereka dilatih oleh Pep Guardiola. Berlatih bersama dengan  Messi, Fabregas, Pedro, Iniesta dan Pique yang kini telah punya nama besar. Selama 6 tahun menimba ilmu, 2005 mereka baru meninggalkan La Masia.
Saat saya tanya kenapa tidak bertahan di La Masia, padahal ketika sukses di La Masia, peluang untuk masuk tim senior Barcelona FC sangat besar? Mereka cuma menjawab sambil sumringah, “Saya tidak bisa masuk skuad utama junior gara-gara saya pernah melakukan tekel keras kepada Messi bahkan Pedro pernah cidera parah gara-gara saya,he…”  jawab Zulkifli Syukur sambil tertawa.

“Saya beda kawan, saya tidak pernah melakukan kekasaran di lapangan, bahkan saya selalu menjadi midfielder utama. Yang membuatku harus angkat kaki dari La Masia karena anak Pep Guardiola saya kencani, bukan hanya itu, adik Carlos Puyol ingin segera saya nikahi, daripada berbuat masalah, mending saya kembali ke tanah air” tegas Ahmad Bustomi, saya melirik Zulkifli Syukur, ada anggukan mengiyakan, memastikan bahwa perkataan Bustomi bukan rekaan.

Dalam hatiku berkata “Payah memang kalian, peluang menjadi pemain besar kalian sia-siakan karena tidak mampu mengontrol emosi dan syahwat”. Sekarang kalian semua tahu rahasia terbesar Ahmad Bustomi dan Zulkifli Syukur, kalau nanti ada berita besar menyangkut keduanya, berarti itu saya yang membocorkannya. Tak perlu kuatir, karena saya seorang pengacara sekaligus Kepala Daerah, saya adalah Bupati Kabupaten Sinjai.
**************
Note: Cerita di atas sekedar hayalan dan hasil imaji penulis saja, kuletakkan maaf yang sebenar-benarnya jikalau ada yang tidak berkenan fiksi di atas, salam damai selalu!

Dari Binjai ke Sinjai Ada Cinta

Alhamdulillah, hari ini sukses menuntaskan proposal, pak Dr. Andre Taulani, M.Pd sudah melabuhkan tandatangan di lembar pengesahan proposalku, berarti saya hanya butuh tandatangan pak Prof. Dr. Tantowi Yahya, M.Pd, untuk bisa seminar proposal. Mesti bersabar, karena saya dapat info kalau pak Tantowi sedang sibuk di luar kota bahkan ada kabar bahwa hari kamis nanti, beliau di kota Binjai. Hari yang damai.  Sedamai adzan dhuhur yang mengalun syahdu.

Baru saja aku menikmati makan siang di warung prasmanan dekat kampus, tiba-tiba HP-ku berdering. Kulihat nama pemanggilnya, KETUM PB XXX, segera kuangkat. “Waalaikumussalam, ada apa mas?” seketika kujawab salamnya, “Mas Firman, pengurus PB memberikan mandat ke mas Firman sebagai pemateri Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan di Binjai, Kamis nanti. Jangan ada kata tidak bisa, sami’na wa ata’na!” Tegas Ketua. Kalau sudah begini, tidak ada laku dan pikir lagi selain berkata “Insya Allah siap mas”. Aku mengiyakan berarti saya harus segera ke Jakarta. Kuputuskan berangkat setelah shalat sore. Sesama pengurus PB, hanya saya yang berlatarbelakang evaluasi pendidikan, mungkin faktor ini teman-teman di PB memberikan mandat sebagai wakil PB di seminar itu. Terlintas dibenakku “Pak Tantowi hari kamis nanti juga di Binjai, momen yang tepat untuk minta tandatangannya sekaligus konsultasi lebih dalam lagi sekiranya bertemu”, sebuah sugesti positif.

Saat tiba di sekret PB, aku langsung melakukan verifikasi informasi. Ternyata betul, Seminar Nasional nanti saya satu forum dengan pak Tantowi. Subhanallah, saya tidak mengira ini akan terjadi. Aku mencubit paha kananku, ternyata tidak sakit, berarti ini bukan mimpi. Kupandangi kembali undangan itu, disana ada nama yang selalu menghiasi “Ruang Imaji”-ku, Oki Setiana Dewi (OSD) jadi pembicara tamu. Segera aku sujud syukur, tidak lama lagi aku bersua dengan bidadari mimpiku. Terima kasih Tuhan!

Black Story Ujian Nasional

Sesuai dengan kalender pendidikan di negeri ini, tanggal 15 April hingga 18 April 2013 akan dilaksanakan Ujian Nasional (UN) untuk SMA dan sederajat. Hiruk pikuk pra UN begitu terasa, ada siswa yang adakan do’a bersama, syukuran, ada yang ke panti anak yatim, bahkan yang parah pun ada, ke dukun minta wangsit. Siswa yang biasa-biasa saja, siswa yang berprestasi, hingga siswa yang berstatus selebriti pun berwara-wiri dalam dunia ketidakpastian. Begitupun yang dialami dua artis muda, Nikita Willy dan Tasya. Sore ini, mereka diliputi kegundahan tingkat dewa.

“Sya, gimana kabarmu?” Nikita menelpon via BB, sahabatnya sesama artis, Tasya. Persahabatan mereka begitu dekat, selain karena predikat artis yang disandangnya, sejak kecil mereka berkawan. Mereka saling support dalam segala hal, walau Tasya lebih dulu mengorbit di alam keartisan, tapi hubungan mereka hingga sekarang masih akrab. Mereka asyik curhat tentang UN, bahkan kadang sedih lahir dari percakapan via BB itu. “Sya, gimana kalau kita ke rumah Eyang Loe” Ide Niki diiyakan oleh Tasya, mereka bersepakat malam ini tidak pergi bermalam minggu dengan pacar masing-masing, keduanya memilih datang mengikuti pengajian Eyang Subur, Kakek Tasya. Sekitar jam 8 malam, keduanya sudah ada di pedepokan Eyang Subur.

Pedepokan Eyang Subur dari luar biasa-biasa saja, tapi dalamnya, sangat luar biasa. Bukan faktor ornamen atau dekorasi, bukan pula fasilitas dan desain interiornya, tapi yang membuat luar biasa karena orang-orang yang duduk bersila di ruangan itu,bukan orang biasa, tapi orang yang punya nama besar. Banyak artis dan bebeapa orang pejabat yang ikut dalam pengajian malam itu, pantas saja Nikita kewalahan waktu mau parkir mobil.

Sabtu, 13 April 2013

Detektif Luna

Kasus Raffi Ahmad  (RA) yang berlarut-larut, belum menemukan titik terang. Pertarungan sengit antara BNN dengan tim pengacara RA memasuki medan perang yang lebih kompleks. Ibarat pertandingan tinju, babakannya sudah melewati babak 10, menegangkan. Langit Queen (LQ), ibu RA semakin galau melihat perkembangan anaknya. Bersama Desy Riani (DR), mencoba menyelidiki kasus anaknya tanpa melibatkan pihak polisi dan BNN. Mereka ingin menyewa detektif swasta.

“DR, kasihan RA, sudah berbulan kasusnya belum tuntas. Gimana kalau kita usut sendiri?” Tanya LQ kepada adik sepupunya. “Bagus itu mbak, kita akan buktikan bahwa RA tidak ngeganja, tapi masa kita sendiri yang selidik mbak, kan kita tidak punya ilmu detektif mbak”  kalimat persetujuan meluncur indah dari bibir ranum DR. “Ha…, jelas bukan kita DR, kita cari detektif swasta, nanti kita bayar, seperti cerita-cerita di film lah.” Mereka pun bersepakat menyewa detektif swasta dan segera mereka mencari detektif yang bisa mereka pekerjakan, dan tentunya, mencari detektif yang punya prestasi.

Setelah masa transisi pencarian, atas saran dari Timur Pradopo(TP), teman sekaligus selingkuhan ibu RA yang seorang perwira polisi di Mabes POLRI, dipilihlah detektif yang punya nama besar di Jakarta, seorang wanita cantik yang juga mantan pejabat tinggi di POLRI, Luna Maya. Mereka pun berdua menemui Detektif Luna(DL), meminta kesediaannya menyelidiki keberadaan ganja di rumah RA. DL sangat ramah menyambutnya, diskusi pun berjalan lancar, dan DL bersedia membantu menyelesaikan kasus RA.

Para Ninja Ngebelet Fan Fict

Seperti biasa di perkampungan Konoha, sehabis latihan sore, para ninja chunin dan ninja lainnya beristrahat. Ada yang yang baca buku seperti kakashi atau sekedar latihan melempar pisau, atau asyik antri di depan toilet. Di Konoha, saat itu hanya punya empat toilet, ratusan ninja kalau mau mandi, mesti antri, tidak jauh beda dengan supoter timnas yang mau beli tiket TIMNAS vs AC Milan Glory. Mungkin APBN Konaha pada saat itu lagi miskin karena diserang oleh gank Akatsuki, pemasukan dari pajak parkiran dan penyewaan ninja untuk melindungi tanah kawasan konflik tidak ada, jadi pembangunan toilet tidak menjadi prioritas utama pada masa itu. Apalagi konflik internal di Konoha, mengharuskan hokage pada saat itu melakukan rekonsiliasi dan mengharuskan para ninja menandatangani pakta integritas.

Naruto termasuk dalam antrian itu, dengan jiwa tidaksabarnya, memaki-maki segala ninja yang juga antri. “Saya ini calon hokage,kalian mesti hormat padaku, kalau tidak, kebobrokan kalian aku buka selembar demi selembar”. Suara besarnya beserta ancamannya terhenti kala melihat Sasuke. “Kapan kau datang sodara, lama tak jumpa”. Sasuke hanya diam saja.

(enam jam yang lalu) Sakura berhasil membawa pulang sasuke, setelah pertarungan yang sangat melelahkan. Sebenarnya Sasuke bisa mengalahkan Sakura, hanya karena cinta yang masih terpendam di hatinya, dia tidak rela kekasihnya akan menderita. Tak ada pemenang saat itu, akhirnya Sasuke dan Sakura main hom-pim-pa, dan Sakuralah pemenangnya, dan sasuke merelakan dirinya ke Konoha.

“Anjing kudel,kamu bisu ya? ayo kita bertarung” tantang naruto kepada sasuke. “Maaf bro, saya haus, tadi saya singgah di warung, tidak ada teh gelas dan pepsi, hanya ramen dan air gelas doang” jawab sasuke penuh damai. “Alasan kau, ayo kita bertarung, cukup 2 jurus saja, kalau aku kena pukulanmu, aku kalah,gimana mas bro?”keberanian naruto begitu membara seperti kasus Simulator SIM yang terus memanas, membakar beberapa jendral yang ada di POLRI. Sasuke menerima tantangan, perkelahian tak terelakkan, sudah lebih 2 jurus, tak ada satupun yang masuk pukulannya. Tiba-tiba datang Kakashi melerai “berhenti, kalian itu seperti BNN dan pengacara Raffi Ahmad saja. Lebih baik kalian ikut Fanfict di kompasiana. Nanti saya ajar caranya”. Akhirnya pertarungan itu berhenti, naruto dan sasuke mengikuti pesan gurunya.

Sepanjang malam di Konoha hanya sepi yang menyelimuti, tak ada hiruk pikuk para ninja, tak ada bunyi senjata yang beradu. Di kelas ninja, Kakashi didaulat oleh hokage beserta ninja senior untuk mengajar fan fiksi. “Seorang ninja yang hebat, tidak hanya sekedar ahli memainkan senjata, terampil dalam jurusan kanuragan, jenius dalam strategi, tapi ninja harus juga cerdas memainkan kata. Kata adalah salah satu senjataku. Kalian harus camkan itu!” Kakashi penuh retorik membuka pertemuan itu.

“Bersyukurlah, karena Kompasiana menyelenggarakan even FanFict, setidaknya itu bisa jadi ajang aktualisasi diri kalian. FanFict itu sederhana, cukup menetapkan satu tokoh, entah selebriti, kawan-kawan kartun kita yang lain, politisi, bahkan kalau perlu Kage-kage dari negeri lain bisa kamu jadikan subjek ceritamu. Sederhanakan?”
“Sekarang kalian bisa memulai, nanti saya periksa satu-satu, satu jam kemudian saya kembali ke kelas. Ninja yang baik adalah ninja yang patuh pada gurunya” Kakashi segera berlalu dari kelas itu, dari dalam hati “waktunya baca novel Tere Liye “Ayahku (Bukan) Pembohong”". Tadi pagi, Kakashi dapat kiriman novel dari sahabatnya dari Indonesia, Jaka Sembung.

Kini, para ninju sibuk membuat fanfict seperti para kompasianer yang lagi galau menemukan ide tulisan.

Jumat, 12 April 2013

Salam Sore Padamu yang Tak Sempurna

Aku tahu. Panas terik mencipta suasana sendu, semangat melayu. Mataku meredup memandangmu, bukan karena kamu payah atau tak punya pesona lagi, tapi lelah menderaku menanti jawabmu. Aku linglung, bingung hingga semaput menyelimuti raga.
Beberapa tanda telah kukirim, signal telah kupancarkan dari stasiun hatiku. Pemancar transimetter telah kutegakkan, sekiranya gelombang rasaku sampai di terminal receiver-mu. Itu harapku, sekiranya carrier yang menujumu tidak ter-interferensi, kuyakin kamu mampu menginterpretasikannya dengan baik. Tapi sayang, itu hanya imajiku, nyatanya kamu masih duduk diam bersemesta dengan kebisuan. Aku tak tahu, apakah antena directional yang kamu pakai atau omni atau tidak sama sekali. Ah…, sudahlah, hatiku dangan hatimu mungkin beda bandwidth dan besarnya gain frekuensi kita yang jauh berbeda. Sungguh, aku harus belajar lagi tentang cinta.
Aku tersesaki kehampaan. Pintaku pada sore, agar ada feedback darimu, namun tak kutemukan jua. Aku bergelimang keheningan. Kupelajari sekat-sekat beda yang ada diantara kita. Sekiranya kutemukan celah untuk menjamahmu segera, akan kupatahkan sekat-sekat itu dan kemudian kita berada dalam ruang cinta. Aku ambigu, bingung menentukan sikap, memilih amplitudo rasa yang kuperluas atau frekuensinya yang kuperkuat. Amplitudo kuperluas, itu berarti coverage rasaku tentangmu semakin lebar, dan kalau frekuensi kuperkuat, jarak menujumu semakin kupersingkat. Entah apa yang akan kulakukan. Aku terjebak.
Sore, senja akan menjelang. Indahnya lembayungmu perlahan berlalu, tapi kamu jangan risau. Besok aku masih tetap disini menunggu, siluet senja biar menjadi antara agar rindu tercipta. Salam sore padamu yang tak sempurna!

Kamis, 11 April 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna (II)

Aku tahu, sepi menyelimuti ruang kita. Seperti kemarin, engkau masih setia menyendiri, menawanku dalam ruang sunyi. Gelap membungkus pertemuan kita kali ini, sekedar berkaspun tak nampak. Suara yang biasanya merdu keluar dari bibir ranummu, kini tergelatak tak bernyawa, , menyisakan fatamorgana, tak berarti, meniada. Senyum yang selalu merona merah, kini memudar, tak ada garis parabola terlukis dipesonamu, kelabu, mengabur.
Malam, tak bisakah kau menyapaku sekedar bertanya kabar tentangku? Rentang waktu yang membujur kaku melintang dihadapan kita. Aku sadari, tak tahu yang terjadi pada dirimu malam, kamu rasakan senyap atau sumringah, aku tak tahu. Sendiri aku meresapi waktu. Tak ada kata terucap, tak ada jasad tergerak, bahkan jiwa pun berjalan pada frekuensi yang penuh dengan noise. Terdistorsi.
Ikhlas, mungkin sebuah kondisi yang mesti kujamah. Tak peduli mawar lain yang mempesona, tak peduli buah yang lain meranum, anggukanmu saat kupinta setia kala petang menyapa memberiku cahaya. Lambaian gemulai belah tanganmu saat engkau menuju pagi ke arahku, kumaknai sebagai pelepas dahaga rindu, yang paginya aku kehabisan aksara mengurainya. Mungkin selama ini kita terlalu telanjang dalam menjalani hubungan ini, perlu isolasi dan keterjagaan, tak terlalu dekat dengan medan listrik hiruk pikuk materi, dan kalau mampu, signal to Noise Ratio jalinan hubungan kita perlu ditingkatkan, hingga noise itu bisa kita redam. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Rabu, 10 April 2013

Salam Malam Padamu yang Tak Sempurna

Aku kelam, kucoba sapa malam. Saya ingin berbagi kisah bahkan mungkin kasih, tapi entah kemana ramahnya. Malam seketika diam saat kuhaturkan pinta untuk menemaniku. Kugerakkan jasad menghampirinya, tapi malam hanya bisa membisu. Diam dalam suram. Tanganku coba mengelus belai tubuhnya, malam tak memberikan respon, mungkin malam telah mati rasa, seperti aku, ketika pagi datang mematikan kata. Pagi aku kehabisan aksara, serupa malam yang telah mati rasa.

Kududuk diam pula, hadirkan tatap nanar pada malam, sambil kutopangkan dagu. Pandanganku menjamah seluruh tubuhnya, tak kutemukan cela. Sempurna. Seperti kemarin, kali ini aku masih mengaguminya. Kemarin masih sempat bercanda, bersenda gurau, saling melepas keluh. Mungkin malam sudah bosan berbagi denganku. Atau kami perlu istrahat sejenak dalam hubungan ini, mungkin perlu bagiku menapaki jejakku yang pernah kelam sekelam saat ini. Meresapi waktu yang mungkin pernah menyakiti malam. Entah, tak kutemukan pendar.

Aku semakin larut dalam lautan tanda tanya. Karena jasad telah tergerak dan katapun telah terucap, mungkin ini momen yang tepat untuk merekatkan jiwa pada malam. Jiwaku sekarang mendekatimu, mencoba menyapamu dari sisi yang tak mungkin kamu kira. Kataku dengan katamu tidak seirama, jasadku dengan jasadmu pun berbeda dimensi, tapi kuharap jiwamu dengan jiwaku berada dalam bandwidth frekuensi yang sama. Salam malam padamu yang tak sempurna!

Rabu, 03 April 2013

Sajak Sore

Kemarin pagi
Belantara kau hiasi api
Kini aksimu berganti
Gedung kokoh pun kamu tebangi
Seakan api telah menjadi teman sejati

Sore ini
Jejakmu masih berbekas
Ingatan ini tak pernah lepas
Amarahmu membuas
Seperti harimau yang mau menerkamku di lapangan luas
Kantor dan beberapa gedung kamu berangus
Serasa kamu ciptakan bumi yang tandus
Kau sisakan kenangan yang tak bagus

Malam nanti seharusnya aku tertawa
Kini kau gantikan airmata
Malam nanti seharusnya kamu yang menangis
Kini aku yang teriris pedis

Sore ini
Aku berusaha mengulung kembali
Layang-layang kenangan pahit yang kamu ciptakan
Akan kugunting benangnya yang kusut
Agar besok aku masih bisa berlari
Membawa layang-layang harapan mengangkasa
Memandangnya dengan wajah tak lagi kisut
Biarkan layang-layang bertemankan langit dan awan
Bukan kamu
Atau serupamu

Mencoba Beryukur Kembali

"Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apa pun yang kudapatkan."

Kata - kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukurakan senantiasa membebani kita.Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.....
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tetapi anda masih merasa kurang.
Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya.....
Tapi anehnya, ketika keinginan itu sudah didapatkan,kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tidak puas, kita ingin yang lebih lagi.Jadi betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi"KAYA" dalam arti yang sesungguhnya. Orang yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang kaya adalah orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh -boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa berbagai keinginan inilah yang menjadi akar perasaan tidak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan kurang berkecukupan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.

Aku Semakin Gagu

Air mata telah kukeringkan di atas sajadah
Ayat-ayat-Mu pun telah kulantunkan walau tak meriah
Hati terusik binar-binar sejuk suara-suara dari beberapa kafilah
Aku gagu menghadap-Mu karena diri lagi berpasrah

Do’a itu kembali kuulang dan kuungkap kepada-Mu
Berharap cita dan cinta sudi menyatu dengan restu-Mu
Tak perlu kuhadirkan sedu sedan bahkan pilu
Karena tanpa kusebut, Engkau pun Tahu

Aku semakin gagu
Aku semakin gagu pada-Mu
Dari senoktah dosa membesar bersemesta
Hingga nalar menjalar mengira dan memupuskan asa
Menyangka tak ada lautan maaf dan Ampunan-Mu

Aku semakin gagu
Karena takut azab-Mu datang mengganggu
Menyetubuhiku hingga aku tak leluasa bersenda gurau
Menyatroni alam pikirku dan merampas milikku satu persatu
Aku semakin gagu menghadap-Mu

Tondongku…

Entah darimana aku harus memulai
Sejarahmu tak begitu menarik lagi untuk dibagi
Apalagi tak ada piranti yang bisa jadi prasasti
Berlalu begitu saja tanpa pesan yang berarti

Dua puluh tujuh raja telah bertahta
I Kahireng Towa Labasa pendahulu cerita
Karaeng Genda menutup segala berita
Kini tak ada lagi singgasana bahkan arti mahkota
Kerajaan atas namamu sudah tiada, menyisakan sedikit derita


Tondongku…
Derapmu menegakkan manifestasi Sinjai
Bersama Bulo-bulo dan Lamatti
Terikat utuh dalam Tellulimpoe nan berdikari
Warani, getteng, siri’ na lempu menjadi jiwa-jiwa yang begitu terpateri
Tak ada cela dan celah untuk tidak mengagumi
Riuh-riuh puji selalu ada dari wija-wijamu yang setia mengakui

Tondongku…
Walau nama besarmu tak sebesar Gowa-Tallo
Walau namamu tak semegah Luwu dan Wajo
Tetap engkau berarti bagiku dan dijalanku, jejakmu kokoh


Tondongku…

Ku harap kelak ada drama yang mengkisahkanmu
Atau sinarmu bisa seperti cerita babad jawa yang seru
Kalau tak bisa, setidaknya nusantara sudah mengenalmu
 



********
catatan:
Tondong merupakan salah satu kerajaan yang ada di Kab. Sinjai Provinsi SUL-SEL, bersama kerajaan Bulo-bulo dan Lamatti yang menghimpun dalam simpul Kerajaan TelluLimpoe.

Dunia Ini Sederhana

“Daeng, coto 2 mangkok, daging semua!” pesan Awal kepada pelayan di warung Coto Alauddin. Awal mencari tempat yang tepat untuk menikmati masakan khas Makassar itu. Bersama adiknya, Accang, menjadikan coto sebagai menu makan malam. Meja di sudut ruang warung itu menjadi posisi yang tepat, selain bisa menikmati coto, sekaligus bisa melihat live LSI, PERSISAM vs PERSIPURA. “Saya yang duduk disitu, mau ka nonton ki klub andalanku, PERSIPURA” ucap Accang dengan logat Bugis Makassarnya yang kental, berharap kakaknya bersedia pindah ke kursi yang lain, karena tempat duduknya membelakangi TV 24′ yang ada di warung itu.”Ah…, disitu saja kamu duduk” ketus Awal sambil memeriksa ketupat-ketupat yang akan disantapnya sebentar.
Tak lama berselang, 2 mangkok coto terhidang mesra dihadapan kakak adik tersebut. “Daeng, tambah bawang goreng dan daun bawangnya” sahut Awal kepada pelayan yang menyajikan menu coto tadi. Pelayan hanya mengangguk mengiyakan. Awal menikmati makanan kesukaannya ini,hingga merasa perlu menambah kuah yang sangat lezat itu. 5 buah ketupat menjadi saksi kebuasannya melahap coto. Berbeda dengan Accang, 2 ketupat dan tanpa menambah kuah melengkapi kepuasannya malam ini. Babak I PERSISAM vs PERSIPURA berakhir 0-0. Mereka pun segera berlalu, tapi sebelumnya Awal mengirim sms ke sepupunya agar datang ke kos main domino.

Penantian Itu….

“Assalamualaikum, selamat pagi!” Kumemulai menyapanya, berharap dari dia kudapat akurasi informasi. “Ya, ada apa kanda, bisa saya bantu” jawabnya dari seberang. “Sekedar saya mau menanyakan posisi Prof. Ahmad, kira-kira ada di kampus hari ini?” aku to the point menjabarkan tujuanku menelponnya, dari seberang terdengar jawabannya “Iya kanda, bapak lagi menguji di seminar proposal mahasiswa Prodi B”. “Ok, terima kasih atas infonya” ku tutup telpon. Beliau adalah asisten Prof. Ahmad, saya selalu menghubunginya ketika ingin berkonsultasi dengan Prof. Ahmad baik konsultasi tentang perkuliahan dan proposal thesisku.
Pukul 09.10, ku rapikan susunan proposal, baik yang sudah direvisi maupun yang sudah dicoret-coreti dosen pembimbing. Berharap hari ini lembar pengesahan bisa ditandatangani. Sebuah pengharapan terbesarku saat ini sejak memulai menulis draft proposal bulan Desember lalu. Imaji ku mengembara, memasuki belantara waktu, dan kutemukan aku sedang di sidang, ya, ku ingin segera disidang, sidang seminar proposal.
Bismillahirahmanirrahim, ku ayunkan langkah menuju kampus, segala pikir tercurah mengabdi pada harapan- harapan dan mimpi, dan lantunan zikirpun menuju-Nya, sekiranya ada mu’jizat datang, tak perlu lagi ada tanya dan kritikan dari pembimbing dan segera melabuhkan tandatangannya di lembaran pengesahan itu. Pengharapan elok nan indah, serupa petani mengharapkan kemuning padi, serupa mawar yang dinanti mekarnya, serupa pungguk merindukan bulan.
Ikhtiar dan do’a mesti beriring, pesan itu meraja dibenakku, bermahkota disinggasana nalarku. Tak sampai 10 menit, akhirnya aku berlabuh di kampus dan segera menjejakkan kaki ke ruang prodi di lantai 2. Ku lirik, ah…., professor tidak ada di ruangannya, biasanya beliau duduk sambil membaca sesuatu. Naluri membisiki jiwaku “Tunggu saja beliau”, dan dipersimpangan pilihan antara pulang kembali ke kos dengan tetap menunggu, ku tetapkan hati untuk menanti.

Cerita Dari Lantai 1

Sambil nonton bola Manchester City vs Chelsea di kamar kos, samar-samar perbincangan serius dari lantai 1.

"Kamu masih baru mengenal Makassar, tahu apa kamu dengan kehidupan disini?Janganlah kamu berlagak, disini tak seperti kampungmu." Prakkk, sesuatu berbunyi retak. "Kamu tak perlu pakai HP ini lagi, kamu hanya memeras orang tua mu di kampung sekedar membeli pulsa, kamu paksa orangtuamu memberikanmu uang asap, dan terakhir kamu tipu orangtuamu dengan uang apel. Kamu tahu, sudah lebih 10 tahun saya di kota ini, saya tak pernah berbohong pada orangtuaku" Nada marah suara laki-laki itu, terdengar jelas.

"Itu bohong, uang yang saya minta hanya kebutuhan kuliah" terucap juga kata-kata dari laki-laki yang lain, nadanya penuh ketakutan

"Ah..., masalah keluarga, tak perlu kudengar lagi" sambil kuperbesar suara tv tunerku dan dalam hati ku berkata "Aku, kamu dan kalian, masih sering menipu orang tua, kita sama saja"

Angan-angan Senja

Senja datang menjelang, menjadi garis pemisah sore dan malam. Indah memang, tapi nuansa itu tak menyisakan berkas di hati. Siluet jingga itu memburam dalam nanar netraku. Tak kutemukan indah. Rasa ini sudah bertahun-tahun meraja dalam singgasana hatiku. Pedih melepaskannya. Dian Sastro telah berlalu dariku, jalinan cerita yang pernah kami rangkai,putus. Berderai. Berserakan tak menyisakan sebutir zarrah kedamaian. Kepergian Dian Sastro telah memasung jiwaku, memenjarakanku dalam bui nestapa. Ah...., pahit.

Masa depan serupa permata, cahaya berkilau merasuki angan-anganku. Pendarnya pun kemilau dan silaukan hidupku. Sadar akan kehilangannya, memberiku cemeti. mencambukku untuk membangun kembali puing-puing harapan. Aku kembali tegak, serupa Monas yang akan jadi saksi ikrar Anas Urbaningrum. Bawahnya kokoh, atasnya cemerlang bak emas pelambang cinta yang murni.

Aku gempita, ibarat adzan maghrib yang akan segera melantun, merasuki nala-nalar sadar para insani,syahdu. Aku diperhadapkan dalam sebuah pilihan yang berat dan aku pun terjebak. Oki Setiana Dewi atau Fatin Shidqia telah menjadi pelipur laraku. Aku berat memilih, karena kedua bunga ini telah bermahkota di taman hatiku

Moral Tersungkur Mati

Moral tersungkur mati
Karena hidup ini seperti fatamorgana
Baik pun akan melahirkan aib dan cela
Salah pun berujung puji

Moral telah tersungkur mati
Nabi tergantikan selebriti
Kitab suci berdebu di lemari
Tiada lagi pesan para wali

Moral tersungkur mati
Pada insani yang memperebutkan kursi
Kawan dan lawan tak ada dalam kamus peduli
Kepentingan menjadi raja setiap hari

Moral tersungkur mati
Sahabat, saudara ataupun seluruh famili
Terlupkan demi gengsi
Raja itu bernama harga diri
Tapi ambigu dalam menetapkan nilai

Moral tersungkur mati
Pada Tuhannya pun tak sudi mengabdi
Pongah membanggakan diri
Dikira surga bisa dibeli

Ketika moral tersungkur mati
Kemanakah kita akan pergi?